Ada Titik-Titik Di Bentara Budaya Yogyakarta

05 Aug 2016

Berbagai macam titik bisa ditemukan di Bentara Budaya, Jalan Suroto No 2, Kotabaru, Yogyakarta, sehingga ada titik-titik di ruang pameran Bentara, yang menempel di Tembok, atau ditaruh di atas meja. Ttitik-titik itu berasal dari bermacam bentuk, misalnya kelereng atau kancing baju (benik, Jawa), ada juga dibuat dari pensil warna dan seterusnya.

Semua titik itu masuk dalam tema ‘Eksplorasi Titik’ yang dipamerkan pada 2-8 Agustus 2016 di Bentara Budaya Yogyakarta. Karya dalam visual titik itu merupakan karya kelompok difabel. Dalam kondisinya yang berbeda dari orang-orang lain, kelompok difabel ini menghasilkan karya seni rupa dalam berbagai macam bentuk.

Kelereng yang biasanya digunakan untuk mainan, karena bentuknya bulat, persis sepeti titik, maka benda itu dijajar di atas kertas, dan direkatkan dengan lem, sehingga kelerengnya tidak bisa bergerak. Kelereng itu dijajar seperti garis-garis, sehingga dalam kertas warna putih terdapat garis-garis dalam bentuk bulatan dari kelereng.

Hal yang sama juga bisa kita temukan, kancing baju, atau benik dalam bahasa Jawa, yang dijajar menyerupai garis, sehingga ada garis-garis bulat gepeng dengan warna-warna menyerupai lampu warna-warni.

Titik-titik dalam bentuk garis lurus, melengkung atau memanjang, atau juga mewarnai tubuh hewan adalah bentuk dari kreativitas dari anak-anak difabel, yang seringkali dilupakan atau dikasihani, tetapi pada dasarnya mereka memiliki kreativitas seperti anak-anak pada umumnya.

Beberapa difabel, misalnya mental retardasi, slow learner, tuli dan tuna daksa serta lainnya. Pada dasarnya memiliki kemampuan berkreasi, hanya saja seringkali ruang untuk itu yang kurang (atau malah) tidak tersedia. Dalam situasi seperti itu para difabel hanya bermain di rumahnya sendiri dan jarang berinteraksi dengan orang lain.

Tetapi begitu ruang tersedia dan pendampingan dilakukan, kemampaun kreasi itu muncul, dan jika dibiarkan berkreasi secara bebas, eksplorasi dari kaum difabel mendapatkan ruangnya. Karya seni rupa yang dipamerkan ini hanyalah salah satu dari sejumlah kreativitas yang lain.

Moelyono, yang menjadi fasilitator menggambar mengatakan, menggambar menjadi proses pembelajaran penguatan rasa percaya diri anak dan orang tuanya dengan bermain-main eksplorasi titik agar muncul sensibilitas berbagai pengayaan sudut pandang keindahan titik menggunakan percobaan berbagai bahan dan alat yang ada di sekitar rumah, yang gratis dan murah.

“Sampai tahap membuat titik, basis kegiatan pembelajaran menggambar adalah di rumah anak masing-masing dengan cara bergantian dari rumah ke rumah. Setiap anak adalah seniman, setiap orang tua anak adalah fasilitator, setiap rumah adalah pusat pembelajaran eksplorasi media gambar,” ujar Moelyono.

Melihat berbagai titik dalam bermacam bingkai, serta konstruksi yang beragam, serta gaya yang berbeda-beda, kita seperti diberi tahu, bahwa dari segi kreasi kaum difabel dan yang bukan sebenarnya tidak ada bedanya. Semua berkreasi menghasilkan karya.

Dari pameran eksplorasi titik  ini, kelompok difabel mendapatkan media ekspresi untuk mengolah potensinya, satu hal yang sebenarnya perlu untuk terus dilakukan, dan pemerintah memberi ruang serta fasilitas. Atau paling tidak pemerintah dalam menyusun anggaran ramah akan difabel, sehingga ada biaya yang dibuat dalam proses penyusunan anggaran. Sehingga bukan hanya ruang publik yang memberikan akses bagi difabel, penyusunan anggaran pun perlu memberi ruang.

Ons Untoro

 

Berbagai macam eksplorarasi titik yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, foto: Facebook: BBY
Berbagai macam eksplorarasi titik yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, foto: Facebook: BBY
Berbagai macam eksplorarasi titik yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, foto: Facebook: BBY
SENI RUPA