Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan: 17:71, Selera Mahal Kolektor Negara

09 Aug 2016

Ketika karya seni dipamerkan atas nama “negara”, maka peristiwa pameran karya-karya itu menjadi semacam “pernyataan resmi” yang menunjukkan bagaimana pemerintah menghadapi dan menghargai kesenian. Dan warga negara Indonesia adalah warga yang beruntung karena negaranya punya gairah dan cita rasa terhadap seni.

Namun, siapa yang berkuasa sebagai pemerintah bukanlah hal yang ajeg karena konsekuensi demokrasi dan pemilihan ymum. Pameran Seni Rupa Koleksi Istana Kepresidenan Negara yang bertajuk 17:71 ~ Goresan Juang Kemerdekaan di Galeri Nasional, Jakarta, menunjukkan dengan jelas perbedaan “kesementaraan” siapa yang berkuasa dan negara sebagai entitas tetap yang dipimpinnya.

Untuk kali pertama sejak Indonesia berdiri sebagai negara pada 17 Agustus 1945, masyarakat umum bisa menyaksikan secara langsung lukisan adegan penangkapan Diponegoro karya maestro Raden Saleh. Pemerintah melalui Kementerian Sekretariat Negara memilih judul “17-71” untuk pameran yang berlangsung pada 2-30 Agustus 2016 ini sebagai penghangat nuansa usia 71 tahun kemerdekaan Indonesia.

Andaikan tak ada kesadaran seperti yang dimiliki oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno, atau, andaikan presiden pertama bukanlah Soekarno, pameran ini boleh jadi tidak ada. Atau, mungkin digelar terlambat.

Meski lukisan tersebut kini menjadi lukisan milik “negara”, namun sebenarnya Soekarnolah yang mengoleksinya. Dengan kata lain, naluri Soekarno sebagai kolektor seni rupa, membuat generasi masa kini bisa menyaksikan warisan epos kemerdekaan sebagai nilai harga diri yang tersisa di tengah ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara saat ini.

Karya yang memberikan desiran “kemegahan” tentu saja lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” ciptaan Raden Saleh yang dipublikasikan pada 1857. Di dalam katalog, tulisan ini disebut merupakan versi lain dari peristiwa serupa yang dilukis oleh seniman Belanda, Nicholaas Piemanaan, yang berjudul “Penyerahan Pangeran Dipo Negoro kepada Letnan Jenderal HM De Kock, 28 Maret 1930.”

Jika Anda terbiasa menyaksikan replika lukisan “Perjamuan Terakhir” yang menggambarkan pertemuan terakhir Yesus dengan murid-muridnya sebelum penyaliban, maka lukisan Raden Saleh tentang penangkapan Diponegoro boleh jadi menggunakan cara berpikir yang sama. Berkat Raden Saleh, generasi masa kini bisa mendapatkan imaji visual tentang rupa dan sikap Diponegoro sebagai pejuang terakhir yang menandai berakhirnya Perang Jawa (1825-1830).

Namun, ironi juga terasa karena lukisan itu digambarkan sebagai peristiwa kekalahan sekaligus pengkhianatan, hal yang sebenarnya bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan perasaan seperti itu juga mencuat ketika menyaksikan lukisan berjudul “Awan Berarak Jalan Bersimpang” karya Harijadi Sumadidjaja.

Lukisan yang dibuat pada 1955 ini menggambarkan masyarakat di sebuah tanah lapang di bawah langit yang kelam dalam suramnya masa-masa revolusi pasca kemerdekaan. “Para penduduk kebingungan tak tentu arah, ada yang berjalan ke sana kemari seolah-olah tanpa kendali dan pemimpin. Ke mana mereka harus pergi?” tulis kurator pameran ini dalam katalog.

Secara umum, kualitas lukisan yang dipamerkan  menunjukkan bahwa Soekarno memiliki selera seni yang cukup mahal. Affandi, Basuki Abdullah, dan S Sudjono, adalah sedikit dari 22 nama besar (termasuk Soekarno yang menyelesaikan sketsa pelukis Dullah) yang berpartisipasi dalam pameran ini.

Namun begitu, pameran ini juga menghamparkan kesulitan menghadapi perkembangan waktu. Karena, bagaimana pun para pelukis generasi baru harus pula mencatat keadaannya untuk menandai sejarah. Dengan mendatangi dan menyaksikan pameran lukisan ini, sulit untuk tidak berpikir bahwa pelukis zaman kini harus bekerja ekstra keras untuk bisa menyandingkan karya mereka dengan kualitas dan kelas yang dimiliki seniman-seniman Istana ini.

Atau, mungkin ada banyak pelukis hebat yang beredar saat ini. Kebutuhan lainnya adalah pemimpin yang memiliki selera seni sebagaimana Soekarno mengajarkan penerusnya melalui koleksi warisannya.

Naskah dan foto: Ervin Kumbang

SENI RUPA