Puisi dan Dokter Berpadu di Bulan Purnama

24 Aug 2016

Ini kali pertama. Para dokter spesialis, dan semuanya perempuan membacakan puisi di Sastra Bulan Purnama. Memang bukan puisi karya sendiri yang dibacakan, melainkan karya tiga penyair yang bukunya dilaunching. Ketiga penyair itu (alm) Slamet Riyadi Sabrawi, Sutirman Eka Ardhana dan Ardi Susanti.

Di bawah cahaya bulan dan langit bersih, Kamis 18 Agustus 2016 di Amphiteater Tembi Rumah Budaya, Sastra Bulan Purnama digelar. Ada tujuh dokter spesialis tampil membacakan puisi, dan semuanya mengaku bahwa baru pertama kali bersentuhan dengan puisi, lebih-lebih membaca puisi di hadapan publik.

Pada dokter itu ialah dr. Halida Wibawati, SpM, drg. Rini Sunaringputri, Mkes, dr. Wigati Damayanto, Sp.Rad, dr.Eny Suwanti, Dr.dr. Ita Fauzia Hanoum, MCE, dr.Ida Winarni, SPOG dan Dr.dr. Arlina Dewi, Mkes.

Meskipun mereka mengaku baru pertama kali bersentuhan dengan puisi, tetapi terlihat para dokter tersebut menikmati dalam membaca puisi, bahkan membaca puisi dengan cukup ekspresif. Selain membaca puisi karya 3 penyair tersebut, salah seorang dokter, drg. Rini Sunaringputri, Mkes membacakan puisi karya suaminya.

“Saya tidak menduga kalau suami saya bisa menulis puisi, maka dalam kesempatan ini saya akan membaca puisi karya suami saya,” kata Rini Sunaringputri.

Dokter yang lain, secara berkelakar merasa ‘dikerjain’ oleh teman sejawatnya untuk tampil membacakan puisi. Namun begitu, mereka membacakan puisi-puisi yang sudah dipilih dengan cukup baik. Kiranya, peran dr.Halida Wibawati, SpM yang membuat para dokter bersedia tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama.

Para dokter yang terbiasa bersentuhan dengan area medis dan berinteraksi dengan pasien, bahkan ada yang mengaku terbiasa bersentuhan dengan sperma daripada puisi, kali ini semua itu mereka tinggalkan dan bertemu dengan komunitas seni, khususnya sastra, dalam hal ini puisi, untuk bergabung membaca puisi.

Secara berkelakar saya meminta para dokter menulis puisi, mengambil pengalaman berinteraksi dengan pasien untuk dijadikan bahan menulis puisi. Lagi-lagi dengan berkelakar, saya menyampaikan, siapa tahu dengan dibacakan puisi pasiennya tersugesti dan segera sembuh dari sakitnya.

“Kita akan mencoba menulis puisi untuk kemudian diterbitkan, tapi sebelumnya akan dikirim dulu puisi-puisi itu pada pak Ons,” kata Dr.dr. Ita Fauzia Hanoum, MCE.

Puisi memang bukan milik penyair. Kredo yang bukan penyair tidak boleh ambil bagian, tidak lagi relevan. Puisi milik siapa saja, dan siapa pun boleh membacakan puisi. Tugas penyair adalah menulis puisi, kalau ada penyair tidak lagi menulis puisi, dia telah menjadi masa lalu. Banyak ditemukan, sejumlah profesi menulis puisi dan profesinya tetap dijalankan secara profesional.

Yang tampil di Sastra Bulan Purnama, bukan hanya penyair yang melulu mengurusi puisi, dan tidak memiliki pekerjaan lain kecuali hanya bergulat dengan puisi. Melainkan beberapa profesi seperti guru, pegawai negeri, dosen, wirausaha terus berkreasi menulis puisi dan hasil karyanya dibacakan di Sastra Bulan Purnama.

Para dokter ini, memang membacakan puisi karya penyair lain, tetapi bukan berarti mereka tidak akan menulis puisi. Justru dari sentuhan awal, keinginan untuk menulis puisi akan bisa tumbuh. Dalam kata lain, menjadi penyair bukan profesi tunggal, selalu ada profesi lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan puisi adalah ruang interaksi dan silaturahmi antar sesama yang terbebas dari sekat-sekat primordaial.

Melalui puisi, semua yang terkotak dan beku akan dicairkan.

Ons Untoro

drg. Rini Sunaringputri, Mkes sedang membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, foto: Indra
dr.Halida Wibawato, SpM tampil membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, foto: Indra
Dr.dr. Ita Fauzia Hanoum, MCE tampil membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Amphytehater Tembi Rumah Budaya, foto:Imdra
SENI PERTUNJUKAN