Gatotkaca Membagi Kesucian kepada Musuhnya

12 Aug 2016

Adakah yang lebih luhur serta mulia, dari seseorang yang mendoakan musuhnya agar terlepas dari rantai derita, bahkan ia rela menjalani laku berat demi keselamatan musuhnya? Itulah yang dilakukan Gatotkaca kepada Dursala musuhnya yang telah tiada. Karena niat luhur tersebut, Resi Seta yang adalah kakek dan juga guru Gatotkaca memberi sebutan Gatotkaca suci. Lakon ini dipentaskan di Tembi Rumah Budaya pada Senin, 25 Juli 2016, oleh dalang Ki Suwandi dari Pocung Imogiri Bantul. Sebelum pentas wayang dimulai, diadakan upacara wisuda kursus MC Panatacara Pamedharsabda tingkat lanjut angkatan IX Tembi Rumah Budaya. Ada 21 wisudawan yang menerima Partisara, mereka adalah: Abadi, Budiraharjo, Dian Fitrianto, Dwi Wahyuningsih, Haryanto, Ismanto, Istik Maluddin, JJ Endro Sasmito, Joko Parjoko, Kabul Hardjono, Khoiru Saro, Maryanto Sawit, Maryanto Kembaran, M Chayrul Umam, Nurul Farhan, Sartijan, Sujan, Suranto, Tri Handoko Putro, Winarni Astutiningsih FL, Yulianto.

Pentas wayang kulit purwa semalam suntuk dengan lakon Gatotkaca Suci sengaja dipilih pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Komda Bantul yang diketuai Fendi Prayitno karena bertepatan pada bulan Sawal. Di bulan Sawal ini dan bulan-bulan selanjutnya, kesucian menjadi tema besar dan tujuan utama hidup manusia. Melalui empat laku; prihatin, puasa, berdoa dan berderma, manusia menginginkan agar kesucianlah yang menang dalam setiap langkah hidupnya. Demikian juga keinginan Gatotkaca untuk ‘nyuwargake’ Dursala bekas musuhnya dapat terwujud asalkan mau menjalani empat laku untuk menuju kesucian.

Dursala adalah anak Dursasana yang menjadi senopati andalan Kurawa. Beberapa waktu setelah diwisuda, Dursala menantang Gatotkaca senopati Pandawa. Dalam perang tanding tersebut, Gatotkaca terluka dan dilarikan kepada eyang Resi Seta di pertapaan Suhini. Oleh Resi Seta, Gatotkaca disembuhkan dari luka-lukanya serta digembleng aji Narantaka. Dengan ajian sakti yang telah diserap tuntas dari Resi Seta tersebut, Gatotkaca mampu menghancurkan Dursala. Arwahnya lepas dari badan dan berada di alam ‘pangrantunan’ (penantian).

Beberapa waktu berlalu Arwah Dursala belum dapat masuk surga. Badan halusnya melayang-layang dari satu tempat ke tempat lain. Tujuannya mencari surga. Berhubung belum menemukan, ia sering mengganggu orang. Ketika Dursala melihat Gatotkaca, maka diseranglah bekas musuhnya itu dengan serangan yang mematikan. Tujuannya disamping balas dendam ia juga bermaksud mengajak Gatotkaca agar mengalami nasib seperti dirinya, menderita tak berkesudahan.

Berawal dari peristiwa penyerangan itu, Gatotkaca mengetahui bahwa arwah Dursala menderita di keabadian. Ada niatan suci untuk membebaskan arwah itu dari belenggu penderitaan. Resi Seta merestui niat Suci Gatotkaca dan membeberkan laku yang harus dijalani untuk mewujudkan niatan itu. 

Ketika kesucian telah dianugerahkan dalam hidupnya, Gatotkaca dapat menggunakan serta membagikan kesucian itu untuk mensucikan orang lain, yaitu Dursala. Resi Seta bangga atas keberhasilan Gatotkaca. Tidak dulu, tidak juga sekarang, muridnya yang satu ini selalu tekun dan sungguh-sungguh dalam menjalani laku demi tujuan tertentu, sehingga berhasil.

Pentas yang didanai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul terselenggara atas kerja antara Pepadi Komda Bantul dan Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. Dari 15 pentas wayang kulit purwa yang direncanakan di tahun 2016, pagelaran malam itu merupakan pentas yang ke-5. Pentas-pentas seni tradisi tersebut merupakan sarana untuk menjabarkan tugas besar yang diemban oleh dinas kebudayaan, yaitu, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan daerah serta menggali nilai luhur yang dikandung, untuk memperkuat jati diri dan kepribadian masyarakat.

Sejalan misi tersebut, Ki Suwandi dalang lulusan Habiranda Keraton Yogyakarta yang ‘ketiban sampur’ mengemban tugas untuk memperkuat jatidiri luhur masyarakat melalui pentas pakeliran, telah menawarkan kesucian melalui tokoh Gototkaca.

Pertunjukan yang dimulai pukul 21.15 hingga 04.00 tersebut dapat dikatakan berhasil jika ada satu pemirsa saja yang nantinya dapat meneladani tokoh Gatotkaca, yaitu dengan melakukan laku suci untuk memohonkan agar musuhnya diampuni Tuhan dan mendapatkan keselamatan serta kedamaian di keabadian. Karena dari satu orang, kesucian itu akan melimpah-limpah kepada orang lain. Demikian seterusnya, kesucian yang datang dari pada-Nya tak pernah berkurang untuk dibagi, dan tak pernah habis untuk dinikmati.

Herjaka HS    
Foto: ABarata

Dalang Ki Suwandi mementaskan lakon Gatotkaca Suci di Tembi Rumah Budaya pada Senin, 25 Juli 2016
Dalang Ki Suwandi mementaskan lakon Gatotkaca Suci di Tembi Rumah Budaya pada Senin, 25 Juli 2016
Dalang Ki Suwandi mementaskan lakon Gatotkaca Suci di Tembi Rumah Budaya pada Senin, 25 Juli 2016
Dalang Ki Suwandi mementaskan lakon Gatotkaca Suci di Tembi Rumah Budaya pada Senin, 25 Juli 2016
Dalang Ki Suwandi mementaskan lakon Gatotkaca Suci di Tembi Rumah Budaya pada Senin, 25 Juli 2016
Dalang Ki Suwandi mementaskan lakon Gatotkaca Suci di Tembi Rumah Budaya pada Senin, 25 Juli 2016
SENI PERTUNJUKAN