Pameran Seni Rupa “Matja” Menyambut Muktamar NU Ke-33 di Jombang

04 Aug 2015

Ada 50 pelukis yang mengikuti pameran tersebut, di antaranya adalah nama-nama pelukis yang sudah dikenal masyarakat, seperti: KH D Zawawi Imron, KH Mustofa Bisri, Nasirun, Agus Suwage, Najib Amrullah, S Teddy D, Agus Kamal, Samsul Arifin, dan Heri Dono.

Menjelang Muktamar Akbar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-33 di Jombang, Jawa Timur, pada 1—5 Agustus 2015, para pelukis Yogyakarta menggelar pameran seni rupa bertema “Matja: Seni Wali-Wali Nusantara” yang digelar di Jogja National Museum. Pameran berlangsung tanggal 27—30 Juli 2015. Ada 50 pelukis yang mengikuti pameran tersebut, di antaranya adalah nama-nama pelukis yang sudah dikenal masyarakat, seperti: KH D Zawawi Imron, KH Mustofa Bisri, Nasirun, Agus Suwage, Najib Amrullah, S Teddy D, Agus Kamal, Samsul Arifin, dan Heri Dono.

Karya seni rupa yang dipamerkan memenuhi beberapa ruangan lantai 1 Jogja National Museum, mulai dari karya seni lukis, instalasi, maupun keramik. Karya-karya yang disajikan ini untuk membuktikan bahwa karya Islam Nusantara, tidak hanya sebatas karya Islam yang berkiblat ke Arab saja, seperti Jafin, Nasyid, Hadrah, Al-Banjari, Kaligrafi, Khasidah, dan Qiroah Al Qur’an, tetapi Islam Nusantara lebih kompleks karena sudah berbaur dengan budaya setempat. Maka lahirlah budaya Islam Nusantara, seperti wayang purwa, wayang krucil, wayang golek, wayang thengul, kentrung, jemblung, genjring, jathilan, reog, debus, sintren, sandur, seni ukir, seni sungging, wafak, tatah, batik, tenun, sulam, tembang, macapat, si’iran, kidungan, ura-ura, gamelan, rebana, angklung, jidor, gambang, kendang, sastra suluk, serat, babad, carita, dan hikayat.

Tema “Matja” yang bernuansa Jawa diangkat karena terinspirasi dari konsep “Iqra” yang dalam bahasa Arab berarti bacalah. Membaca dalam konteks yang sangat luas. Singkatnya, dalam seni rupa arti kata “membaca” juga sekaligus “menulis” atau mengonsumsi sekaligus memproduksi makna, baik kognitif, ekperiensal, maupun praktikal. Membaca sebuah karya seni dengan membuang salah satu unsur tersebut dianggap akan mendistorsi dari seni rupa.

Respon para perupa terhadap spiritualitas Nusantara tersebut, adalah dengan melakukan transendensi terhadap simbol yang merepresentasikan tatanan kosmis yang suci. Melalui transendensi, seniman mengambil simbol tersebut untuk digapai dan ditafsir lewat lukisan. Contohnya karya seni rupa Nasirun berjudul “Matja Maning.” Ia menempatkan seniman Slamet Gundono tengah menafsir bintang-bintang jagad raya, dengan teks tembang berada di langit-langit.

Dengan demikian, Nasirun tengah menegaskan bahwa di Nusantara ini, spiritualitas dibagi secara adil dan merata, tanpa peduli kelas sosial, tanpa pandang modern atau tradisional, semua mendapat tempat yang sama dalam tatanan kosmis yang suci. Begitu antara lain yang dipaparkan oleh Faisal dalam Press release yang diterima Tembi.

Selain pameran seni rupa, juga digelar acara lain, seperti diskusi yang menampilkan pembicara Joko Elisanto, Dr Agus Sunyoto, Muhammad Al-Fayyadl, M Jadul, Prof Fan Jinmin, serta Prof Xia Weizhong yang digelar selama 3 hari.

Naskah dan foto: Suwandi

Pameran Seni Rupa “Matja” di JNM Yogyakarta, 27—30 Juli 2015, sumber foto: suwandi/Tembi
Pameran Seni Rupa “Matja” di JNM Yogyakarta, 27—30 Juli 2015, sumber foto: suwandi/Tembi
Pameran Seni Rupa “Matja” di JNM Yogyakarta, 27—30 Juli 2015, sumber foto: suwandi/Tembi
Pameran Seni Rupa “Matja” di JNM Yogyakarta, 27—30 Juli 2015, sumber foto: suwandi/Tembi
Pameran Seni Rupa “Matja” di JNM Yogyakarta, 27—30 Juli 2015, sumber foto: suwandi/Tembi
SENI RUPA