Memory of My Life dari Pupuk Daru Purnomo

29 Jun 2016

Ada hal yang selama ini menjadi masalah bagi hidup Pupuk Daru Purnomo, yakni perihal rasa sakit dan denging terus-menerus di rongga telinganya, serta gangguan pada penglihatanya. Ternyata setelah diperiksa hingga ke para dokter ahli di Singapura penyebab rasa sakit dan denging itu tidak diketemukan. Artinya, secara medis Pupuk dinyatakan baik-baik dan sehat-sehat saja.

Rasa dan masalah ini yang pada akhirnya menjadi alasan bagi Pupuk untuk berkegiatan-berkreasi, menumpahkan segala rasa sakit dan segala macam kenangan atau memori yang dikatakannya sebagai kelabu pada kanvas atau material lain sehingga mewujud menjadi karya seni yang luar biasa. Seperti kata dr. Oei Hong Djien, Pupuk memang harus bermasalah supaya bisa menghasilkan karya yang hebat. Orang yang tidak punya masalah biasanya memang tidak bisa melahirkan karya-karya yang luar biasa.

Justru karena gangguan penglihatan dan kesakitan yang kemudian diakrabinya, pengalaman yang kaya di balik semua itu kemudian dieksplorasi dan diperlihatkan di atas kanvas termasuk berbagai karya dan instalasi. Itulah yang dilakukan Pupuk dalam pamerannya di Galeri Gejayan, Mrican yang dibuka secara resmi oleh Laretna T. Adhisakti, Kamis malam, 16 Juni 2016.  Pembukaan pameran yang dilakukan bertepatan dengan peringatan HUT Pupuk yang ke-52 juga dhadiri banyak tokoh seniman, budayawan, dan akademisi. Pameran dilangsungkan mulai tanggal 16 Juni hingga 16 Juli 2016.

Ada lebih dari 30 buah karya ditampilkan oleh Pupuk dalam pameran yang diberi tema Memory of My Life ini. Sejumlah drawing Pupuk mengetengahkan berbagai pergumulan yang dihadapinya. Pergumulan berhadapan dengan berbagai nafsu yang ada di dalam dirinya. Nafsu kuasa, libido ketubuhan, nafsu berkata-kata, nafsu pencecapan, dan segala yang ada di dalam dirinya. Skets seri Seven, Iri, Tamak, Marah, Sombong, Rakus, Malas yang menjadi karya Pupuk seakan digambarkan dengan kehadiran sosok binatang tertentu. Demikian seperti ungkapan Dr. G Budi Subanar dalam tulisan kuratorialnya untuk pameran ini.

Manusia dibentuk oleh masa lalunya sebagaimana dihadirkan dalam sebuah karya berupa Tengkorak yang juga dipersandingkan dengan segelas air jernih yang mengingatkan nasihat etis “Urip Iki Mung Mampir Ngombe”. Hal ini mengingatkan akan kesementaraan hidup yang harus disikapi dengan kehati-hatian dan bijak.

Keterbatasan, kelemahan, sakit, penderitaan, kepahitan, masalah adalah hal-hal yang tidak terhindarkan dalam kehidupan masing-masing manusia. Pun dalam diri Pupuk DP. Sekalipun hal itu tidak tampak dan bahkan oleh kebanyakan orang cenderung disembunyikan atau ditutup-tutupi, namun bagi Pupuk DP justru diakrabi, bahkan mungkin dihayati sekaligus diberontak karena ia mau tidak terkungkung dan terkubur di dalamnya. Semuanya itu menjadi bahan mentah bagi lahirnya karya-karya Pupuk DP, baik itu disadarinya secara langsung maupun tidak. Tidak mengherankan pula jika Dr. St. Sunardi selaku Koordinator Galeri Gejayan menyatakan bahwa banyak karya Pupuk DP yang kelihatannya tema-temanya cukup menyeramkan. Mungkin karena tidak setiap pengalaman dan perjalanan hidup adalah manis dan indah.

Naskah dan foto: a. sartono 

Imajinasi Seksual, 146 x 110 cm, charcoal on canvas, 2013 dan Keseimbangan Hidup, 146 x 110 cm, charcoal on canvas, 2013, karya Pupuk Daru Purnomo, difoto: Kamis, 16 Juni 2016, foto: a.sartono
Belief, 89 x 46 x 41 cm, bronze, 2008, karya Pupuk Daru Purnomo, difoto: Kamis, 16 Juni 2016, foto: a.sartono
Kess van Dongen dalam Ekspresiku, 114 x 84 cm, oil on canvas, 2005, karya Pupuk Daru Purnomo, difoto: Kamis, 16 Juni 2016, foto: a.sartono
Tiga Wajah di Notredame, 89 x 52 cm, pastel on paper, 2003, karya Pupuk Daru Purnomo, difoto: Kamis, 16 Juni 2016, foto: a.sartono
Dark Memories, 230 x 167 cm, oil on canvas, 2015, karya Pupuk Daru Purnomo, difoto: Kamis, 16 Juni 2016, foto: a.sartono
Serah terima lukisan dari Pupuk DP kepada Laretna T. Adhisakti dalam acar pembukaan Pameran Senirupa Memory of Life di Galeri Gejayan, difoto: Kamis, 16 Juni 2016, foto: a.sartono
SENI RUPA