‘Tancep Kayon’ dalam Sastra Bulan Purnama Tembi

15 Jul 2016

Antologi puisi ‘Tancep Kayon’ yang menyajikan puisi karya 15 penyair dari beberapa kota di Indonesia, akan dibacakan dalam Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya, Rabu 20 Juli 2016. Antologi puisi ini menghadirkan tema wayang, karena itu judul dari antologi mengambil salah satu tanda dalam pergelaran wayang kulit, yakni ‘Tancep Kayon.’

Sudah ada banyak antologi puisi, termasuk antologi cerpen yang di-launching dalam acara tersebut. Buku yang diterbitkan Yayasan Leksika, Gunung Putri Bogor ini, merupakan salah satu antologi dari puluhan antologi puisi yang pernah ditampilkan di Sastra Bulan Purnama.

Editor dari antologi puisi ini seorang penyair, yang sejak tahun 1980-an produktif menulis puisi dan tinggal di kotanya Yogyakarta. Namun kini, Bambang Widiatmoko, nama editor buku tersebut tinggal di Jakarta, dan aktivitas kesastraannya masih terus dilanjutkan hingga hari ini.

Berbagai tokoh wayang bisa ditemukan dalam antologi puisi ini, dan semua puisi menyajikan kisah wayang dengan versi yang berbeda. Penyair, melalui puisi tema wayang seperti memaknai ulang terhadap kisah dalam wayang, terutama menyangkut tokohnya.

Sus S Hardjono misalnya, seorang penyair dari Sragen, menyajikan puisi yang berjudul ‘Sumpah Drupadi’, yang mengisahkan betapa dendam dan darah mewarnai dalam kehidupan. Dari puisi ini kita bisa melihat, bahwa Sus menghadirkan kisah peperangan yang tak bisa dihindari dan dendam yang menyulut peperangan ini.

Penyair dari Purworejo, Budhi Setyawan, melalui puisi yang berjudul ‘Karna’, menyajikan kisah takdir Karna yang tak bisa dihindari. Meski tidak seperti dalam kisah ‘Karna Tanding’ dalam pergelaran wayang kulit, tetapi Budhi Setyawan memang menampilkan ajal Karna dari tangan Arjuna, dengan diksi yang puitis:

                                          “ia menatap Arjuna di seberang

                                          menarik busur”

Sebagai editor Bambang Widiatmoko agak kecewa, karena tidak banyak penyair yang mempunyai minat terhadap tema wayang. Karena itu, dari jumlah yang banyak penyair di Indonesia, hanya ada 15 penyair yang puisinya lolos dan masuk dalam antologi puisi ‘Tancep Kayon’.

Menurut Bambang Widiatmoko, keinginan menerbitkan antologi puisi wayang dilandasi bahwa wayang adalah karya yang adiluhung dan sarat dengan estetika, etika, dan falsafah dalam kehidupan. Pergelaran wayang pun secara simbolik mampu melahirkan tontonan sekaligus tuntunan.

“Namun keinginan itu dapat dikatakan gagal karena sangat minimnya pengirim puisi dalam penerbitan antologi puisi ‘Tancep Kayon’ ini,”, kata Bambang Widiatmoko.

Sebanyak 15 penyair yang tegabung dalam antologi puisi ini ialah, Acep Syahril (Kuningan, Cirebon, Jabar), Asro al Murthawy (Temanggung), Eka Budianta (Jakarta), Esti Ismawati (Klaten), Fitrah Anugerah (Surabaya), Heru Mugiarso (Surabaya), I Made Suantha (Bali), Iman Budhi Santosa (Yogyakarta), Jack Efendi (Mojokerto), Navis Ahmad (Tangerang), Purwadmadi (Yogyakarta), Roso Titi Sarkoro (Temanggung), Sendang Mulyana (Rembang) dan Sus S. Hardjono (Sragen).

Ons Untoro

Cover buku antologi puisi ‘Tancep Kayon” yang akan dilaunching di acara Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya, foto: Ons Untoro
SENI PERTUNJUKAN