Ki Faizal Noor Singgih, Doa Kakek Lebih Mujarab

27 Jun 2016

Faizal Noor Singgih lahir di Yogyakarta pada Jumat Kliwon, 20 April 1979, dari pasangan Sutedjo, pegawai PJKA; dan Rochimah, ibu rumah tangga yang nyambi buka warung. Walaupun bukan keluarga seniman, ayahnya mengenalkan Faizal kecil kepada dunia seni khususnya wayang. Pertama kali yang dikenalkan adalah wayang mainan tokoh Batara Narada, yang dibuat ayahnya.  

Setelah mengenal tokoh Batara Narada, ia dikenalkan pula dengan tokoh-tokoh yang lain melalui dongeng sebelum tidur. Dari dongeng ayahnya itulah, Faizal mencoba membuat wayang sendiri. Mula-mula dari guntingan kertas koran yang disunduk (ditusuk) lidi, kemudian meningkat memakai kardus. Cara membuatnya, dengan cara memfotokopi  gambar-gambar wayang yang ada di buku. Kemudian hasil fotokopian tersebut diblat di karton dan dibuat wayang. Selain membuat sendiri  ada juga wayang kardus yang dibeli dari Pasar Godean maupun di Alun-alun Pura Pakualaman.

Dengan wayang-wayang yang dimiliki, hampir setiap hari Faizal mendalang di rumah, di Baciro Sanggrahan Yogyakarta. Ia gedebog pisang untuk menancapkan wayang dan dinding bambu sebagai kelir. Selain bermain wayang, Noor Singgih juga membaca komik wayang karya RA Kosasih, untuk menambah wawasan tentang dunia wayang. Selain itu ia juga belajar tari klasik gaya Surakarta di Sanggar Tari Arena Budaya Yogyakarta kepunyaan Heru Sunarno. Beberapa tari yang berkaitan dengan wayang juga diajarkan, sehingga ia semakin bersemangat untuk mendalami wayang. Dalam dunia tari ini Faizal sempat ‘mbarang’ bersama kelompok sendratari Palupi Pinuji dari Keluarga Berencana.

Untuk melengkapi kesenangannya akan wayang, sewaktu SMP ia belajar karawitan kepada Sumarmo dan Ki Suyatin. Setelah lulus SMP, Faizal berniat melanjutkan studinya ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, harapannya agar dapat mempelajari seni karawitan dan seni pedalangan secara leluasa. Namun ayahnya dengan tegas menolak.   Boleh berkesenian asalkan tidak menjadi tujuan pokok.

“Surem surem diwangkara kingkin lir manguswa kang layon.....” sepenggal sulukan kesedihan  yang pertama dihafal, mengiringi kekecewaan Faizal karena dilarang masuk ke sekolah SMKI yang diinginkannya. “Padahal sewaktu saya melantunkan ‘suluk‘ tersebut sembari nuthuki dhingklik, simbah (kakek) Sumirah Pawirorejo dengan spontan ngendika 'Wah sesuk putuku iki dadi dalang..' sembari menatap saya. Dan tatapan itu tidak akan pernah saya lupakan hingga kini.”

Lain simbah lain ayah. Jika simbah dengan bangga mengharapkan cucunya menjadi dalang, tetapi tidak demikian dengan kehendak orangtua. Yaah apa boleh buat. Karena keputusan orangtua, ia kemudian masuk di SMAN 8 pada 1995. Namun kesenangan akan wayang tidak dapat dibendung.

Oleh karenanya selain menuruti kehendak orangtua, ia juga ingin menuruti kesenangan sendiri.  Maka di samping belajar di SMA umum, Faizal belajar pula  di sekolah calon dalang Habiranda, akronim dari Hanganggit Biwara Rancangan Dalang. Sekolah tersebut diselenggarakan oleh Keraton Ngayogyakarta sejak tahun 1925. Seperti di SMA, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan studi di Habiranda 3 tahun, dengan tingkatan kelas 1, kelas 2 dan kelas 3. Yang membedakan ialah, kalau di Habiranda masuk seminggu dua kali pukul 4 sore sampai pukul 8 malam. 

Sewaktu masih duduk di kelas 1 Habiranda, Faizal Noor Singgih memenangkan lomba dalang remaja pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 1996 se DIY sebagai juara 1. “Di sekolah Habiranda ini banyak sekali ilmu pedalangan, pakeliran maupun kehidupan yang saya terima melalui para dwijo diantaranya: Cermosangkono Ciptowardoyo, Ki Cermosubarno, Ki Cermosutejo, Ki Parjoyo, Rama Basirun. Ilmu-ilmu tersebut di kemudian hari mewarnai hidup saya.”

