JAGAL KUDA HANYA ADA DI JOGJA

02 Sep 2009

Yogyamu

JAGAL KUDA HANYA ADA DI JOGJA ?

Kawasan Segarayasa, Pleret, Bantul dikenal sebagai kawasan penghasil krupuk kulit atau krecek. Kecuali itu wilayah ini juga dikenal sebagai pusat penyembelihan atau pemotongan kuda. Barangkali pemotongan atau penyembelihan kuda di Jogja-Jateng hanya terdapat di Segarayasa ini. Ppemotongan kuda di Segarayasa ini ada di dua tempat. Salah satunya adalah milik Heru Nugroho (35).

Heru Nugroho menjalankan profesi pemotongan kuda ini karena meneruskan profesi almarhum ayahnya yang bernama Hadi Suprapto alias Lasiman. Kebetulan dari seluruh keturunan Hadi Suprapto hanya Heru Nugroho lah yang laki-laki sedang dua orang saudaranya semuanya perempuan. Usaha atau tempat penjagalan kuda milik Heru Nugroho ini tepatnya berada di Dusun Segarayasa I, Segarayasa, Pleret, Bantul.

Tempat penjagalan kuda milik Heru Nugroho ini mempekerjakan 4 orang jagal atau tukang potong. Di samping itu, ia juga mempekerjakan beberapa orang yang bertugas memotong dan menimbang daging dan beberapa orang pekerja yang bertugas memberi pakan dan merawat kuda-kuda yang akan disembelihnya.

Heru Nugroho yang telah berputra dua orang ini sejak tahun 1977 telah terbiasa melihat dan ikut membantu ayahnya dalam urusan penyembelihan dan penjualan daging kuda. Jadi, ia pun mahir memotong dan menguliti kuda serta memotong-motong dagingnya. Semua ilmu itu ia peroleh dari mendiang ayahnya. Untuk memotong satu ekor kuda hingga menjadi daging dang tulang Heru Nugroho hanya membutuhkan waktu sekitar 15-25 menit. Jadi untuk memotong dan menjadikan 2 ekor kuda menjadi seonggok daging dan tulang hanya dibutuhkan waktu sekitar 30-50 menit.

Seperti kebiasaan, pemotongan kuda yang dilakukan Heru Nugroho dilakukan setelah waktu shalat ashar. Hal ini ditempuh karena salah satu alasannya adalah waktu tersebut merupakan waktu yang relatif longgar, relatif tenang, dan suhu udara tidak terasa panas. Hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam daging dan jerohan umumnya telah habis terjual. Hal ini menjadi petunjuk bahwa daging kuda cukup diminati di Yogyakarta.

Menyembelih kuda bukannya tanpa resiko. Disepak kuda atau terinjak kaki kuda merupakan resiko yang sering dialami para jagal kuda. ”Jangan ditanya soal sakitnya. Kalau tidak percaya boleh dicoba sendiri. Bahkan salah satu karyawan saya pernah ada yang dibrakot ’digigit’ kuda di bagian wajahnya. Kulitnya sebagian mengelupas. Karyawan tersebut terpaksa diobati dan dijahit di rumah sakit.” tutur Heru Nugroho.

Umumnya daging-daging kuda ini diolah menjadi sate, tongseng, dan empal. Untuk masyarakat Yogya sate atau tongseng kuda sudah menjadi menu makanan yang umum. Bahkan banyak orang sengaja memburu daging kuda karena mereka percaya daging kuda dapat menyembuhkan sakit asma dan menambah vitalitas pria. Selain itu daginbg kuda juga rendah kadar lemak dan kolesterolnya. Banyak juga yang mencari otak kuda karena dipercaya dapat menguatkan otak. Bahkan banyak yang percaya bahwa otak kuda dapat digunakan untuk mengobati gegar otak ringan.

Kecuali rendah kadar lemak dan kolesterolnya, daging kuda bertekstur atau berserat lebih kasar dibandingkan daging sapi. Warna dagingnya juga cenderung lebih merah (tua). Aroma dagingnya juga berbeda dengan daging sapi.

Kulit dan tulang-tulang kuda pun ternyata juga laku dijual. Umumnya kulit dan tulang kuda ini dikirimkan ke pedagang atau pengepul dari Surabaya. Tulang-tulang kuda ini menurut Heru Nugroho digunakan untuk pakan ternak setelah digiling terlebih dulu. Berkaitan dengan produk dari kuda ini Heru Nugroho merencanakan untuk membuat abon daging kuda.

Kini harga daging kuda berkisar antara 49.000-50.000 rupiah per kilonya. Sedangkan untuk jerohan sekitar 25.000 rupiah per kilo. Umumnya daging kuda akan menemui pasaran yang ramai menjelang hari-hari raya terutama hari raya Lebaran. Bahkan tiga sampai lima hari setelah lebaran pun daging kuda masih banyak dicari. Sedangkan hari yang sepi untuk pemasaran daging kuda adalah pada saat bulan Sura.

”Keuntungannya tidak begitu banyak. Yang jelas cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga.” tutur Heru Nugroho tenang.

Kuda-kuda yang dipotong di tempat Heru Nugroho umumnya berasal dari Yogyakarta, Magelang, Demak, Boyolali, Kudus, dan Situbondo. Di belakang rumah jagalnya Heru Nugroho telah menyiapkan semacam istal atau kandang kuda dengan umbarannya. Istalnya mampu menampung lebih dari 60 ekor kuda.

”Peternak atau pemelihara kuda pada masa sekarang ini kian sedikit. Untuk itu saya perlu menyiapkan diri untuk menjadi jagal hewan lain seperti sapi atau kerbau. Usaha untuk ke arah itu pun tengah kami rintis.” pungkas Heru Nugroho, jagal yang bertubuh ceking ini.

a sartono

Jakarta