Lagi, Untung Basuki Di Sastra Bulan Purnama

27 Jul 2016

Untung Basuki dikenal sebagai seniman legendaris Yogya spesialisasi lagu puisi, yang digelutinya sejak tahun 1970-an. Selain sebagai anggota Bengkel Teater-nya Rendra, Untung mengembangkan satu kreativitas, yang pada tahun 1970-an masih langka, ialah lagu puisi. Dia mengolah puisi karya banyak penyair menjadi lagu, selain puisi karyanya sendiri.

Pada Sastra Bulan Purnama edisi ke-58, yang diselenggarakan Rabu 20 Juli 2016 di Pendapa Tembi Rumah Budaya, Untung Basuki hadir melagukan puisi. Sudah berulang kali Untung tampil mengisi  Sastra Bulan Purnama, dan dia selalu tidak bisa menolak kapan diminta untuk tampil.

Untung Basuki ditempatkan sebagai closing. Penampilannya khas, mengenakan topi dan rambut putihnya yang penjang dibiarkan tergerai, dan sekaligus menjadi ciri khas dari penampilan Untung Basuki. Tak pernah terlihat, seperti seniman lainnya yang rambutnya panjang, Untung mennggelung rambut panjangnya.

Untung Basuki menyanyikan dua lagu, pertama lagu berjudul ‘Gareng Merindukan Pergiwati’ dan yang kedua ‘Brantayudha’. Dua lagu yang mengambil kisah wayang, seperti tema wayang dalam antologi puisi yang dilaunching: ‘Tancep Kayon’.

Petikan gitarnya mengawali lagu pertama, yang dinyanyikan duet bersama sahabatnya Pungki Purbowo. Keduanya sudah tua, setidaknya dari rambut putih dan wajahnya memang sudah terlihat tua, Untung Basuki sendiri sudah berusia di atas 65 tahun.

“Dua kakek ini tampil masih penuh semangat,” komentar seorang anak muda yang duduk di belakang.

Mungkin, anak muda tersebut belum mengenal Untung Basuki, yang belum memiliki cucu. Rambut putihnya saja yang memperlihatkan seolah dia seorang kakek, padahal orang selalu menikmati gelora semangat berkesenian Untung Basuki.

Penampilannya di Sastra Bulan Purnama, entah sudah yang keberapa kali. Karena, terkadang, secara spontan Untung Basuki diminta tampil, dan dia tidak menolak. Selalu dia merespon permintaan orang lain untuk tampil, meski Untung tak membawa gitar akustik kesayangannya. Tetapi, asal di panggung ada gitar dan Untung Basuki siap melantunkan lagu puisi.

Atau juga, secara tiba-tiba Untung Basuki yang seringkali hadir di Sastra Bulan Purnama, diminta mengiringi seorang penyair yang akan tampil membaca puisi, Dan dengan gitar yang tersedia di panggung, Untung memetik gitar mengiringi seorang penyair membaca puisi.

Pada penampilannya di Sastra Bulan Purnama kali ini, bersama sahabatnya dari Sanggarbambu, Pungki Purbowo, kiranya baru pertama kali keduanya tampil di Tembi Rumah Budaya. Penampilan Untung selalu santai dan tidak terlalu formal, sehingga ketika nadanya tidak pas, dia bisa berhenti di tengah dan mengulanginya lagi dari awal.

“Waduh, nadanya terlalu rendah,” katanya ketika mulai mengawali lagu kedua, dan ia mengulangi dari awal lagi. Pungki Purbowo yang sudah siap menyanyi tertawa lepas, demikian juga penonton.

Itulah Untung Basuki, yang pernah dinobatkan oleh para seniman Yogya dalam tajuk ‘Untung Dadi Legen’ (Untung Menjadi Legenda). Dan Untung Basuki tertawa melihat polah para sahabatnya itu, yang menempatkan Untung Basuki sebagai legenda lagu puisi khususnya, dan seniman pada umumnya.

Dan si ‘legendaris’ itu, untuk kesekian kalinya tampil di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya.

Ons Untoro
foto: Barata

Untung Basuki seorang seniman legendari dari Yogyakarta tampil dalam acara Sastra Bulan Purnama di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, foto: Totok
Untung dan Pungki Purbowo membawakan dua lagu dalam acara Sastra Bulan Purnama di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, foto: Totok
SENI PERTUNJUKAN