Letusan Gunung Merapi Tahun 1930

25 Jan 2014

Djogdja Tempo Doeloe

Letusan Gunung Merapi Tahun 1930

Letusan pada tahun 1672 itu oleh orang Jawa dipercaya sebagai akibat dari rusaknya moral dan tatanan negara Mataram yang kala itu dipimpin oleh raja yang bernama Sunan Amangkurat I.

Letusan Gunung Merapi Tahun 1930

Berikut ini adalah foto Gunung Merapi ketika meletus tanggal 19 Desember 1930. Foto kondisi Gunung Merapi yang meletus kurang begitu jelas karena mungkin faktor alat, pemotret, studio foto tempat mencetak foto, maupun faktor kelemahan kemampuan cetak pada pencetak buku yang memuat foto tersebut. Gambar tanaman dan persawahan yang tampak berada di depan gambar gunung justru kelihatan menonjol, namun gambar gunung meletusnya justru agak kabur.

Sekalipun demikian, tampak bahwa kepulan asap dan debu menyembur dari puncak Gunung Merapi. Demikian pun awan panas yang terkenal dengan nama wedhus gembel tampak meluncur dari mulut Gunung Merapi pada sisi lereng kiri. Kondisi semacam ini tampaknya memang terus akan berulang bagi Gunung Merapi.

Letusan pada tanggal 19 Desember 1930 menimbulkan ribuan korban jiwa, sebagaimana dicatat dalam buku De Javaansche Vorstenlanden in Oude Ansichten yang menjadi sumber tulisan ini. Buku tersebut juga menerangkan bahwa letusan yang lebih buruk dengan korban jiwa yang lebih banyak telah terjadi pula sebelumnya, yakni pada bulan Agustus 1672.

Letusan pada tahun 1672 itu oleh orang Jawa dipercaya sebagai akibat dari rusaknya moral dan tatanan negara Mataram yang kala itu dipimpin oleh raja yang bernama Sunan Amangkurat I, yang bernama muda Tegalarum (1645-1677) dengan pusat keratonnya di Pleret (sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul).

Kerusakan dan kejahatan yang terjadi di Mataram ini dipercaya akan menimbulkan tulah atau bencana. Letusan Gunung Merapi tahun 1672 yang menimbulkan kerusakan dan korban jiwa hebat itulah yang dianggap sebagai tulah atau akibat dari merajalelanya kejahatan di Mataram.

Letusan Gunung Merapi yang dahsyat di tahun itu disusul dengan bencana kelaparan dan wabah penyakit yang tidak kalah hebat. Hal ini juga memunculkan kepercayaan bahwa Mataram akan runtuh. Kejatuhan Mataram Pleret di tangan Trunajaya pada tahun 1677 menguatkan kepercayaan dan ramalan itu.

Gunung yang ditengarai sebagai gunung paling aktif di dunia ini diduga juga telah menidurkan peradaban di Jawa Tengah (dan DIY waktu itu) pada kisaran abad ke-10 sehingga pada masa itu dikenal istilah pralaya.

Orang-orang zaman itu menganggap bahwa kiamat telah terjadi. Sebagian orang yang selamat dari letusan ini diduga berhijrah ke Jawa Timur sehingga kemudian dikenal munculnya peradaban baru di Jawa, yakni di Jawa Timur, pada permulaan abad ke-10.

Gunung Merapi yang menjadi batas antara Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu memang hanya satu. Letusannya yang berkali-kali dan dalam skala yang berbeda-beda telah banyak menimbulkan kerusakan dan kerugian materi maupun jiwa manusia.

Gunung itu menjadi sumber bencana, namun juga sumber berkah berlimpah. Keberadaannya telah menimbulkan kesuburan yang luar biasa bagi daerah di sekitarnya. Ia juga menjadi sumber penyedia material (batu, pasir, kerikil) yang tidak habis-habisnya. Demikian juga dengan debu vulkanik serta sumber airnya.

Gunung yang sangat aktif ini, karena kekuatannya dan segala kelebihannya, sering memunculkan rasa takut sekaligus pemujaan juga. Selain itu, juga memunculkan mitos dan legenda.

A. Sartono

sumber: H.J. Graaf, 1970, De Javaansche Vorstenlanden in Oude Ansichten, Amsterdam: De Bussy Ellerman Harms n.v.

Jakarta