Monolog dan Gerak Puisi dari Karya Resmiyati

29 Aug 2016

Dua puisi karya Resmiyati, yang dimuat dalam antologi puisi ‘Membelah Bulan’, masing-masing berjudul ‘Katresnan’ dan ‘Sephia 2’ diolah dalam bentuk yang berbeda. Pada judul puisi pertama, ‘Katresnan’ diolah menjadi pertunjukan monolog, dan judul puisi kedua ‘Sephia 2’ dipentaskan dalam gerak puisi, perpaduan antara tari, gerak dan puisi. Keduanya dipentaskan dalam Sastra Bulan Purnama edisi ke-59, Kamis 18 Agustus 2016 di Amphiteater Tembi Rumah Budaya.

Liek Suyanto, seorang aktor senior dan telah banyak main dalam sinetron televisi, tampil dalam bentuk monolog mengolah puisi berjudul “Katresnan’. Mengenakan baju putih dan celana jeans, serta rambut panjangnya yang juga sudah memutih, Liek seperti menguasai panggung Amphiteater Tembi Rumah Budaya.

Liek bukan hanya mengelilingi panggung sambil terus mengucapkan kalimat dalam puisi, tetapi terkadang berguling di lantai, duduk di lantai dan tidur menerawang sambil terus menyampaikan kata demi kata dalam puisi karya Resmiyati.

“Puisi ini saya pilih untuk dimonologkan karena kisahnya menarik, hanya ditulis pendek, sehingga dalam pertunjukan saya harus mengembangkannya,” kata Liek Suyanto.

Lain lagi dengan Ana Ratri dan kawan-kawan, yang mengolah puisi menjadi satu pertunjukan gerak puisi. Ana Ratri memang tidak melakukannya sendiri, tetapi dia yang mengolah dan menyutradarai dan anak buahnya yang mementaskan apa yang digagasnya berangkat dari puisi karya Resmiyati.

Rasanya, apa yang dipentaskan oleh Ana Ratri merupakan perpaduan antara, puisi, tari, gerak dan teater. Semuanya dikemas dalam satu pertunjukan, sehingga puisi tidak sekadar dibacakan, melainkan ‘dihidupkan’ dalam bentuk lain. Tampaknya, Ana Ratri ingin menunjukkan, bahwa puisi tidak hanya perlu dibacakan, melainkan ditafsirkan dalam bentuk lain dan menjadi satu pertunjukan.

Apa yang dilakukan Ana Ratri dan Liek Suyanto, dengan mengolah puisi menjadi satu pertunjukan, kiranya meneguhkan konsep Sastra Bulan Purnama ialah pertunjukan sastra Sebagai pertunjukan ada banyak bentuk yang bisa dihadirkan, membacakan puisi hanyalah salah satu dari apa yang disebut sebagai pertunjukkan sastra.

Tentu, bukan yang pertamakali Liek dan Ana Ratri mengolah puisi menjadi pertunjukan. Bahkan, ketika pertama kali Sastra Bulan Purnama digelar Oktober 2011, ketika para penyair tampil membaca puisi, Ana Ratri sudah mengolah puisi menjadi satu pertunjukan teater. Yang lebih hebat lagi, para pemainnya dari  Komunitas difabel yang ada di Bantul.

Liek Suyanto, memang sudah beberapa kali mengolah puisi menjadi pertunjukan drama, dan khusus untuk monolog, dia baru pertamakali tampil di Sastra Bulan Purnama, dan memilih puisi karya Resmiyati untuk dipentaskan.

Karena waktu yang diberikan mepet, Ana Ratri tidak siap untuk menghafal teks puisi dan ditampilkan dalam bentuk monolog. Karena itu perlu digarap secara lain dan gerak puisi adalah pilihan yang paling pas.

“Kalau untuk monolog saya tidak siap menghafal dalam waktu pendek, karena ada banyak pekerjaan yang sedang saya lakukan. Tapi kalau diolah dalam bentuk lain masih memungkinkan,” kata Ana Ratri menjelaskan.

Dua pertunjukkan yang dipentaskan Liek Suyanto dan Ana Ratri dkk., ditengah  para penyair dan pecinta sastra membaca puisi, bisa memberikan warna lain dalam pertunjukkan sastra di Sastra Bulan Purnama.

Puisi, dalam pertunjukan sastra memang tidak hanya dibacakan, melainkan bisa ditafsirkan dalam bentuk lain. gerak puisi, monolog, dramatisasi puisi adalah bentuk lain dari pembacaan puisi.

Ons Untoro

Gerak Puisi dipentaskan dalam Sastra Bulan Purnama di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, foto: Budi Adi
Liek Suyanto pentas monolog mengolah puisi karya Resmiyati dalam Sastra Bulan Purnama di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, foto: dok Tembi
SENI PERTUNJUKAN