Layang-layang Gaya Yogyakarta, Ada tapi Dulu

17 Oct 2013

Yogyamu

Layang-layang Gaya Yogyakarta, Ada tapi Dulu

Baik bentuk layanag-layang kuno (bentuk petani, wayang, sendaren, dan motif Mataraman) pada saat ini boleh dikatakan sudah sangat sulit ditemukan lagi. Layang-layang yang dijual di pasar atau toko kebanyakan juga tidak lagi menjadi layangan yang “muluk” (mudah diterbang-mainkan).

Suasana permainan layang-layang di Alun-alun Utara Yogyakarta, difoto: Senin, 7 Oktober 2013, foto: a.sartono
Suasana permainan layang-layang
di Alun-alun Utara Yogyakarta

Layang-layang merupakan permainan yang telah berusia sangat tua. Di masa lalu layang-layang yang dimainkan di Yogyakarta (Jawa) memiliki aneka bentuk dan asesori yang mencerminkan gagasan dan situasi kultural yang melingkupinya. Ada layang-layang berbentuk petani lengkap dengan capingnya. Ada layang-layang berbentuk wayang Gatotkaca. Ada pula layang-layang yang diberi sendaren (semacam peluit) yang dibuat dari daun aren muda.

Selain itu dikenal pula motif-motif gambar layang-layang khas Yogyakarta yang dikenal sebagai layang-layang gaya Mataraman. Baik bentuk layanag-layang kuno (bentuk petani, wayang, sendaren, dan motif Mataraman) pada saat ini boleh dikatakan sudah sangat sulit ditemukan lagi. Layang-layang yang dijual di pasar atau toko kebanyakan juga tidak lagi menjadi layangan yang “muluk” (mudah diterbang-mainkan).

Layang-layang produk sekarang bisa dikatakan sebagai layang-layang koden atau pabrikan yang cara memproduksinya nyaris minim pertimbangan atau perhitungan kekuatan daya tekan-dorong angin atas bodi atau tubuh layang-layang. Hal demikian dapat dicermati dari perimbangan “ragangan” (kerangka) layangan dengan bidang kertas dan benang yang merangkainya. Oleh karena itu pula layang-layang produk sekarang kebanyakan merupakan layang-layang yang “imbas-imbis” (tidak segera naik ke atas jika ditarik tali benangnya). Layangan imbas-imbis hanya akan berkutat, bergoyang ke kiri dan ke kanan tanpa dapat segera naik ke angkasa.

Dari sisi motif semakin minim yang bercorak Mataraman. Kalaupun ada nyaris tidak selengkap zaman dulu. Selain itu banyak anak atau orang sekarang yang tidak mengenali nama motif-motif tersebut. Motif-motif tersebut mungkin memiliki makna atau pesan tertentu di masa lalu. Namun kini hal itu semakin kabur dan sukar dimengerti.

Layang-layang modern dibuat dari kain parasut di Alun-alun Utara Yogyakarta, difoto: Senin, 7 Oktober 2013, foto: a.sartono
Layang-layang modern dibuat dari kain parasut di Alun-alun Utara Yogyakarta

Gaya ulur/sangkutan (beradu layang-layang) juga dikenal dengan istilah yang bermacam-macam. Ada gaya numpang (salah satu lawan menumpangi benang layang-layang lawan lain dari atas), nggodog (membawa lari layang-layangnya sendiri dimana layang-layang miliknya dengan benang layang-layang lawan sudah saling membelit), nyangga (melawan layang-layang lain dari sisi bawah), gombeng (pemain layang-layang saling mendekat sementara layang-layang mereka beradu ketangkasan dan kekuatan benang di angkasa). Ada pula gaya sangkutan yang disebut tangkep gula, kantil, kecekek, nglurug, dan sebagainya.

Dulu ada pula teknik “nggelas” benang layang-layang. Nggelas adalah membuat benang layang-layang menjadi tajam. Caranya dengan menggiling beling selembut mungkin. Umumnya beling yang digunakan adalah beling semprong lampu teplok karena terkenal ketajamannya dan mudah dihaluskan. Beling halus ini kemudian dimasukkan ke dalam adonan pati kanji (tapioka) sambil dipanaskan. Jika adonan telah mengental dan bening (tanda matang) benang yang telah digulung dalam sebatang kayu atau batu dimasukkan. Usai itu benang diurut dan dikeringkan dengan menyangkutkannya pada dua batang tanaman secara berulang-ulang hingga gulungan benang habis. Benang gelasan yang telah kering siap diadu dalam ulur, sangkutan layang-layang.

Berikut ibi motif-motif layang-layang gaya Mataraman yang diambil dari buku Layang-layang Indonesia karya Endang W Puspoyo, Museum Layang-layang Indonesia, 2004. Motif-motif tersebut di antaranya: paju, encik-encikan, pupukan, cilacapan, kaosan, srengenge, kalungan sanggan, pajulu (paju telu), pajuro (paju loro), ndhas gentho, srutan, picisan, pupukan picisan, pajuro pupukan, blabakan, semarangan, kalungan sanggan plenthong, gula klapa, jalak uren, slendhang mata kero, kathokan, pajuro sanggan, pilisan sanggan, iket-iketan sanggan, mata kero, lawa, srempangan, dan kotangan.

Motif layang-layang gaya Mataraman, dari buku Layang-layang Indonesia, Museum Layang-layang Indonesia, Jakarta
Motif layang-layang gaya Mataraman

Ke Yogya yuk ..!

a.sartono

Sumber: Puspoyo, Endang W., 2004, Layang-layang Indonesia, Jakarta: Museum Layang-layang Indonesia.

Jakarta