SEGARAYASA SENTRA PENGRAJIN RAMBAK/KRECEK YOGYAKARTA

02 Jan 2008

Yogyamu

SEGARAYASA SENTRA PENGRAJIN RAMBAK/KRECEK YOGYAKARTA

Krupuk kulit atau dikenal juga dengan nama rambak atau krecek merupakan salah satu jenis makanan yang digemari di Indonesia. Yogyakarta yang terkenal dengan gudegnya telah amat lama menggunakan produk olahan dari kulit sapi dan kerbau ini untuk kelengkapan sajian gudegnya. Krecek merupakan bahan utama untuk membuat sambel goreng dalam komponen sajian gudeg. Rasanya yang kenyil-kenyil gurih sangat menggoda selera makan.

Salah satu sentra pengrajin krecek yang terkenal di Yogyakarta adalah di daerah Segarayasa, tepatnya di Dusun Segarayasa, Kelurahan Segarayasa, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Dusun ini sejak lama terkenal sebagai dusun pengrajin kulit untuk krecek, pengrajin tanduk, dan bulu ayam. Selain itu Segarayasa juga dikenal sebagai dusun pejagalan (pemotongan) kuda.

Jika kita memasuki dusun ini, maka akan segera tampak pelataran atau halaman-halaman rumah mereka dipenuhi oleh hamparan jemuran kulit olahan atau bahan baku krecek yang telah dipotong kecil-kecil dalam ukuran sekitar 1,5 Cm x 0,5 Cm x 2 Cm. Potongan kulit olahan ini dihamparkan pada sebuah tempat jemuran berbentuk persegi panjang yang terbuat dari anyaman bambu. Kadang-kadang jemuran seperti itu cukup diletakkan di halaman rumah yang telah diperkeras dengan semen. Akan tetapi pada halaman-halaman yang masih berlantai tanah, jemuran semacam itu diletakkan di atas dengan penyangga yang terbuat dari bambu, kayu, atau besi.

Menurut Bapak Yumar (55) yang telah menjalani hidup sebagai pengrajin krecek selama 15 tahun, bahan baku untuk pembuatan krecek yang paling bagus adalah kulit sapi dan kulit kerbau. Sebenarnya semua kulit hewan mamalia bisa dibuat krecek, namun tidak semuanya bisa menghasilkan krecek sebagus kulit kerbau dan sapi. Kulit kambing bisa dibuat krecek namun aromanya sangat tidak sedap (prengus). Kulit kuda dapat pula dibuat krecek namun hasilnya juga beraroma tidak sedap (wengur).

Dulu, di Segarayasa terdapat puluhan pengrajin krecek, namun kini tinggal kira-kira 15 orang saja. Demikian tutur Bapak Yumar yang dalam sebulannya mampu memproduksi krecek sebanyak 3 ton. Tiga ton kulit sapi atau kerbau jika sudah menjadi krecek matang juga mempunyai berat 3 ton, kecuali jika dalam proses pembuatannya mengalami berbagai kendala.

Kendala yang umum dijumpai dalam proses pembuatan krecek adalah jika jemuran calon krecek ini terganggu oleh hujan. Jemuran kulit calon krecek yang belum kering yang kemudian dimasukkan ke dalam rumah akan mengakibatkan potongan-potongan kulit tersebut saling melekat, atau dalam bahasa Jawanya disebut ‘nggembel’. Kulit yang sudah nggembel ini sangat sulit untuk dipisahkan dan dijemur kembali. Jika sudah seperti itu kulit bakal krecek tersebut tidak akan pernah dapat lagi menjadi krecek berkualitas baik. Calon krecek yang nggembel jika digoreng akan menghasilkan krecek yang keras (mbeling, tidak mekar).

Untuk satu kilogram kulit sapi dengan harga kulakan Rp 25.000,- dapat dihasilkan satu kilogram krecek dengan harga jual Rp 35.000,-. Jadi untuk satu kilogramnya dapat diperoleh keuntungan sebesar Rp 10.000,-. Jika dalam satu bulan satu produsen mampu memproduksi 3 ton krecek dari kulit sapi, maka keuntungan yang diperolehnya adalah Rp 10.000,- x 3.000 = Rp 30.000.000,-. Keuntungan sebesar itu tentu saja masih merupakan keuntungan atau laba kotor.

Sedangkan untuk krecek yang berbahan baku kulit kerbau dapat diperoleh keuntungan yang relatif lebih banyak. Hal ini dikarenakan kulit kerbau mentah per kilogramnya seharga Rp 40.000,-. Jika telah menjadi krecek maka harganya menjadi Rp 60.000,-. Jadi, ada untung sebesar Rp 20.000,- untuk per kilonya. Apabila dalam sebulan dapat dihasilkan 3 ton krecek dari kulit kerbau maka keuntungan kotor yang dapat diperoleh adalah Rp 20. 000,- x 3.000 = Rp 60.000.000,-.

Jika 15 orang pengrajin krecek itu dalam sebulan mampu memproduksi 1 ton krecek dari kulit sapi saja, maka keuntungan yang masuk ke wilayah Segarayasa ini ada sekitar 15 x 1.000 kg x Rp 10.000,- = Rp 150.000.000,-. Artinya masing-masing pengrajin akan mendapatkan laba kotor sebesar Rp 10.000.000,-. Jika dihitung secara kasar kemungkinan laba bersih per masing-masing pengrajin sekitar Rp 5.000.000,- per tonnya. Tentu, ini sebuah usaha yang cukup menjanjikan.

Krecek atau krupuk rambak merupakan hidangan yang mungkin bagi sebagian besar orang tidak bisa ditinggalkan. Krupuk kulit atau krupuk rambak dapat dengan mudah ditemukan pada hampir semua rumah makan padang atau soto kudus. Tampaknya krupuk rambak cukup klop dengan kedua jenis masakan itu. Sedangkan krecek tampaknya memang menjadi unsur atau komponen utama dalam pembuatan sambal goreng. Entah sambal goreng itu digunakan sebagai pelengkap hidangan gudeg, atau sambal goreng yang berdiri sendiri. Bagi Anda yang gemar dengan sambal goreng atau krupuk rambak, tentu akan merasa cemplang atau tidak lengkap jika pada saat menyantap soto kudus atau gudeg tidak menemukan jenis masakan yang terbuat dari kulit binatang ini. Jika Anda penggemar krecek atau krupuk rambak, Anda bisa datang ke Segarayasa untuk memuaskan nafsu makan Anda itu.

Foto dan teks: Sartono

Jakarta