Gerak, Tari dan Puisi di Sastra Bulan Purnama

23 Jul 2016

Dua puisi yang diolah menjadi pertunjukan sastra berjudul ‘Arya Sasikirana’ karya Eka Budianta dan ‘Pengakuan Badranaya’ karya Heru Mugiarso. Anton Sutopo membacakan dua puisi tersebut, dan tiupan seruling mengiringi yang dipadukan dari gerak dan tari dari tiga pemuda, yang seolah mencoba memvisulkan kata dalam setiap puisi.

Anton Sutopo memang tidak ikut menari, melainkan selalu bergerak dan berpindah dari satu bloking ke bloking berikutnya, termasuk membaca sambil duduk. Sementara puisi terus dibacakan, gerak dan tarian terus mengitari Anton Sutopo, tiupan seruling terus mengalir, sehingga ketiganya saling berpadu: musik, gerak dan tari serta pembacaan puisi.

Anak-anak muda, yang aktif di Sanggarbambu ini tampaknya mencoba mencari bentuk lain dari pembacaan puisi. Mereka menghadikan puisi sebagai satu pertunjukan, persis seperti konsep Sastra Bulan Purnama, yaitu pertunjukan sastra. Membaca puisi adalah salah satu bentuk dari pertunjukan sastra.

Dan, yang diilakukan anak-anak muda dengan mengolah puisi menjadi pertunjukan adalah bentuk dari pertunjukan sastra. Menggabungkan  puisi, dengan gerak dan tari merupakan satu sisi, bagaimana kreativitas itu dilakukan.

Meskipun puisinya bertemakan wayang, tetapi para penampil tidak sedang memerankan wayang, melainkan mereka sedang mengolah karya sastra, dalam hal ini puisi menjadi satu pertunjukan. Karena mereka bergerak dan menari, kostum yang dikenakan para penari, tidak melepaskan konvensi tari, salah satunya mengenakan selendang.

Di Sastra Bulan Purnama, mengolah puisi menjadi karya tari memang sudah dilakukan. Seorang penari mengubah kata menjadi visual dan gerak, yang dilengkapi dengan musik dan kostum. Tetapi tidak ada pembacaan puisi di sana. Pernah pula, dan seringkali dilakukan, mengubah puisi menjadi lagu, sehingga munculah lagu puisi. Ada juga yang membaca puisi sambil diiringi musik, yang disebut musikalisasi puisi.

Anton Sutopo mencoba memadukan semuanya, tari, musik dan pembacaan puisi. Maka, yang terlihat gerak dan tari saling berinteraksi dengan kata. Atau bisa dimengerti, gerak dan tari merespon kata dalam puisi yang dibacakan. Jadi, berbeda dengan apa yang pernah dilakukan Anes Prasetya di Sastra Bulan Purnama, yang mengolah puisi menjadi pertujukan drama, dan di sana ada dialog.

Puisi memang bisa diinterpretasikan dalam bermacam bentuk, dan setiap orang bisa melakukannya, dan harus berani ‘menerobos’ puisi menjadi sebuah pertunjukan, sehingga membuat puisi menjadi hidup. Sebab, menikmati puisi tidak hanya di kamar, sambil tiduran membaca puisi.

Kita tidak harus membaca puisi sendiri, tetapi dengan menikmati pertunjukan puisi, sebenarnya orang sedang membaca puisi bersama orang lain. Anton Sutopo dan anak-anak muda dari Sanggarbambu malah mengajak orang lain untuk menafsirkan puisi dengan cara masing-masing.

Puisi, musik, gerak dan tari adalah bentuk dari ekspresi budaya, dan anak-anak muda dari Sanggarbambu telah menampilkannya dengan sungguh-sungguh. Dari pertunjukan mereka, kita bisa tahu, bahwa puisi bisa ‘dihidupkan’ dalam satu pertunjukan.

Ons Untoro
Foto: Barata

Pertunjukan tari, gerak dan puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, foto: Totok
SENI PERTUNJUKAN