Bulan Bundar Mewarnai Sastra Bulan Purnama

22 Aug 2016

Bulan bundar, langit cerah menjadi dekorasi alami Sastra Bulan Purnama edisi ke-59, yang diselenggarakan Kamis, 18 Agustus 2016 di Amphiteater Tembi Rumah Budaya,  Sewon, Bantul, Yogyakarta menampilkan tiga penyair dari tiga kota, Sutirman Eka Ardhana (Yogyakarta), Ardi Susanti (Tulungagung) dan Resmiyati (Klaten). Sedianya Slamet Riyadi Sabrawi ikut tampil, tetapi pada Sabtu 13 Agustus 2016 ia dipanggil Tuhan.

Tiga penyair dari tiga kota me-launching antologi puisi masing-masing berjudul ‘Malioboro 2057’ (Sutirman Eka Ardhana), “Terbasuh Pesonamu” (Ardi Susanti) dan ‘Membelah Bulan’ (Resmiyati). Selain dibacakan sendiri, puisi karya tiga penyair tersebut juga dibacakan oleh para pembaca lain, oleh dokter spesialis, dan ada yang digubah menjadi lagu dan diolah menjadi pertunjukan monolog dan gerak tari puisi.

Sutirman Eka Ardhana, seorang penyair senior dari Yogya yang aktif menulis sejak tahun 1970-an dan ikut Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi telah menulis banyak puisi dan sejumlah antologi puisi sudah diterbitkan, termasuk novel. Pada Sastra Bulan Purnama ke-59, dia membacaan puisinya yang terkumpul dalam antologi ‘Malioboro 2057’.

Eka, demikian panggilannya, semasa muda memang tumbuh dan berproses di Malioboro bersama teman penyair seangkatannya seperti Emha Ainun Najib, Linus Suryadi AG, Slamet Riyadi Sabrawi. Dia tampil di awal untuk membacakan puisi karyanya. Mungkin sudah tidak lagi muda, sehingga tidak perlu atraksi dalam membaca puisi, berbeda ketika dia masih muda tahun 1980-an, Eka membaca puisi sambil kepalanya ada api menyala, sehingga terkesan sekaligus bermain magic.

Resmiyati, antologinya berjudul ‘Membelah Bulan’, penyair muda dari Klaten dan tampil dengan penuh semangat. Ekspersi wajahnya memberikan kesan kalau dia menghayati puisi yang dibacakannya, lebih-lebih puisi itu karya sendiri. Puisinya bersifat prosais, ada dialog laiknya cerpen, sehingga dalam membaca puisi perlu memperhatikan peran dialog dalam puisinya.

Ardi Susanti, membawakan puisi dari buku karyanya yang berjudul ‘Terbasuh Pesonamu’, seperti kebiasaan dia dalam membaca puisi, selalu penuh semangat dan terkadang terasa atraktif. Selalu tidak lupa, tangannya digerak-gerakkan ke atas, kiri dan kanan, seolah memberi tanda dia sedang mengekspresikan puisi yang sedang dibacakannya.

Eka, Ardi dan Resmiyati memang dari generasi yang berbeda, setidaknya dari segi umur dan proses pergulatan dalam puisi. Eka lebih lama dari keduanya, sementara Ardi dan Resmiyati masih dalam satu ‘kurun’ yang sama. Dari usianya keduanya setara dan dari proses kreatifnya tidak saling berjauhan.

Suasana Sastra Bulan Purnama edisi ke-59, seolah seperti ‘meriah’. Hadirin duduk memenuhi tempat duduk Amphiteater Tembi Rumah Budaya dan ada yang duduk di kursi yang diletakkan di kiri kanan panggung serta ada yang berdiri di tangga dan duduk di kursi di luar Amphiteater.

Cuaca yang cerah dan bulan yang jernih seperti memberi makna bagi Sastra Bulan Purnama, dan memang dalam penanggalan Jawa persis bulan purnama, sehingga Sastra Bulan Purnama menemukan cahaya di langit yang jernih.

Budi Adi, seorang fotografer, yang memang sering datang untuk mengambil gambar momen-momen Sastra Bulan Purnama mendapatkan momentum bulan di atas dan pembacaan puisi di Amphiteater sehingga, dalam foto Budi Adi terlihat bulan mungil menerangi Sastra Bulan Purnama.

“Saya tunggu bulan itu pas sehingga enak untuk mengambil gambar dengan latar belakang bulan di atas sana,” kata Budi Adi sambil menunjukkan foto karya dari kamera yang dia pegang.

Puisi, Bulan purnama dan langit cerah memberi keindahan Sastra Bulan Purnama edisi ke-59.

Ons Untoro

Resmiyati penyair dari Klaten sedang membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, foto: Indra
Sutirman Eka Ardhana penyair dari Yogya sedang membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, foto: Indra
Ardi Susanti penyair dari Tulungagung sedang membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, foto: Indra
SENI PERTUNJUKAN