NGIRAS MAKANAN MODEL YOGYA TEMPO DULU

04 Feb 2009

Djogdja Tempo Doeloe

NGIRAS MAKANAN MODEL YOGYA TEMPO DULU

Istilah ngiras dalam masyarakat Jawa bukanlah istilah yang asing. Ngiras dapat diartikan sebagai membeli makanan dan memakannya di tempat. Sama seperti masyarakat sekarang yang jajan segala macam makanan di warung makan atau restoran dan memakan atau menyantap makanannya di tempat.

Gambar yang ditampilkan ini menunjukkan kebiasaan yang berlaku pada masyarakat Jawa masa lalu, termasuk Yogyakarta. Orang mendatangi penjual bubur, membelinya, dan memakannya di tempat. Jika diperhatikan maka akan tampak kesederhanaan dan kejadulan cara berpakaian orang-orang dalam foto tersebut. Pria-pria yang membeli makanan tidak ada satu pun yang mengenakan celana panjang atau celana pendek (kalaupun memakai celana tersebut tertutup oleh kain yang dikenakannya). Tidak ada pula yang mengenakan hem atau kaus. Semuanya mengenakan kain sebagai tutup atau pelindung bagian pinggang ke bawah. Tutup kepala berupa destar atau ikat kepala menjadi kelaziman di masa itu.

Bubur yang disantap mereka pun tidak ditempatkan ke dalam piring atau mangkuk. Bubur tersebut cukup diletakkan di atas pincuk, yakni wadah yang dibuat dari daun pisang dengan bentuk mengerucut di bagian bawahnya. Sendok pun tidak ada. Suru (sudu)-lah yang dipakai sebagai alat pengambil bubur dari pincuk untuk kemudian disorongkan ke dalam mulut. Suru adalah alat yang berfungsi seperti sendok yang dibuat dari sobekan daun pisang selebar kurang lebih 5 Cm yang kemudan ditekuk (dilipat) menjadi dua lipatan yang menyatu. Cara menggunakannya dengan sedikit mencekungkan bagian ujung (bagian lipatan) dan kemudian menyorongkannya ke dalam makanan untuk kemudian dipindahkan ke dalam mulut. Sederhana memang, tetapi sungguh alamiah.

Dalam foto ini tampak para pembeli makanan maupun penjualnya begitu menikmati aktivitas mereka masing-masing. Kesenangan atau kegembiraan yang tampak sederhana semacam itu mungkin tidak akan kita temukan lagi di zaman sekarang. Ngiras model zaman itu tidak memerlukan tempat yang permanen seperti model rumah makan atau restoran. Mereka cukup melakukannya dengan duduk ndhodhok ‘jongkok’ di pinggir jalan tanpa kursi atau alas apa pun. Tidak perlu piring, sendok, serbet, meja, atau air untuk kobokan. Usai makan pincuk pun dibuang begitu saja. Barangkali memang kurang higienis. Tapi itulah yang terjadi di masa lalu.

Kini wadah dan alat penyendok makanan telah digantikan dengan logam, kaca, melamin, stereofoam, dan plastik. Bahkan palstik telah menggantikan hampir semua peralatan termasuk wadah makanan dan minuman. Wadah yang terbuat dari plastic memang terkesan lebih bersih, praktis, dan cantik penampilannya. Namun plastic tidak dapat membusuk. Selain itu plastic ditengarai bersifat karsinogenik. Bahaya yang ditimbulkannya bukan hanya karena pencemaran tanah, namun juga senyawa kimianya meracuni tubuh dan memicu tumbuh kembangnya kanker. Ternyata yang jadul, yang berpenampilan ndesit, belum tentu kalah baik manfaatnya dibanding yang modern.

sartono
sumber: Europese Bibliotheek-Zaltbommel, 1970, De Javansche Vorstenlanden in Oude Ansichten, Amsterdam: De Bussy Ellerman Harms n.v.

Jakarta