Berkaca pada Kisah Jatagimbal dan Jatagini

24 Aug 2016

Ki Santosa, dalang dari Keyongan Sabdodadi Bantul ‘ketiban sampur’ untuk membawakan pentas pakeliran wayang kulit purwa di pendapa Ngamarta Pasutan Bantul, pada 30 Juli 2016. Pentas tersebut merupakan  program pentas keliling Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Komda Bantul  yang didanani oleh dana keistimewaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul. Pada tahun 2016 ini ada 15 titik pentas yang direncanakan.  Sedangkan malam itu, yang memilih lakon carangan baku dengan judul “Alap-alapan Kuntul Wilanten” merupakan pentas putaran keenam.

Serentetan pentas yang membutuhkan dana tidak sedikit tersebut bertujuan untuk melestarikan serta mengembangkan kebudayaan daerah pada umumnya serta kesenian tradisi wayang kulit purwa pada khususnya. Diharapkan dari pentas tersebut dapat diaktualisasikan kembali nilai luhur yang dikandung, untuk memperkuat jati diri dan kepribadian masyarakat, agar tidak terombang-ambing ke hal-hal negatif yang akan menggerus nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Cerita Alap-alapan Kuntul Wilanten ini menggambarkan dua orang kakak beradik yang sedang jatuh cinta. Mereka adalah Jatagimbal raja raksasa dari Guwabarong, dan Jatagini, adiknya.  Jatagimbal jatuh cinta kepada Sembadra istri Arjuna, sedangkan Jatagini jatuh cinta kepada Arjuna. Dikarenakan begitu besar niatnya untuk memperistri Sumbadra, Jatagimbal tidak mempedulikan bahwa Sembadra telah mempunyai suami Arjuna. Bahkan dengan kesaktiannya ia mengubah dirinya menjadi Arjuna dan pergi untuk menemui Sembadra.

Sementara itu Jatagini yang ditinggal kakaknya juga pergi untuk mencari Arjuna. Di tengah jalan Jatagini bertemu dengan Dewi Sembadra yang juga sedang mencari Arjuna suaminya. Kepada Sumbadra Jatagini meratap, bahwa dirinya sedang jatuh cinta kepada Arjuna serta menyatakan keinginannya  untuk diperistri. Sebagai sesama wanita   hatinya iba melihat tangisan Jatagini. Tidak ada rasa cemburu sedikit pun, Sembadra ingin membantu agar apa yang diinginkan Jatagini kesampaian. Maka kemudian dimohonlah kepada dewa agar Jatagini diubah wujudnya menjadi Sembadra. Permohonan Sembadra yang tulus dikabulkan. Jatagini berubah wujud menjadi Sembadra. Maka disuruhnya kemudian supaya Sembadra jadi-jadian tersebut menuju taman Madukara.

Di taman itulah Sembadra palsu bertemu dengan Arjuna. Gelora nafsu yang selama ini terbendung ‘bedhah.’ Mereka memadu kasih sepuasnya. Siang dan malam tak ada hentinya. Maka wajarlah jika kemudian Sembadra palsu mengandung. Para abdi keputren Madukara heran, ketika diminta menyediakan daging mentah untuk Bendara putri yang sedang ngidam. Tidak hanya para abdi yang heran, Arjuna pun heran mengapa istrinya ngidam daging mentah?

Mata Sembadra berkilat-kilat, dibarengi dengan beberapa kali menelan ludah ketika melihat daging mentah segar telah terhidang di meja makan. Dengan ditunggui Arjuna, Sembadra menyantap daging mentah dengan rakus. Mulutnya berlumur darah. Naluri seorang raseksi tidak bisa dikendalikan serta ditutup-tutupi lagi. Sembadra palsu kembali ke wujud semula, menjadi Jatagini. Bagai disambar halilintar di siang hari bolong, Arjuna sangat terkejut melihat kejadian yang tak dinyana. Arjuna yang sesungguhnya jelmaan dari Jatagimbal, kembali pada wujud semula. Jatagimbal menyesali perbuatannya. Sembadra yang sudah hamil karena dirinya tersebut adalah adiknya sendiri si Jatagini. Karena nafsu yang diumbar tak terkendali membuat dirinya buta. Buta akan saudaranya dan bahkan buta akan jati dirinya sendiri yang sesungguhnya adalah manusia yang merdeka dan berbudaya.

Taman Madukara geger. Tiba-tiba ada sepasang raksasa dan raseksi bercokol. Mereka adalah kakak beradik, Jatagimbal dan Jatagini. Lalu ke mana Sembadra dan Arjuna asli? Sembadra meninggalkan taman untuk mencari Arjuna. Sementara Arjuna pergi ke Slagaima untuk mengikuti sayembara ‘alap-alapan’ putri raja Dewi Kuntulwilanten.

Pagelaran wayang kulit yang berlangsung hingga pukul 04.15 yang dihadiri wakil dari Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Bantul, serta beberapa tamu undangan tersebut terselenggara berkat dukungan masyarakat Pasutan.

Ki Santosa lulusan SMKI 1992 jurusan karawitan, yang mengaku bahwa ‘emblem’ dirinya adalah wiyaga bukan dalang wiyaga, merupakan ungkapan kerendahan hatinya. Karena pada kenyataannya ia mampu mendalang dengan baik, dapat disandingkan dengan dalang-dalang yang berkualitas lainnya. Pantaslah jika kemudian diketahui bahwa kemampuan mendalang Ki Santosa banyak belajar dari pamannya Ki Sukoco suwargi.

Yang menarik dari pentas ini adalah keterlibatan anak-anak muda. Walaupun tidak sepenuhnya memperhatikan jalan ceritanya, mereka tidak tidur, menunggui sampai pagi. Mungkin anak-anak Dusun Pasutan tersebut masih merasakan bahwa pakeliran wayang kulit purwa adalah miliknya, tinggalan para leluhurnya. Jika tidak ditunggui sampai usai, takut kalau kesenian tersebut ‘dicuri’orang, diaku-aku serta diklaim sebagi budaya bangsa lain.

Naskah dan foto: Herjaka HS

Pentas pakeliran wayang kulit purwa di pendapa Ngamarta Pasutan Bantul, pada 30 Juli 2016, Ki Santosa, foto: Herjaka HS
Pentas pakeliran wayang kulit purwa di pendapa Ngamarta Pasutan Bantul, pada 30 Juli 2016, Ki Santosa, foto: Herjaka HS
Pentas pakeliran wayang kulit purwa di pendapa Ngamarta Pasutan Bantul, pada 30 Juli 2016, Ki Santosa, foto: Herjaka HS
Pentas pakeliran wayang kulit purwa di pendapa Ngamarta Pasutan Bantul, pada 30 Juli 2016, Ki Santosa, foto: Herjaka HS
Pentas pakeliran wayang kulit purwa di pendapa Ngamarta Pasutan Bantul, pada 30 Juli 2016, Ki Santosa, foto: Herjaka HS
Pentas pakeliran wayang kulit purwa di pendapa Ngamarta Pasutan Bantul, pada 30 Juli 2016, Ki Santosa, foto: Herjaka HS
SENI PERTUNJUKAN