Gillespe dan Jatuhnya Keraton Yogyakarta, 1812

18 Sep 2012

Djogdja Tempo Doeloe

Gillespe dan Jatuhnya Keraton Yogyakarta, 1812

Gillespe dan Jatuhnya Keraton Yogyakarta, 1812

Berikut adalah gambar (foto) dari Mayor Jenderal Sir Rollo Gillespe (1766-1814). Tokoh ini merupakan pemimpin pasukan Inggris yang menyerbu Keraton Yogyakarta pada bulan 20 Juni 1812. Ketika ia memimpin pasukannya menyerbu Keraton Yogyakarta ia masih berpangkat kolonel. Penyerbuan atau perang Inggris versus Yogyakarta ini lebih dikenal dengan nama Perang Sepoy atau Geger Spei karena peran tentara bayaran Inggris, Tentara Sepoy dari India.

Disebutkan bahwa ketika ia berhasil memasuki keraton (kedaton) Yogyakarta ia masih saja bersikap ganas dengan menebaskan pedangnya ke kanan dan ke kiri terhadap para prajurit Yogyakarta yang mempertahankan keraton. Padahal saat itu Sultan Hamengku Buwana II telah menyaipkan dirinya untuk menyerah. Salah satu hal yang dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwana II adalah dengan memerintahkan prajuritnya untuk memasang bendera (kain) putih. Mayjen Sir Rollo Gillespe ini juga menderita luka di lengan kirinya karena tembakan bedil dari pasukan Suronatan yang bersiaga di sisi barat pondok Srimanganti. Di pondok itu pulalah Sultan Hamengku Buwana II bersama pengiringnya menunggu acara penyerahan resmi. Dalam acara ini Sultan berasama keluarganya telah pula menganakan pakaian serba putih sebagai bentuk penyerahan diri.

Gillespe ini juga menolak permintaan Sultan yang ingin membawa serta senjata-senjata pusaka dari keraton ketika ia akan diasingkan. Semua benda itu disita oleh Gillespe. Bahkan Sultan juga dipaksa untuk menyerahkan keris pribadinya. Sultan dan kerabatnya pun digiring ke gedung karesidenan dengan diapit oleh serdadu Inggris dan Sepoy dengan pedang terhunus dan sangkur terpasang. Ketika rombongan Sultan dan kerabatnya ini memasuki Wisma Residen hanya segelintir pangeran yang berusaha beranjak dari kursinya untuk memberikan penghormatan. Pangeran-pangeran lainnya duduk pada posisinya masing-masing.

Sultan dan pendampingnya pun dipaksa untuk menyerahkan keris dan perhiasan emas milik mereka. Pedang dan pisau belati Sultan kemudian dikirimkan oleh Raffles kepada Lord Minto di Kalkuta, India sebagai lambang penyerahan menyeluruh Keraton Yogyakarta kepada Inggris. Bukan hanya itu saja. Bahkan kancing-kancing emas berlian pada jas (baju kebesaran) Sultan kemudian dicopot oleh para serdadu Sepoy yang bertugas sebagai pengawalnya tatkala Sultan tertidur di tempat tahanan sebelum akhirnya diasingkan.

Tampak dalam gambar itu bahwa Gillespe mengenakan seragam resimennya, yakni Resimen the 25th Light Dragoons (Resimen Dragoner Ringan ke-25). Tampak bahwa rambutnya gondorng (bukan model rambut plontos ala militer zaman sekarang). Demikian pula cambangnya tampak dipelihara cukup panjang.

Serbuan Gillespe ke Yogyakarta telah mengakibatkan jatuhnya Yogyakarta. Harta kekayaan kasultanan banyak yang dirampas. Demikian pula isi perbendaharaan perpustakaan keraton. Jatuhnya Yogyakarta pada sisi lain juga disebabkan oleh pertikaian intern kerabat keraton sendiri sehingga hal ini melemahkan kesatuan keraton. Pembelotan kerabat, pejabat, dan punggawa-punggawa yang berjiwa petualang serta oportunis menyebabkan keruntuhan keraton demikian cepat.

a.sartono

sumber : Carey, Peter, 2011, Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855, Jilid I, Jakarta: KPG bekerja sama dengan KITLV, halaman 383-390.

Jakarta