ART|JOG|9, Berusaha Mewujudkan Sebuah Supremasi

17 Jun 2016

Yogyakarta merupakan kota dengan segudang aktivitas seni yang tinggi, salah satu perhelatan yang selalu dinanti yaitu  ART|JOG. Pameran seni rupa kontemporer yang terselenggara kali ke-9 ini akan berlangsung hingga 27 Juni 2016 di Jogja Nasional Museum. Selain menjadi barometer perkembangan seni rupa di Indonesia dan Asia, ART|JOG sekaligus menjadi salah satu tujuan wisata baru di Yogyakarta. Terbukti dari pengunjung yang relatif beragam, dari kalangan tua, muda hingga para seniman itu sendiri.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009, ART|JOG memberikan suasana yang selalu berbeda baik dari segi konsep maupun karya. Yang berbeda di tahun ini yaitu sebuah blower raksasa berdiameter 2,5 meter dan panjang 50 meter yang seakan siap menyambut kita saat akan memasuki ruang pameran. Setelah memasuki ruang pameran kita akan menikmati 97 karya dari 72 seniman yang telah tersusun rapi dari lantai satu hingga lantai tiga dari gedung yang dulu merupakan kampus Akademi Seni Rupa Indonesia ini. Peristiwa seni rupa yang berpusat di Yogyakarta ini lambat laun memiliki kekuatan untuk turut mewarnai dinamika dan ragam seni rupa di Indonesia.

Pada tahun ini ART|JOG|9 mengusung tema “Universal Influence” sebuah upaya untuk mengangkat atau menyorot berbagai wacana global, terutama tentang bagaimana kondisi-kondisi yang terjadi di dunia saat ini sehingga mempengaruhi kehidupan kita dan bagaimana hal itu bisa dimaknai bersama. Dalam berbagai narasi sejarah, setiap kerajaan atau negara yang memiliki kekuatan besar selalu berupaya menyatakan supremasinya dengan membangun monumen-monumen raksasa. Monumen tersebut tak hanya berwujud fisik, akan tetapi diwujudkan dalam bentuk penemuan maupun agenda-agenda kebudayaan. ART|JOG|9 kali ini berusaha mewujudkan bentuk pengaruh supremasi tersebut, yang secara simbolis diterjemahkan sebagai mercusuar yang sekaligus mencerminkan pengaruh universal.

Salah satu dari beberapa karya yang paling ramai dikunjungi yaitu ‘Street Talk’ karya dari seniman Eko Nugroho yang merupakan instalasi karya bordir. Karya tersebut merupakan sebuah kolase arsip foto yang dikumpulkannya saat melakukan perjalanan di berbagai negara. Arsip foto jalanan tersebut dipindahkan pada media tekstil yang dikerjakan dengan teknik bordir. Karya ini menangkap adegan sehari-hari yang bisa ditemui di jalan dan secara simbolis menggambarkan berbagai hal seperti kekerasan, cinta dan keluarga. Selain Eko Nugroho beberapa nama besar seniman seperti Agus Suwage, Djoko Pekik, Tirtarubi, Nasirun, FX Harsono dan Garin Nugroho turut pula berpartisipasi dalam memamerkan karyanya. Selain seniman dalam negeri, seniman dari beberapa negara seperti Jepang, Australia, Malaysia, Filipina serta Liechtenstein berkesempatan pula memamerkan karyanya dalam perhelatan ini.

Setelah puas melihat dan mengapresiasi karya seniman-seniman luar biasa yang berada di dalam gedung, saatnya keluar dan bersiap-siap disambut dengan pertunjukan dari beberapa kelompok musik. Uniknya, panggung pertunjukan tersebut dibuat menyerupai Kapal Pinisi lengkap dengan tiga tiangnya. Selain terlihat megah panggung tersebut merupakan simbol dan kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia.

Naskah dan Foto: Indra Waskito

ART|JOG|9, Berusaha Mewujudkan Sebuah Supremasi, 6 Juni 2016, Jogja Nasional Museum, Foto : Indra
ART|JOG|9, Berusaha Mewujudkan Sebuah Supremasi, 6 Juni 2016, Jogja Nasional Museum, Foto : Indra
ART|JOG|9, Berusaha Mewujudkan Sebuah Supremasi, 6 Juni 2016, Jogja Nasional Museum, Foto : Indra
SENI RUPA