MASIH ADA PRODUKSI WAYANG KARDUS DI JOGJA

13 Jan 2010

Yogyamu

MASIH ADA PRODUKSI WAYANG KARDUS DI JOGJA

Wayang yang terbuat dari kulit kerbau (binatang) mudah ditemukan di Jogja maupun Solo. Bahkan di kota-kota lain. Akan tetapi wayang yang terbuat dari bahan kertas (kardus) relative sulit ditemukan. Wayang jenis ini pada tahun-tahun 1970-an ke belakang masih sangat mudah ditemukan, terutama di kios-kios tiban yang sering bermunculan di pasar-pasar malam, tempat pertunjukan, atau tempat perhelatan dan sebagainya.

Dulu ketika televisi dan radio belum sebanyak sekarang, seni pertunjukan tradisional seperti wayang kulit, dan beberapa kesenian tradisional lain begitu marak di berbagai tempat, khususnya di Jawa. Dalam suasana seperti itu dunia wayang seolah menjadi satu-satunya hiburan sekaligus tontonan dan tuntunan bagi banyak orang. Mau tidak mau dunia wayang menguasai pikiran banyak orang mulai anak-anak hingga orang dewasa. Tidak aneh jika di zaman-zaman itu banyak orang yang hafal cerita maupun tokoh wayang di luar kepala. Dunia wayang juga menginspirasi banyak orang untuk bertindak, bertingkah laku seperti dunia wayang. Alhasil kerajinan wayang di zaman itu relatif hidup dan semarak dibandingkan zaman sekarang. Demikian pula dunia kerajinan wayang kardus yang pada masa itu konsumennya lebih didominasi oleh remaja dan anak-anak.

Seiring waktu dan kemajuan zaman, dunia wayang tergeser oleh berbagai bentuk kesenian dan hiburan lain. Wayang seolah tenggelam dalam dunia semacam itu. Pengrajin wayang banyak yang beralih profesi atau terpaksa merangkap profesi lain. Demikian pun pengrajin wayang kertas atau kardus. Wayang jenis ini mulai tidak laku di pasaran. Kalah dengan play station, internet yang menawarkan aneka game, kalah dengan HP yang bisa untuk internetan, kalah dengan televisi, hiburan di cafe-cafe, dan sebagainya.

Dalam kondisi yang demikian itu Panidi Mardi Raharjo (53) masih tetap bertahan pada profesinya sebagai pengrajin wayang kardus. Di kediamannya yang terletak di Dusun Tegalrejo, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Propinsi DIY ia masih giat memproduksi wayang kardus ini. Pemasarannya pun tidak lagi terbatas di sekitar Jogja, namun sudah merambah ke Kalimantan, Jakarta, Ponorogo, dan Klaten.

Panidi yang berputra 3 orang ini bertutur bahwa keahliannya dalam membuat wayang kardus didapatkannya secara otodidak. Hal itu terjadi karena sejak kecil ia memang sangat gemar menonton pertunjukan wayang. Kebetulan kakek buyutnya dulu juga seorang dalang meskipun tidak kondang atau populer.

Sejak duduk di bangku SMP Panidi sudah terampil membuat wayang kardus. Wayang dan lukisan wayangnya sering menghiasi majalah dinding di sekolahnya. Ketika pertama kali ia membuat wayang kardus secara otodidak tokoh yang dibuatnya adalah Raden Setyaki. Wayang buatannya itu kemudian dia bandingkan dengan wayang kulit sungguhan produksi Gendeng, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Ternyata profilnya sama. Hanya saja ukuran yang dia buat besar sekitar 2 Cm dibandingkan ukuran wayang kulit dari Gendeng.

Hingga kini Panidi masih tetap yakin bahwa wayang kardus yang dibuatnya akan tetap laku. Ia yakin bahwa masih ada banyak penggemar wayang kardus yang menyukai buatannya. Lebih-lebih untuk saat ini justru banyak sekolah yang mulai mengapresiasi kembali kesenian wayang. Itu suatu kesempatan yang baginya cukup menggembirakan. Menurutnya ia tidak akan berhenti membuat wayang kardus yang dibuatnya dengan bahan baku kertas jenis malga, cat minyak, beberapa pewarna lain, dan gapit (penjepit) dari bilah bambu.

”Murah, indah, dan terjangkau.” Demikian ia mengomentari hasil karyanya.

Untuk wayang putren (jenis wanita-kecil) ia memberi harga Rp 25.000,- per tokoh wayang. Sedangkan untuk jenis Brahala ataupun Kayon (Gunungan) ia memberi harga Rp 250.000,- per buahnya. Panidi bisa menyelesaikan wayang kardus jenis Kayon atau Brahala dalam waktu satu minggu.

Ponidi secara jujur mengaku bahwa dalam memproduksi wayang kardus ini ia menemui kendala besar yakni persoalan modal. Sekalipun demikian dalam proses kreatif atau proses produksinya ia merasa tidak menemukan kesulitan apa pun. Ia merasa sangat menikmati pekerjaannya itu.

Ada masa-masa bulan ramai dan bulan sepi bagi pemasaran wayang kardusnya. Bulan-bulan ramai itu adalah bulan Agustus. Sedang bulan sepi adalah ketika pendaftaran sekolah, ketika banyak orang melakukan aktivitas jagong atau menyumbang orang yang punya hajat (bulan Besar). Akan tetapi semua itu bagi Panidi dipandang bukan sebagai halangan, namun justru sebagai tantangan.

Panidi juga bergembira karena salah satu anaknya ada yang menuruni bakatnya membuat wayang, yakni anak sulungnya. Hanya saja anak sulungnya ini lebih senang membuat wayang brasak (tokoh antangonis) daripada membuat wayang dari tokoh protagonis. Panidi juga menyatakan bahwa wayang garapannya tidak beda jauh dengan wayang kulit sesungguhnya. Baik dalam cara menatah maupun menyungging. Anda tertarik mengkoleksi wayang kardus ? Datang saja ke rumah Panidi. Semua akan dilayani.

Foto dan teks: a sartono

Jakarta