Puisi Wayang Dalam Syawalan Sastra Di Sastra Bulan Purnama

18 Jul 2016

Sastra Bulan Purnama edisi ke-58, yang akan diselenggarakan, Rabu, 20 Juli 2016, pukul 19.30 di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta, masih dalam suasana syawalan, sehingga sekaligus untuk syawalan di antara pegiat sastra, pecinta sastra, penulis sastra dan masyarakat lainnya, yang akan diisi dengan launching antologi puisi ‘Tancep Kayon’ menampilkan 15 penyair dari beberapa kota.

Sastra Bulan Purnama, menghadirkan tajuk  ‘Puisi Wayang Dalam Syawalan Sastra’ sekadar untuk menunjukkan, bahwa Sastra Bulan Purnama  adalah satu ruang ekspresi dari karya sastra, dan dalam suasana syawalan  ini, kita bersama akan saling bertemu dalam nuansa sastrawi. Suasana syawalan dalam nuansa sastrawi di Sastra Bulan Purnama.

Selain sejumlah penyair yang puisinya tergabung dalam antologi puisi ‘Tancep Kayon’, akan tampil mengisi lagu puisi dari kelompk ‘Ujug-Ujug Musik’ yang akan menampilkan Ana Ratri dan Sashmytha Wulandari. Sementara Untung Basuki dan Pungki Prabowo akan menngiringi  para pembaca lainnya, Anton Sutoro, Sutiyono.

Bambang Widiatmoko, seorang penyair dan selaku editor antologi puisi ‘Tancep Kayon’ mengatakan, keinginan menerbitkan antologi puisi wayang dilandasi bahwa wayang adalah karya yang adilihung dan sarat dengan estetika, etika, dan falsafah dalam kehidupan.

“Berbicara perihal wayang, tak mungkin terlepas dari makna simbol. Simbol-simbol dalam pergelaran wayang mengungkapkan kehidupan manusia dan semesta. Dalam bentuk puisi para penyair pun dapat menuliskan berbagai simbol-simbol tersebut,” kata Bambang Widiatmoko.

Para penyair yang puisinya masuk dalam antologi puisi ‘Tancep Kayon” berasal dari beberapa Kota: Iman Budhi Santosa, Purwadmadi (Yogyakarta), Acep Syahril (Kuningan, Cirebon, Jawa Barat), Asro Al Murthawy,  Roso Tri Sarkoro (Temanggung), Esti Ismawati (Klaten), Budhi Setyawan (Purworejo), Fitrah Anugerah (Surabaya), Heru Mugiarso (Purwodadi), I Made Suantha (Bali), Jack Efendi (Mojokerto), Navis Ahmad (Tangerabg), Sendang Mulyana (Rembang), Sus.S Hardjno (Sragen) dan Eka Budianta)

Iman Budhi Santosa, seorang penyair senior dari Yogya, yang memberi epilog pada antologi puisi “Tancep Kayon”,  mengatakan; “Kumpulan puisi  ‘Tancep Kayon’ merupakan upaya para penyair yang bergerak di dalam khasanah sastra Indonesia modern untuk terus mencoba mengapresiasi nilai-nilai wayang dari berbagai sudut pandang.

“Karena diakui atau tidak, dalam kisah wayang tersimpan ribuan momentum puitik yang tak lekang digerus jaman. Kisah wayang telah mengejawantahkan bermacam ragam perilaku kemanusiaan yang belum sepenuhnya berubah dari dulu sampai sekarang,” ujar Iman Budhi Santosa.

Ons Untoro

SENI PERTUNJUKAN