Mencicipi Kehangatan di Titik Nol Yogyakarta

12 Jul 2013

Yogyamu

Mencicipi Kehangatan di Titik Nol Yogyakarta

Apa yang disebut sebagai Titik Nol di Yogyakarta mungkin telah menjadi salah satu ikon, tempat, atau wilayah yang digemari banyak orang. Bukan saja untuk duduk bersantai setelah berjalan-jalan atau belanja di kawasan Malioboro, bahkan juga dijadikan kawasan favorit untuk demonstrasi, orasi, serta arena pentas pertunjukan, dan sebagainya.

Di musim liburan seperti bulan Juli, Desember, dan hari-hari libur Titik Nol Yogyakarta bisa dikatakan penuh oleh pengunjung, difoto: Minggu, 7 Juli 2013, foto:a.sartono
Kerumunan pengunjung Titik Nol di saat liburan

Titik Nol Yogyakarta dapat dikatakan telah menjadi salah satu pusat untuk bersantai, tepat di jantung Kota Yogyakarta. Boleh juga Titik Nol, yang sesungguhnya merupakan ruang terbuka di sisi utara Kantor Pos Besar, di depan Gedung Agung (Istana Negara), di depan Monumen Serangan Oemoem, dan di depan Benteng Vredeburg, itu disebut sebagai semacam taman.

Pada sisi kanan dan kiri jalan di tempat itu telah ditempatkan kursi-kursi beton permanen yang mampu memuat puluhan orang. Pun ditambahkan kursi-kursi kayu dan penguat (pengunci) berupa plat logam. Ada pula pot-pot besar yang sekaligus juga dapat difungsikan sebagai kursi. Taman kecil pun ada di tempat tersebut. Beberapa pohon beringin dan tanjung memberikan andil keteduhan pada area itu sekalipun belum maksimal.

Titik Nol yang lokasinya bersisian langsung dengan perempatan besar dan menjadi akhir atau muara Jalan A Yani – Malioboro - KH Dahlan - P Senopati - Trikora ini menjadi tempat santai sekaligus titik temu banyak orang dari berbagai arus lalu lintas dari jalan-jalan tersebut. Alhasil setiap hari Titik Nol ini tidak pernah sepi dari kunjungan orang.

Banyaknya orang di tempat tersebut mengundang banyak pedagang asongan juga pada akhirnya. Terjadi semacam simbiosis. Pedagang membutuhkan pembeli, orang-orang yang bersantai di Titik Nol sering membutuhkan makanan dan minuman, bahkan souvenir yang mudah didapat serta dengan harga yang murah. Pertemuan pengasong dan pembeli di tempat itu menjadi klop.

Kursi beton di Titik Nol Yogyakarta memberikan fungsi untuk bersantai dan melepas lelah para pengunjung/pejalan kaki, difoto: Minggu, 7 Juli 2013
Sekadar melepas lelah dan bercengkerama di Titik Nol

Trotoar di Titik Nol juga dibuat unik. Pasalnya di sepanjang sisi trotoar dipasang pipa-pipa besi yang disusun berderet dengan jarak kurang dari 50 cm. Hal ini dimaksudkan agar jangan ada kendaraan naik ke trotoar atau diparkir di area terbuka Titik Nol. Hal seperti itu pada masa lalu memang pernah terjadi dan hal ini cukup menyita ruang serta mengganggu pejalan kaki serta orang yang sekadar ingin istirahat dan duduk-duduk di tempat tersebut.

Apa yang disebut sebagai Titik Nol di Yogyakarta mungkin telah menjadi salah satu ikon, tempat, atau wilayah yang digemari banyak orang. Bukan saja untuk duduk bersantai setelah berjalan-jalan atau belanja di kawasan Malioboro – A Yani - Beringharjo, bahkan juga dijadikan kawasan favorit untuk demonstrasi, orasi, juga terminal atau garis finish bagi aneka peristiwa budaya seperti karnaval, festival, kirab, serta arena pentas pertunjukan, dan sebagainya.

Pada galibnya Titik Nol telah benar-benar menjadi milik publik. Tanpa harus disuruh, dan diiming-imingi orang pun sering menuju Titik Nol untuk berbagai keperluan. Entah untuk bersantai, cuci mata, pacaran, berjualan, dan sebagainya. Pada sisi-sisi itu interaksi antarorang dengan berbagai latar belakang dapat berlangsung dengan sangat baik. Akrab, hangat, nyaman, ramah, dan saling menghargai.

Anda sedang berada di Yogyakarta ? Tidak ada salahnya Anda ikut menikmati suasana Titik Nol. Pada sore hari kawasan ini menjadi kawasan yang cukup “hangat”.

Titik Nol dengan setting bangunan lama Gedung Kantor Pos Besar, Bank Indonesia, dan BNI 46 menyuguhkan pandangan yang eksotik, difoto: Minggu, 7 Juli 2013
Kantor Pos Besar, Bank BNI 46, Bank Indonesia menjadi setting pemandangan
yang indah di Titik Nol

Ke Yogya yuk ..!

Naskah & foto: A. Sartono

Jakarta