Beragam Tema dalam Satu Ruang

03 May 2016

Pameran seni rupa yang diberi tajuk “The Creative Powers of Art” ini tidak menyajikan tema khusus bagi perupa, melainkan membuka ruang seluasnya kepada para pelukis untuk berkarya sesuai pilihan temanya. Maka, di ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta, Jalan Sri Wedari 1, tampil beragam ‘suara’ dari sekitar 200 karya dari 145 dalam pameran yang berlangsung 5 hari, 28 April 2016 – 3 Mei 2016.

Karena terdiri dari banyak tema dan gaya, atau mungkin bisa disebut aliran, maka pameran itu menampilkan bermacam bentuk karya: realis, naturalis, ekspresionis, surealis, abstrak dan sejenisnya. Satu hal menonjol dari pameran ini adalah gairah berkarya dari para perupa begitu menggembirakan.

Karena menyajikan banyak karya dari sejumlah perupa, tentu kualitas karya beragam pula. Artinya, ada karya seni rupa yang memang, sebut saja ‘sudah selesai’ secara teknis, namun dari segi ide masih normatif. Ada juga karya yang secara teknis belum tuntas, sehingga ketika melukis sosok orang, si pelukis secara anatonis tidak menguasai, dan warna yang ditorehkan pada kanvas  cenderung menyala.

Melihat lukisan, selain melihat visual yang tampak, sebenarnya juga mengenali pesan dari visual itu. Ada jenis karya yang bisa gampang dimengerti, karena dari segi judul sudah bisa dipahami, misalnya karya yang berjudul ‘Nyai Roro Kidul’, tapi dari visualnya, tidak diketahui apakah wajah yang dihadirkan adalah wajah ‘Nyai Roro Kidul’ atau imajinasi pelukisnya mengenai sosok itu.

Atau juga karya yang berjudul ‘Perjuangan Belum Berakhir’ dengan visual seorang penjahit. Pada karya ini kita bukan hanya dihadapkan pada kisah kehidupan personal, tetapi imajinasi perjuangan kehidupan yang tidak pernah berhenti. Karya ini bisa kita dekatkan pada judul karya lain, yakni ‘Air Kehidupan’. Dari dua karya ini kita bisa mengerti akan perjuangan (kehidupan) yang tidak pernah berakhir untuk mendapatkan air kehidupan.

Karya-karya yang dipamerkan memang terasa tampak simpel dan sehari-hari, namun ada juga yang mencoba berbicara hal lain, menyangkut kerusakan lingkungan atau kekeringan dengan gaya surealis, setidaknya seperti karya Suranto yang diberi judul ‘Orang-Orang Suluk,’ atau karya Kelik Darminan yang diberi judul ‘Every Trees You Take.’

Sosok orang tua dengan wajah keriput sambil menghisap rokok yang diberi judul ‘Old Man’ karya Stefanus Sawung Rono memberi kisah lain, dari kisah sejenis ‘Perjuangan Belum Berakhir’, setidaknya melalui karya seni rupa kita bisa mendapatkan kisah-kisah yang dibayangkan, atau mungkin dilihat dan dialami perupanya.

“Karya-karya yang dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa Nasional The Creative Powers of Art sebagai bentuk ekspresi kekuatan energi kreatif para pelaku kesenian dari berbagai daerah di Indonesia,” kata Mahyar Suryaman, direktur  EduArt Forum, selaku penyelenggara pameran.

Ons Untoro

Old Man dan Air Kehidupan karya Stefanus Sawung Rono dipamerkan di Taman Budaya yogyakarta, foto: Ons Untoro
Nyi Roro Kidul, lukisan karya Sukma Aji dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta, foto: Ons Untoro
Perjuangan Belum Berakhir, karya Joko Prasetyo dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta, foto: Ons Untoro
SENI RUPA