Hendrawan Nadesul Ingin Kembali ke Tembi

21 Aug 2014

Selain dikenal sebagai dokter, ia juga penyair. Sejak tahun 1970-an dia sudah menulis puisi. Dalam ‘peta penyair’ di Indonesia, Hendrawan tercatat sebagai penyair yang setia. Di tengah kesibukannya sebagai dokter, puisi tidak ditinggalkannya.

Hendrawan Nadesul di depan pagar Tembi Rumah Budaya, foto: Facebook Hendrawan
Hendrawan Nadesul, foto: Facebook Hendrawan

Hendrawan Nadesul, selain dikenal sebagai dokter, juga penyair. Sejak tahun 1970-an dia sudah menulis puisi. Dalam ‘peta penyair’ di Indonesia, Hendrawan tercatat sebagai penyair yang setia. Di tengah kesibukannya sebagai dokter, puisi tidak ditinggalkannya.

Pada acara Sastra Bulan Purnama edisi ke-35 di Tembi Rumah Budaya, 12 Agustus 2014, Hendrawan datang bersama dengan penyair lainnya dari Jakarta. Puisi karyanya masuk dalam antologi “Negeri Langit’, yang di-launching pada hari itu. Seperti penyair yang lain, Hendrawan tampil membaca puisi di Pendapa Tembi Rumah Budaya. Mengenakan kemeja dan celana serba putih, dia tampil santai.

Acara tersebut ternyata mengesan pada dirinya. Ia pun menuliskan kesannya berikut memajang foto dirinya di depan Tembi Rumah Budayadalam akun Facebook-nya. Berikut kesan yang dituliskannya dalam bentuk puisi.

Hendrawan Nadesul membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di pendapa Tembi Rumah Budaya, foto: Sartono
Hendrawan Membaca Puisi di Pendapa Tembi Rumah Budaya, foto: Sartono

PADA SEBUAH MALAM PURNAMA DI TEMBI 
Yogya 12 Agustus 2014 malam hari

Pertama kali merasakan suasana dusun selepas 
menyusuri jalan menuju Parangtritis, bernama Tembi
Untuk yang pertama pula merasakan Rumah Budaya Tembi
persis selagi masih purnama penuh. 
Ada sesuatu terasa mengusik di situ. 
Lebih dari keakraban bertemu dengan sahabat lama, 
mengenal sahabat baru, larut 
dan kemudian mencair untuk dijadikan kenangan.

Tembi menginspirasi beberapa sentuhan. 
Gagasan ingin mengumpulkan seluruh sahabat penyair se-Nusantara , 
suatu hari sebagaimana diutarakan sahabat Rahadi Zakaria. 
Bagaimana melakukan sesuatu untuk mengungkit 
agar puisi dan penyairnya lebih terangkat ke permukaan 
melihat masalahanya bagi bangsa.

Menyelamatkan kehidupan penyair saya kira 
setara dengan menyelamatkan nurani anak bangsa, 
dan mengukuhkan sebuah bangsa tetap sebagai 
bangsa beradab berbudaya. Kami penyair se-Nusantara 
yang tergerak ingin melakukan sesuatu, 
lebih dari hanya sekadar berbicara melihat 
ada pekerjaan besar yang perlu.

Untuk itulah ke Tembi kelak kami akan kembali. 
Salam puisi, Hendrawan Nadesul

Temen nan yuk ..!

Ons Untoro