Pentas Ki Seno Nugroho, Antasena Tokoh Idola Anak Muda

23 Jul 2016

“Wong-wong sakmene iki  wis pada ngerti, yen Antasena perang karo Citraksi, mesthi menang Antasena. Ana ing crita apa wae lan ing papan ngendi wae, durung tahu ana sejarahe, Citraksi menang perang mungsuh Antasena. Yen ing bengi iki Citraksi kok nganti menang mungsuh Antasena, mesthi priyayi semene iki pada gela, nganggep yen dalange ora dhong. Kurang begjane penontone bubar. Mula tinimbang gawe gela priyayi sak Pasutan iki, luwih becik kowe bali wae ora susah perang karo aku, tinimbang kalah.”

“Ooo ngono ya”

“ Ha iya. Yen ora ngandel ayo dibukteke”

“O ya wis, yen ngono aku tak bali wae, ora sida perang. Gara-gara Patih Sengkuni sing pethuk, wong ngerti yen ora bakal menang kok dikon maju perang, huuu … !”

(“Orang-orang sebanyak ini sudah pada tahu, jika Antasena perang melawan Citraksi, pasti menang Antasena. Dalam cerita apa saja dan di mana saja, belum pernah ada sejarahnya, Citraksi menang perang melawan Antasena. Jika malam ini Citraksi sampai menang melawan Antasena, pasti penonton bakal kecewa, menganggap dalangnya bodoh. Malahan bisa jadi  penontonnya bubar. Makanya dari pada membuat kecewa penonton di Dusun Pasutan ini, lebih baik kamu pulang saja, tidak usah perang melawan aku, dari pada kalah”

“Oo begitu ya”

“Iya betul. Kalau tidak percaya ayo dibuktikan”

“Oo ya sudah, kalau begitu saya pulang saja, tidak jadi perang. Gara-gara patih Sengkuni yang goblok. Sudah tahu kalau tidak bakal menang kok disuruh maju perang. Huuu”)  

Demikianlan dialog antara Citraksi, salah satu anggota Kurawa; dan Antasena anak Wrekudara, pada pentas wayang kulit purwa yang dibawakan oleh dalang Ki Seno Nugroho pada akhir Mei 2016 di lapangan Pasutan Bantul.

Bagi penggemar wayang, terutama kaum mudanya, Antasena dijadikan tokoh idola.  Pasalnya Antasena adalah  sosok pemuda yang walaupun badung tidak bisa basa krama, ia sakti mandraguna, dapat membaca peristiwa yang bakal terjadi, cerdas, jujur. Membela yang lemah dan teraniaya, berani mempertahankkan serta memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Sementara itu Citraksi adalah adik Duryudana, salah satu dari 100 Kurawa. Ia tidak mempunyai kesaktian yang berarti, tindakannya grusa-grusu tanpa perhitungan, tidak pernah tuntas dalam melakukan pekerjaan, bicaranya kecil melengking dan gagap. Tokoh ini tidak kalah terkenal dengan Antasena. Tetapi bukan terkenal lantaran kesaktiannya, melainkan kekonyolannya. Dimana ada Kurawa di situ ada Citraksi. Para dalang memakai tokoh yang satu ini untuk melontarkan kelucuan yang konyol dalam rangka  menghibur penonton.

Tetapi sesungguhnya kedua tokoh tersebut dicintai pendukungnya dan selalu dinanti kemunculannya. Keduanya menjadi satu paket yang saling melengkapi. Karena melalui kedua tokoh tersebut ki dalang dapat menampilkan perang yang lucu konyol dan sekaligus menghibur. Asalkan watak serta karakter kedua tokoh sesuai pakem yang diturunkan dari generasi ke generasi. Yaitu Antasena yang menang dan Citraksi yang kalah.

Disin ilah bedanya kesenian wayang purwa dengan kesenian-kesenian yang lain. Jika pada kesenian selain wayang, misalnya: seni musik, tari, drama modern, penonton langsung dapat datang melihat dan menikmati apa yang ditampilkan pada pentas.                                                                                                                 Namun tidak untuk pentas wayang. Karena, selain penyajian secara visual dalam pentas yang digelar, penonton dituntut mempunyai referensi mengenai tokoh-tokoh pewayangan, khususnya tokoh yang muncul pada lakon yang dibawakan saat pentas. Dalam hal ini tokoh Antasena dan Citraksi.

Melalui kedua tokoh tersebut, Ki Seno dengan cerdas mampu melibatkan emosi penonton. Dialog di atas menegaskan bahwa ada komitmen bersama antara dunia pakeliran wayang purwa yang diusung sang dalang dengan para penggemar wayang yang adalah masyarakat pendukungnya. Komitmen tersebut diantaranya adalah, menurut ‘pakem’ tokoh Citraksi hanya dijadikan bulan-bulanan tidak pernah menang dalam perang, dengan siapa pun dan di manapun. Apalagi dengan tokoh sesakti Antasena. Jadi benar yang dikatakan Ki Seno Nugroho, kalau sampai Citraksi menang melawan Antasena, masyarakat akan  mengatakan bahwa dalangnya bodoh.

Walaupun dalang adalah orang nomor satu pada pegelaran wayang kulit purwa khususnya. Ia tidak bisa semena-mena memperlakukan tokoh-tokoh berlawanan atau berkebalikan dengan referensi yang sudah ada.  Namun bukan berarti bahwa ‘referensi pakem’ yang ada membatasi sang dalang dalam berkreasi. Nyatanya, Ki Seno Nugroho dengan tokoh Citraksi dan Antasena mampu membuat penonton terikat, dan terhibur sehingga menunda niatnya untuk pulang usai adegan limbukan.

Naskah dan foto: Herjaka HS

Pentas dalang Ki Seno Nugroho pada akhir Mei 2016 di lapangan Pasutan Bantul
Pentas dalang Ki Seno Nugroho pada akhir Mei 2016 di lapangan Pasutan Bantul
Pentas dalang Ki Seno Nugroho pada akhir Mei 2016 di lapangan Pasutan Bantul
SENI PERTUNJUKAN