Usaha Bali Mempertahankan Diri Melalui Sanggar Berusia 46 Tahun

05 Aug 2016

Betapapun General Manager Bentara Budaya Jakarta, Frans Sartono, mengingatkan bahwa Sanggar Dewata Indonesia (SDI) bukanlah lembaga eksklusif hanya bagi para seniman asal Bali, namun pameran lukisan bertajuk “You; Conversation” sangat menyiratkan identitas “Ke-Bali-an.”  

Mengambil lokasi di Galeri Bentara Budaya Jakarta, Kamis, 28 Juli 2016, pameran yang memajang lebih dari 30 lukisan karya seniman yang tergabung dalam SDI ini masih berkutat dengan simbol-simbol kultural Bali.

“Bali merupakan suku bangsa yang unik di Indonesia. Hampir seluruh masyarakatnya adalah seniman,” ujar analis keuangan sekaligus kolektor lukisan seniman Bali, Lin Che Wei, saat membuka pameran ini.

Maraknya simbol kultural Bali dalam pameran ini sekaligus menandai perjuangan SDI untuk tetap bertahan dalam gempuran modernitas. Menurut salah seorang perupa yang turut memajang lukisannya dalam pameran ini, I Made Arya Palguna, terjadi penyusutan regenerasi SDI. Padahal, SDI, yang berdiri sejak 1970, adalah wadah bagi seniman asal Bali yang menempuh pendidikan di Yogyakarta seperti I Nyoman Gunarsa dan I Made Wianta.

“Saat ini anggota SDI ada sekitar 150-an, namun sejak 2000-an terjadi penurunan (jumlah anggota baru),” ujar Made Palguna.

Salah satu karya yang tampak “sengaja” menunjukkan ke-Bali-annya adalah lukisan karya Ida Bagus Komang Sindu Putra yang berjudul Myth of Bali. Lukisan ini menggunakan teknik replikasi potret gadis Bali yang diambil dari arsip lama di Universitas Leiden, Belanda. Warna hitam-putih yang digunakan untuk lukisan ini seakan-akan menggambarkan sisi “kelam-terang” eksotisme Bali sebagai upaya untuk mengingat tradisi masa lalu.

Agus Putu Suyadnya, perupa lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta kelahiran Denpasar, Bali, 19 Februari 1985, menggunakan gajah sebagai tokoh utama dalam lukisannya yang berjudul “Jangan Khawatir Ada Aku Di Sini.” Gajah, yang merupakan salah satu simbol keagamaan Hindu, digambarkan sedang memegang pedang dengan baju zirah layaknya seorang prajurit perang. Dengan mengingat isu “tanah” yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi “konflik” di Bali, lukisan ini seperti ingin menegaskan bahwa “kesenimanan” adalah benteng yang akan melindungi pulau wisata internasional ini.

Meski demikian, seperti yang dikatakan oleh Made Palguna, lukisan dalam pameran ini juga menampilkan usaha generasi baru untuk memberikan penafsiran yang baru bagi Bali. Memang, sebagian besar pelukis yang turut dalam pameran ini berusia di antara 20-30 tahun.

Pelukis kelahiran 1988 seperti Made Panda Giri Ananda, agaknya tak memiliki kecenderungan untuk menyisipkan apa saja yang berbau Bali dalam lukisannya. Pada lukisan “Street Fashion,” misalnya, Made Panda menggambarkan konsumerisme dan modernisme dengan melukiskan tubuh perempuan mengunakan helm sepeda motor dengan dominasi warna gelap.

Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan adalah Yogyakarta sebagai titik kumpul bagi para seniman SDI. Meski mereka berasal dari Bali, status sebagai “mahasiswa rantau” di Yogyakarta adalah salah satu unsur yang turut membentuk SDI.

Ni Luh Pangestu mengungkapkan kegelisahannya atas pemanfaatan yang tidak pada tempatnya pada sebuah wilayah sakral dalam area Keraton Yogyakarta, Plengkung Gading. Dalam lukisan “Jerat Pelengkung,” pelukis berusia 24 tahun ini memamerkan lukisan cukil yang menggambarkan sepasang lelaki-perempuan sedang berpelukan sebagai kritik atas digunakannya Plengkung Gading sebagai lokasi mesum.

Selebihnya, pameran ini, seperti kebanyakan pameran di galeri terkemuka di Jakarta, diwarnai dengan hidangan gratis yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Tema “You” yang ingin disampaikan juga tak terlalu menonjol mengingat ada lukisan yang sepertinya ingin menampilkan self portrait seperti lukisan Pande Gontha Antasena di mana sang pelukis memasukkan wajahnya sendiri ke dalam ciptaannya.

Yang agak mengganggu mungkin pertunjukan musik yang mengiringi pameran ini. Panitia menyediakan sebuah gitar akustik dan mikrofon bagi para pengunjung yang ingin bernyanyi “seadanya.” Beberapa pengunjung menyanyikan lagu pop yang terlalu “pop” untuk pameran lukisan seperti ini: I Will Fly-nya Ten2Five dan Terlalu Manis-nya Slank.

Naskah dan foto: Ervin Kumbang

SENI RUPA