Wayang dalam Puisi di Sastra Bulan Purnama

22 Jul 2016

Dua penyair dari Yogyakarta, Iman Budhi Santoso dan Purwadmadi. Tiga lainnya dari luar Yogya, Acep Syahril (Indramayu), Heru Mugiarso (Semarang) dan Roso Titi Sarkoro (Temanggung), Bambang Widiatmoko, selaku editor yang sekarang tinggal di Jakarta dan hadir dalam acara launching ini.

“Rupanya tidak banyak penyair yang tertarik dengan tema wayang, sehingga sejak diumumkan sampai batas waktu selesai hanya ada 23 pengirim puisi dan setelah dikurasi terdapat 15 penyair yang puisinya masuk dalam antologi puisi ini,” kata Bambang Widiatmoko dalam sambutannya.

Acep Syahril, penyair yang sekarang tinggal di Indramayu, pernah lama tinggal di Yogya, 18 tahun dia menetap di Yogya dan aktif di area teater. Setelah lama meninggalkan Yogya dia kembali ke kota yang pernah ditinggalinya untuk membacakan puisi karyanya. Ada empat puisi karya Acep, dan semuanya mengambil tema wayang.

Mungkin karena terbiasa aktif di area teater, Acep tidak lagi canggung dalam membaca puisi, bahkan terlihat dia menikmatinya sekaligus menghayati puisi yang dibacakannya. Kepalanya yang sama sekali tidak ditumbuhi rambut, dalam penampilannya memberikan kesan bahwa dia sungguh ‘serius’, termasuk pada saat membacakan puisi karyanya.

Keempat puisi karya Acep Syahril berjudul ‘Kakek Guru Kamu Yang Rebah Bersama Bisma’, ‘Ketika Durna Datang, Dalam Tidur Guru Waska’, Guru Yang Mematahkan Kaki Dan Jiwanya Di Hadapan Begawan Wisrawa’ dan ‘Gurumu Yang Gagal Menjadi Petruk.’

Iman Budhi Santosa, seorang penyair senior dari Yogyakarta, dan puisinya masuk dalam antologi puisi ‘Tancep Kayon” ini ikut tampil membacakan puisi karyanya. Sebelum membaca puisi Iman Budhi Santosa menyampaikan pandangannya. Kata Iman: ‘Banyak penyair yang menulis beragam tema, tetapi sangat sedikit yang menulis tema wayang, dan dari yang sedikit itu di antaranya ada dalam antologi ‘Tancep Kayon’.

Oleh  penyair muda di Yogya, Iman disebut sebagai guru, apalagi  setelah Umbu Landu Paranggi tidak lagi tinggal di Yogya, dan Iman Budhi Santosa salah satu muridnya yang sampai sekarang masih menulis puisi, dan meneruskan peran apa yang dulu pernah dijalani oleh Umbu dia juga, sebagai guru dari penyair muda.

Dan ketika membaca puisi, memang terlihat dan pantas jika Iman Budhi diperankan sebagai guru penyair muda di Yogyakarta.

Heru Mugiarso, penyair dari Semarang, membaca puisi dengan bersahaja, persis seperti penampilannya yang bersahaja. Namun demikian, kesungguhan dalam menghayati puisi bisa dilihat pada ekspresi wajahnya saat membacakan puisi karyanya.

Lain lagi dengan Roso Titi Sarkoro, ia selalu ekspresif dalam setiap membaca puisi. Intonasi suara seperti dia perhatikan betul, sehingga ada bagian kata dia ucapkan secara tegas dan keras, ada bagian kata dalam puisi dia baca dengan pelan dan lembut. Kali kedua, Roso Titi Sarkoro tampil di Sastra Bulan Purnama. Kali pertama tampil di Amphitheater Tembi Rumah Budaaya.

Purwadmadi, penyair, cerpenis dan novelis yang juga seorang jurnalis, ikut tampil membacakan puisi karyaya. Purwamadi memang intens pada seni tradisi, sehingga tidak terlalu sulit menulis puisi dengan tema wayang. Sejumlah novelnya yang dia tulis mengambil setting sejarah untuk menyajikan kisahnya.

Selain pembacaan puisi, launching antologi puisi ‘Tancep Kayon’ juga diisi musikalisasi puisi dari ‘Ujug-Ujug Musik’ dan pertunjukan drama puisi oleh komunitas Sanggarbambu.

Ons Untoro
Foto: Barata

Heru Mugiarso dari Semarang tampil membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, foto: Totok
Acep Shayril dari Indramayu tampil membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, foto: Totok
Purwadmadi dari Yogyakarta tampil membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, foto: Totol
Iman Budhi Santosa dari Yogyakarta tampil membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, foto: Totok
Roso Titi Sarkoro dari Temanggung tampil membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, foto: Totok
SENI PERTUNJUKAN