Pameran Drawing Wayang, Tanggapan Atas Dunia Wayang

27 Jul 2016

Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menyelenggarakan pameran Drawing Wayang pada 19 – 24 Juli 2016. Drawing Wayang yang dipamerkan di TBY merupakan bagian dari resepsi dan reinterpretasi atas wayang. Menautkan estetika gambar dengan seni wayang dengan demikian menjadi gagasan dasar dari pameran ini.

Secara bentuk wayang mempunyai karakter yang khas dan tidak bisa dilepaskan dari paradigma gambar. Ada dimensi-dimensi drawing dalam wayang itu sendiri. Baik itu mengenai fisik maupun ketika wayang itu dipentaskan. Konsepsi wayang sebagai bentuk permainan bayang-bayang (bayangan hitam) dalam kelir sebenarnya dapat diangkat sebagai sudut pandang drawing dimana ada objek, garis, bentuk, dan warna dalam bidang berwarna putih.

Pameran ini menampilkan 200 karya 70-an perupa. Banyaknya perupa dan banyaknya karya menyuguhkan aneka macam gaya, teknik, dan sudut pandang yang juga kaya. Ada yang menggambar seperti gambar-gambar konvensional pada umumnya. Artinya menggoreskan pensil di atas kertas sehingga membentuk gambar wayang. Namun ada pula yang menggunakan material kayu atau kanvas yang kemudian dipadukan dengan teknik drawing dan painting. Ada pula yang menggunakan tembok dan ubin/lantai TBY sebagai media kreasinya.

Dari sisi gagasan, cukup banyak perupa yang menggambar wayang secara relatif konvensional seperti gambar-gambar wayang pada umumnya, juga yang memadukannya dengan teknik lukis. Imajinasi dan gagasan mereka tampaknya masih terkungkung pada apa yang disebut sebagai pakem dalam wayang (kulit), sehingga tampilan gambarnya tetap menunjukkan sosok dua dimensi. Pun dengan bentuk karakter wayang yang sama dengan bentuk wayang di dunia wayang kulit. Pada sisi ini wayang kulit seperti dipindahkan begitu saja dari dunia pakeliran ke dunia kertas/kanvas.

Namun demikian, banyak juga perupa yang mencoba keluar dari apa yang disebut sebagai pakem atau mainstream jagad pakeliran wayang dalam kreasi karyanya. Eksperimentasi bentuk dan ekspresi wayang yang mereka lakukan pun menghasilkan tampilan drawing wayang yang tidak biasa. Kreativitas demikian itu tampaknya memang penting dan perlu untuk kehidupan kesenimanan agar tidak terjebak pada “yang itu” saja. Terkungkung dalam hal yang demikian barangkali memang hal yang menjadi tabu dalam dunia kesenimanan mengingat dalam jiwa seniman selalu ada desakan untuk berinovasi dan berkreasi.

Naskah dan foto: asartono

Gatotkoco (human being), 100 cm x 80 cm, pencil, drawing pen on canvas, karya Herjuna Mahendra, difoto: 20 Juli 2016, foto: a.sartono
Suasana pameran Drawing Wayang, difoto: 20 Juli 2016, foto: a.sartono
The Spirit of Nation, 100 cm x 80 cm, Pensil, Tinta on Canvas, karya Herini Setyaningsih, difoto: 20 Juli 2016, foto: a.sartono
War Baratayuda, 100 cm x 100 cm, pen, acrylic on canvas, karya Alex Dani Santosa, difoto: 20 Juli 2016, foto: a.sartono
Melayang, 90 cm x 40 cm, papan sket, Charcoal, pensil, pastel, karya Eko Agus Sk, difoto: 20 Juli 2016, foto: a.sartono
SENI RUPA