PASAR PASARAN DI DESA-DESA DI JOGJA

10 Feb 2010

Yogyamu

PASAR "PASARAN" DI DESA-DESA DI JOGJA

Istilah pasar mungkin tidak lagi asing di telinga semua orang Indonesia. Namun pasar yang buka atau beraktivitas hanya pada hari ”pasaran” mungkin hanya akrab di telinga orang Jawa atau beberapa suku lain di Indonesia. Pasar yang buka di hari pasaran umumnya berada di desa-desa. Pasar yang buka hanya pada hari pasaran tersebut umumnya menempati lokasi yang cukup lapang sekaligus strategis di desa-desa yang bersangkutan. Lokasi tersebut bisa berupa lapangan, kebun kosong, perempatan atau pertigaan jalan, atau sebuah poros jalan yang cukup strategis di desa tersebut.

Hal yang menarik dari pasar yang buka di hari pasaran adalah bahwa hampir semua barang yang dibutuhkan masyarakat di sekitar itu disediakan atau dijula di pasar tersebut. Mulai dari tembakau untuk kelengkapan mengunyah sirih, klembak, menyan, gerabah, sisir, alat pertanian, sayur mayur, ikan, daging, jajanan, buah-buahan, hingga bebek, kambing, ayam, burung, bibit tanaman, dijual di pasar tersebut.

Bukan hanya itu. Di pasar-pasar yang buka hanya pada hari pasaran tersebut umumnya juga terdapat orang yang menjual jasa untuk perbaikan alat pertanian atau pisau, sabit, pacul, dan sebagainya. Tukang-tukang atau pande besi ini umumnya memilih lokasi yang sedikit berjauhan dari keramaian pasar. Biasanya mereka memilih tempat di bawah pohon-pohon rindang.

Pasar yang buka pada hari pasaran tertentu, yakni hari-hari weton dalam sistem kalender Jawa mungkin telah mentradisi sejak zaman kerajaan-kerajaan di Jawa berjaya atau setidaknya (mungkin) sejak Sultan Agung menetapkan sistem kalender Jawa. Pada sistem perhitungan atau penamaan hari tersebut dikenal nama-nama weton (hari) Wage, Kliwon, Legi, Pahing, Pon. Demikian terus berulang secara rotatif.

Hari pasaran Jawa ini digunakan sebagai patokan untuk memulai kegiatan pasar-pasar di desa-desa di Jawa. Jadi ada pasar yang hanya buka atau beraktivitas di hari pasaran Wage, Kliwon, Pahing, atau Pon. Setidaknya (untuk di wilayah Jogja) dikenal Pasar Cebongan yang pasaran di hari pasaran Kliwon, sedangkan hari pasaran pasar Sleman adalah Pahing. Pasar Godean akan kelihatan ramai dan sangat hidup di hari pasaran Pon. Demikian pula dengan Pasar Prambanan yang memiliki hari pasaran Pon. Dulu Pasar Kuncen di Kota Jogja yang juga dikenal sebagai pasar sapi akan kelihatan ramai dan hidup pada hari pasaran Pahing sehingga dulu dikenal sebutan atau istilah pahingan yang begitu akrab di telinga peternak sapi, kambing, maupun kerbau.

Umumnya pasar-pasar di desa di Jawa (Jogja) juga beraktivitas dalam kesehariannya. Akan tetapi aktivitas semacam itu tidak seramai dibanding hari pasaran ”resmi”nya. Pada hari biasa pasar-pasar tradisional tersebut umumnya hanya akan menyediakan aneka macam kebutuhan sehari-hari. Sedangkan pada hari pasaran resmi sesuatu wetonnya, pasar-pasar tersebut akan diserbu para pedagang unggas, kambing/domba, tukang jual obat, penjual benih tanaman, pande besi, penjual tembakau, dan lain-lain.

Satu hal yang menarik dengan adanya pasar-pasar tradisional semacam itu adalah akrabnya interaksi antara pedagang dan pembeli. Mereka bertemu di pasar dalam suasana seperti pertemuan antara dua teman yang lama tidak bertemu (setidaknya sepasar-5 hari). Ruang yang terbuka dan bersahaja menyebabkan mereka merasa tidak asing antara satu dengan yang lainnya. Tawar-menawar berlangsung cair dan hangat. Sekat antara pedagang dan pembeli nyaris tidak ada.

Boleh jadi tempat atau ruang di pasar semacam ini menjadi kelihatan semrawut dan kumuh. Akan tetapi barangkali, penampilan wujud fisik atau visual semacam itu tidak terlalu penting sejauh semuanya dapat beraktivitas dengan akrab dan nyaman. Lagi pula pasar pada hari pasaran semacam itu hanya berlangsung sehari (bahkan hanya setengah hari). Tentu tidak akan menjadi efektif jika kemudian dibuatkan tempat yang permanen. Maklum para pedagang, utamanya pedagang unggas, bibit tanaman, bakul jamu, pande besi, bakul tembakau hampir selalu berpindah pasar untuk menjajakan dagangannya sesuai dengan kalender pasaran (weton).

Menikmati suasana pasar yang hanya buka di hari pasaran di desa-desa tentu berbeda dengan menikmati pasar modern atau ultamodern semacam mall. Jika Anda berada di pasar yang demikian barangkali Anda akan merasakan bahwa semua orang di sekitar Anda terasa sebagai orang asing (bahkan mungkin mencurigakan dan mengesankan individualitas/egoisme mereka). Akan tetapi jika Anda berada di pasar tradisional semacam pasar desa yang buka hanya di hari pasaran tertentu Anda akan merasakan bahwa semua orang yang sebenarnya asing bagi Anda, namun akan terasa dekat dengan Anda. Tidak percaya ? Coba saja Anda sekali-sekali masuk dan menikmati suasana pasar desa di Jogja yang ramai di hari pasaran (weton) tertentu.

a sartono

Jakarta