Macapat ke-148, Penguasa Tergila-gila dengan Ronggeng

01 Aug 2016

Mengikuti macapat malem Rebo Pon di Tembi Rumah Budaya ibarat mengikuti pengembaraan Mas Cebolang yang penuh dengan pengalaman kehidupan baik lahir maupun batin. Pada 26 Juli 2016, Macapatan serat Centhini yang ditembangkan rutin setiap selapan atau 35 hari sekali sejak tahun 2000 telah memasuki tahap ke-148. Posisi Mas Cebolang dan kawan-kawan saat ini masih berada di Kadipaten Wirasaba.

Berkat kepandaiannya bermain sulap, menari dan menyanyi Mas Cebolang digandrungi banyak orang serta menjadi tamu istimewa Adipati Wirasaba. Setelah beberapa hari tinggal di Wirasaba dan mempertontonkan aneka pertunjukan, maka tiba saatnya  Mas Cebolang menampilkan tari ronggeng yang menjadi andalannya. Bersama Nurwitri Mas Cebolang berdandan sebagai penari roggeng. Badannya yang lencir kuning, gerakannya yang luwes menjadikan keduanya tampil sangat cantik. Bahkan kecantikannya melebihi para wanita di Kadipaten Wirasaba. Seluruh penonton kagum dibuatnya. Sang Adipati sendiri tergila-gila pada penampilan mereka berdua.

Sejak saat itu setiap hari kedua penari ronggeng laki-laki dicumbui oleh Sang Adipati. Hingga penguasa nomor satu di Kadipaten Wirasaba tersebut  lupa akan istrinya, selir-selirnya serta tugas-tugasnya. Saking linglungnya Sang Adipati  membuat pernyataan bahwa dirinya tidak akan menerima-siapa-siapa kecuali ronggeng berdua.

 

70. Salaminira ronggèng kakalih

 binot-sih pan wus pêndhak dina

 ki dipati ing linglunge

 kawuron ronggèng kakung

 kang kawêngku ing siyang ratri

 wus supe langêning dyah

 para garwanipun

 tuwin pra prameyanira

 pratelaning dasih tan arsa nampèni

 milaur ronggèng lanang

 

73. Wis mangkana nahên ki dipati

 kang lagya nèng gêdhong têtêlonan

 tan kêna bênggang kalihe

 sisiwo siyang dalu

 datan suda malah saya sih

 adhêmèl kadi gula

 kêrakêt lir ancur

 kanthil-kanthil kikintêlan

 Mas Cêbolang Nurwitri ki dipati

 nèng gêdhong gêgèndhongan

 

Lihatlah saat Adipati Wirasaba berada di gedhong bertiga, Siang malam tidak berkurang cintanya, malah semakin bertambah. Ketiganya berkasih-kasihan tak terpisahkan, leleh menjadi satu seperti gula, dan lekat seperti lem ancur.

Yang mau dikatakan oleh serat centhini kepada para pecinta macapat yang hadir ialah bahwa, seorang penguasa yang mabuk kepayang akan melupakan tugas-tugasnya, melupakan keluarganya dan juga melupakan dirinya. Niscaya hal tersebut akan membuat rakyat sengsara.

Namun tidak untuk macapatan malam itu. walaupun mereka telah menembangkan tembang yang mengisahkan sosok  pemimpin yang lupa, mereka tidak merasa sengsara. Malahan merasa terhibur karena Angger Sukisno sebagai pemandunya dapat mencairkan suasana dengan memasukkan beberapa guyonan yang membuat tertawa. Ditambah lagi hadirnya paguyuban karawitan Ibu-ibu Sidolaras dari Sidomulyo Bantul, macapatan malem Rabu Pon itu tambah semarak.

Naskah dan foto: Herjaka HS    

Macapat malem Rebo Pon di Tembi Rumah Budaya ke-148,  26 Juli 2016, foto:  Herjaka HS
Macapat malem Rebo Pon di Tembi Rumah Budaya ke-148,  26 Juli 2016, foto:  Herjaka HS
Macapat malem Rebo Pon di Tembi Rumah Budaya ke-148,  26 Juli 2016, foto:  Herjaka HS
Macapat malem Rebo Pon di Tembi Rumah Budaya ke-148,  26 Juli 2016, foto:  Herjaka HS
Macapat malem Rebo Pon di Tembi Rumah Budaya ke-148,  26 Juli 2016, foto:  Herjaka HS
SENI PERTUNJUKAN