‘Operasi’ Gagasan dari Operasi

10 Aug 2016

Tajuk pamerannya ‘Operasi’, menampilkan seni rupa karya Operasi Rachman Muchamad, dipamerkan sejak 30 Juli sampai 9 Agustus 2016 di Taman Budaya, Jalan Sri Wedari 1, Yogyakarta. Ukuran lukisannya besar-besar sehingga memenuhi dinding. Pameran ini, agaknya, merupakan operasi gagasan dari perupanya, dalam hal ini Operasi Rachman Muchamad.

Operasi menyajikan kisah operasional dari gagasannya dalam pilihan gaya yang beragam. Ada karyanya dalam suasana abstrak, surealis dan perpaduan antara surealis dan realis. Ukuran lukisannya besar, dan mungkin gagasannya juga besar, atau menangkap fenomena besar, seperti lukisan berjudul ‘Borobudur’ (280 cm x 380 cm) atau ‘Budha Tidur’ (280 cm x760 cm). Lukisan ‘Karnaval’ lebih besar dari keduanya, karena membentang dari pintu masuk sampai dinding belakang habis.

Memasuki ruang pameran Taman Budaya Yogyakarta, yang sedang digunakan untuk pameran karya Operasi, sejak dari pintu masuk, kita sudah disuguhi karya rupa yang besar. Tidak harus menggunakan cat dan kanvas, tetapi ramuan dari berbagai kain dibentangkan sebagai bentuk dari karya seni rupa.

Di area depan, sebelum memasuki ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta, persis di depan lokasi parkir mobil, ditutup dengan kain dari ujung atas sampai bawah dengan kain warna-warni yang dijahit, dan pada bagian tengah dibuat pintu masuk, yang di atasnya ada tulisan dalam huruf besar ‘Operasi’. Jadi, karya seni rupa sudah dimulai dari luar ruang pameran.

Memasuki pintu ‘Operasi’ sebut saja begitu, dibuat lorong, yang kanan kirinya ada dinding yang dibuat dari potongan kain persis seperti pintu masuk pertama, sehingga orang yang akan memasuki ruang pameran pasti melewati lorong. Agaknya, lorong ini merupakan gambaran dari bagaimana gagasan itu dioperasi(onalkan).

Di dalam ruang pamer, kita  disuguhi beragam karya Operasi Rachman Muchmad dalam ukuran besar, perlu diulangi lagi, semua dalam ukuran besar sehingga menutupi dinding. Bahkan, karya berbentuk bola, yang diletakkan di atas lantai, juga dalam ukuran besar dan lebih tinggi dari ukuran orang berdiri. 

Lukisan serba besar, apakah sekaligus merepresentasikan gagasan besar? Saya kira tak ada hubungannya antara keduanya. Karena gagasan besar bisa dituangkan dalam beberapa kalimat retorik, seperti Bung Karno dulu sering melakukannya: “Beri aku 10 pemuda, gunung akan aku hancurkan” atau sebuah semangat menggelora dari kata yang tertera di lukisan: “Bung, Ayo bung!.

Melihat pameran lukisan karya Operasi, kita seperti disuguhi realitas kerja perupa, yang tidak sederhana, penuh kesungguhan dan memiliki mimpi. Rasanya, pameran Operasi di Taman Budaya Yogyakarta ini bisa dimengerti seperti itu. Apalagi  pameran tunggal, sehingga kita bisa membayangkan ‘betapa sungguh-sungguhnya’ Operasi Rachman Muchamad dalam berkarya seni.

Dari sisi yang lain, dari segi formula pameran, Operasi memberikan pilihan yang berbeda dari kebanyakan perupa, baik yang melakukan pameran bersama atau pameran tunggal. Dia ‘mengubah’ tatanan ruang pameran, seperti sering dilakukan Artjorg, meskipun perubahan tidak total. Tetapi sebagai pilihan personal, formula pameran tunggal dari Operasi ini memiliki pesan bagi para perupa lainnya: bersungguh-sungguhlah dalam pameran.

Dari karya-karya yang besar, kisah yang merespon sekaligus merekam karnaval di Jember, daerah kelahiran Operasi, tampaknya merupakan bentuk kepedulian budaya terhadap daerahnya sekaligus memberikan tawaran lain.

Ons Untoro

Anak-anak muda mengunjungi pameran ‘Operasi’ karya dari Operasi Rachman  Muhamad di Taman Budaya Yogyakarta, foto: Ons Untoro
Borobudur, salah satu judul lukisan karya Operasi yang dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta, foto: Ons Untoro
Anak-anak muda melewati lorong memasuki pintu masuk ruang pameran, foto: Ons Untoro
Karya seni rupa dari berbagai macam potongan kain untuk formula pintu masuk Taman Budaya Yogyakarta, foto: Ons Untoro
SENI RUPA