Pada tahun 1997 Faizal lulus dari SMA, tetapi belum lulus Habiranda.  Ia diterima UMPTN di Jurusan Pengolahan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Di kampus ini Faizal masuk ke Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta, dan bertemu dengan orang-orang hebat diantaranya: Sukisno (karawitan), Dokter Wigung Wratsangka (panatacara), Tejo Sulistyo (tari klasik), Bambang Sulanjari (sastra), Andi Wisnu tentang manajerial. Mereka itulah yang kemudian mendorong Faizal untuk diam-diam maju pendadaran akhir  di Habiranda. Maka pada 1999 di bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta Faizal Noor Singgih dinyatakan lulus setelah menggelar pakeliran padat selama 4 jam dengan lakon “Aji Narantaka.” Sejak saat itu Faizal Noor Singgih berhak menyandang gelar ‘calon dalang’ lulusan Habiranda.

Pengalaman mendalang diawalai saat sebelum ujian pendadaran Habiranda yaitu tahun 1998 pada salah satu acara purna pugar rumah limasan  di Padokan Bantul Yogyakarta,  dengan cerita 'Semar mbangun Klampis Ireng.' Di tempat yang sama, pada 1999, Faizal mendalang pada pesta pernikahan Myla Tinorita dan Wisnu.

Di tahun 2001, ditanggap oleh Paguyuban Ngudi Rejeki Kampung Gambiran Yogyakarta, Faizal mendalang dengan cerita Wahyu Makutharama, diiringi oleh teman-teman dari Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta UGM. Dalam pagelaran pakeliran ini Faizal menggabungkan pola garap Yogyakarta Solo atau Joglo, dengan penata iringan Ki Sukisno, S.Sn. Di tahun yang sama, ia mendalang pada pernikahan Latif, di Dusun Pereng, Prambanan, Sleman.

Di unit kesenian ini pula Faizal Noor Singgih menemukan jodoh. Hendri Inten Mawarti, seorang penari yang menjadi adik angkatan di Jurusan Fisika FMIPA UGM, dan menikah pada 9 November 2007. Dari hasil perkawinan tersebut, pasangan Faizal dan Hendri Inten dikaruniai tiga orang anak yaitu: Tyas Wening Pudyastungkoro, Pandhanalas Damar Wicaksono, dan Pandhansari Palupi Pinuji.

Tahun 2004, Faizal mulai bekerja di Jogja TV, sebuah stasiun TV berbasis budaya di Yogyakarta dengan motto, Tradisi Tiada Henti, tugasnya antara lain: Penerjemah Bahasa Jawa di acara Pawartos Ngayogyakarta. Membuat beberapa program budaya tradisi yang hingga kini masih tetap menyapa pemirsa Jogja TV, yaitu: Pocung, Pirembagan Kabudayan, Wayang, Langenlaras, Macapat, Ketoprak, Awicarita, dan Pitutur.  Khusus untuk program wayang, Faizal dipercaya sebagai produser, di samping tugas utamanya sebagai pemimpin redaksi pemberitaan Jogja TV.

Tentu saja dalam mengelola siaran wayang di Yogya TV yang berlangsung setiap malam, Faizal menjalin relasi dengan para dalang. Oleh karenanya ia memutuskan untuk bergabung dengan Paguyuban Dalang Muda Sukrakasih Ngayogyakarta yang dibentuk dan diresmikan di Tembi Rumah Budaya pada  11 Maret 2011.

Ki Faizal Noor Singgih menyadari bahwa kemampuan mayang, sangat jauh tertinggal dengan rekan-rekan anggota Sukrakasih yang memang sebagian besar dari trah dalang maupun trah seni. Namun yang membesarkan hati, bahwa beberapa kali ia ‘ketiban sampur’ oleh Sukrakasih untuk mayang. Yaitu pada 2012, dengan membawakan lakon Laire Srikandhi; tahun 2014, dengan lakon Sinta Ilang; dan pada 27 Mei 2016 menggelar lakon Banjaran Antareja.

Faizal mengakui bahwa pekerjaan yang dilakukan selama ini senantiasa bersinggungan dengan wayang dalam arti luas. Hal tersebut jauh dari gelar kesarjanaan pada disiplin ilmu Teknologi Pertanian bidang pengolahan pangan. Mungkin, panggilan hidupnya memang tidak pada Teknologi Pertanian yang diamini ayahnya. Tetapi sudah di-tanda-kan sejak kecil, sejak dirinya dikenalkan tokoh Batara Narada, dewa yang menjabat patih tetapi tetap jujur dan bersahaja. Dan tanda itu hanya simbah Sumirah Pawirorejo yang bisa membaca: Wah sesuk putuku iki dadi dalang......”

Naskah dan Foto: Herjaka HS

Ki Faizal Noor Singgih, foto: Herjaka HS
Ki Faizal Noor Singgih, foto: Herjaka HS
Ki Faizal Noor Singgih, foto: Herjaka HS
Ki Faizal Noor Singgih, foto: Herjaka HS
PROFIL