Ki Seno Nugroho Dalang Penuh Nugroho

12 Jan 2016
Nugroho, ganjaran, peparing atau anugerah adalah ‘kabegjan’ yang diberikan  Tuhan kepada umatnya. Turunnya nugroho bukan karena prestasi seseorang, bukan pula karena jasa seseorang, tetapi semata-mata karena kemurahan serta belas kasih Sang Pemberi Nugroho. Oleh karenanya nugroho tidak dapat diundang, diminta atau pun dikejar. Sekehendak Dialah, kepada siapa anugerah tersebut akan diberikan. 
 
Walupun dasarnya adalah kemurahan hati, sebuah nugroho tidak pernah diberikan kepada  seseorang yang hanya berpangku tangan. Berdasarkan ilmu ‘titen’ sebuah nugroho diberikan kepada orang yang berproses dengan tekun, terus menerus tak kenal lelah dalam bidangnya. Tetapi tidak semua orang yang tekun dan pekerja keras mendapatkan nugroho. Begitu misteri dan spesifiknya keberadaan nugroho, sehingga ia akan lari jika dikejar dan menyembunyikan diri jika dicari.
 
Berbicara tentang nugroho, tidaklah berlebihan jika kemudian dibicarakan bahwa Ki Seno Nugroho adalah sosok dalang yang penuh dengan nugroho. Ia adalah dalang terlaris di Yogyakarta. Hal tersebut dapat ditengarai dengan padatnya jadual pentas. Pada bulan Desember 2015 saja, Ki Seno Nugroho pentas 11 kali, salah satunya pada 17 Desember di Ngentak Bangunjiwa Kasihan Bantul Yogyakarta dengan cerita Jumenengan Parikesit. Pentas yang diselenggarakan di rumah bapak Bibit ini selain untuk syukuran dan menggalang kerukunan warga juga sekaligus untuk menghibur masyarakat.  
 
Selain padatnya jadual pentas, Ki Seno mempunyai penonton paling banyak, diantaranya adalah paguyuban penggemar wayang Ki Seno Nugroho. Paguyuban ini selalu mengikuti ke mana saja Ki Seno ‘mayang.’ Rupanya jumlah penonton juga menjadi pertimbangan bagi mereka yang ingin menanggap Ki Seno. Terutama sebuah instansi dan juga tokoh masyarakat. Para penanggap itu mempunyai pandangan demikian, menggelar pertunjukkan wayang itu membutuhkan biaya besar, serta melibatkan banyak orang. Jika kemudian tidak ada penontonnya  mereka akan kecewa. 
 
Sebagai dalang terlaris dan penonton terbanyak bukan berarti bahwa Ki Seno adalah  dalang paling berkualitas dan paling berprestasi dibandingkan dengan ratusan dalang yang ada di daerah Istimewa Yogyakarta. Namun bukan berarti juga bahwa Ki Seno adalah dalang yang tidak berkualitas ‘loro saudon telu saurupan.’ Banyak keistimewaan pakeliran yang menjadi daya tarik sepanjang pementasan Ki Seno yang tidak dipunyai oleh dalang-dalang lain. 
 
Kualitas Ki Seno dapat disaksikan ketika ia berinteraksi dengan para pesinden, bintang tamu dan juga niyaga. Tiga bagian pokok yang mendukung pakeliran itulah yang digarap dan diolah oleh Ki Seno sehingga menjadi daya tarik yang mampu mendatangkan penonton, khususnya pada adegan Limbukan dan Gara-gara. 
 
Ki Seno tahu persis, cara memberi kesempatan pesinden untuk unjuk kebolehan melalui suaranya, parikannya, gayanya serta celetukannya. Ki Seno juga sangat telaten menunggu bintang tamunya ‘ndagel’ dan sesekali memberi umpan, medhoti dan kadang-kadang nimbrung ikut ndagel. Tidak ketinggalan pula kanca niyaga juga mendapat kesempatan unjuk kebolehan dengan garapannya, tabuhannya dan keterampilannya. 
 
Saat lepas adegan Limbukan khususnya dan juga Gara-gara, Ki Seno dengan cekatan dan terampil memindah fokus daya tarik dari  pesinden, bintang tamu dan niyaga beralih kepada dirinya. Tentu saja hal itu tidak mudah dilakukan untuk menjaga agar tempo pakeliran tidak kendor dan kehilangan daya tarik. Perlu kemampuan yang memadai untuk menjaga agar setiap adegan di dalam pakeliran memiliki daya tarik.  Dengan keterampilannya memainkan wayang pada adegan perang, keluwesan pada adegan ‘geculan’  serta kelebihan-kelebihan yang lain, Ki Seno cukup mampu untuk itu. 
 
Ketika mencoba bertanya kepada beberapa orang penggemar wayang Ki Seno Nugroho, apakah yang menjadi daya tarik pakeliran Ki Seno, mereka menjawab, pesindennya muda-muda dan cantik-cantik, bintang tamunya ndagel, pengiringnya terampil, sabetannya bagus.
 
Rupanya Ki Seno Nugroho kelahiran 2 Agustus 1972 tanggap akan apa yang diinginkan penonton. Pakeliran  di zaman sekarang, tidak lagi berbicara pakem, gaya Yogya, gaya Solo, atau pun gaya campuran. Yang dibutuhkan masyarakat adalah hiburan.  Alih-alih masyarakat masih mau menonton wayang di tengah-tengah  gempuran budaya asing yang tak terbendung.
 
Syukur jika di tengah-tengah gelak tawa, putra pasangan dalang kondang Ki Suparman Cermo Wiyoto dan  ibu Sayekti ini masih dapat menyelipkan pitutur para leluhur untuk membangun manusia agar bermartabat dan berbudaya.
 
Pilihan Ki Seno Nugroho di jagad pakeliran sejak lulus SMP ini telah mengetuk hati Sang Empunya Nugroho, untuk melimpahkan nugroho kepadanya. Sekali lagi bukan karena kualitas Ki Seno yang tidak diragukan, tetapi karena kemurahan-Nya semata.  Sang Pemberi Nugroho telah melimpahkan nugroho-Nya kepada Ki Seno, dan tentu saja hal tersebut tidak dapat ditiru oleh siapapun.
 
Naskah dan foto: Herjaka HS
Pentas Ki Seno Nugroho, Bantul, 17 Desember 2015, foto: Herjaka HS
Pentas Ki Seno Nugroho, Bantul, 17 Desember 2015, foto: Herjaka HS
Pentas Ki Seno Nugroho, Bantul, 17 Desember 2015, foto: Herjaka HS
Pentas Ki Seno Nugroho, Bantul, 17 Desember 2015, foto: Herjaka HS
PROFIL