Kesetiaan Total Nyi Sri Muryani Terhadap Museum Ki Hadjar Dewantara

26 Feb 2016
Sudah selama 28 tahun, Nyi Sri Muryani mengabdi di Museum Dewantara Kirti Griya (DKG) Tamansiswa Yogyakarta. Selama itu pula, ia dengan setia merawat koleksi pribadi milik Ki Hadjar Dewantara, salah satu pahlawan nasional Indonesia di bidang pendidikan. Begitu pula ia dengan senang hati melayani pengunjung yang datang ke museum yang hendak melihat koleksi Ki Hadjar Dewantara atau yang berkunjung ke perpustakaan ini untuk membaca maupun mencari referensi. Hatinya sudah menyatu dengan peninggalan Ki Hadjar Dewantara, yang nama kecilnya RM Suwardi Suryaningrat, bangsawan dari Kadipaten Puro Pakualaman Yogyakarta. 
 
Menginjakkan kaki pertama kali di Museum DKG Tamansiswa, sebutan lain Museum Ki Hadjar Dewantara di tahun 1988,  Sri Muryani, tidak punya bayangan sama sekali akan bekerja di museum. “Kayaknya aku gak mungkin bekerja di museum,” pikirnya ketika itu. Tetapi lambat-laun pekerjaan itu dijalani pula dengan semangat dan tekun. Apalagi ketika itu ia masing lajang, sehingga ia bisa mencurahkan sepenuh hati terhadap pekerjaan di museum tokoh nasional tersebut. Tidak lupa ia selalu menimba ilmu dan pengalaman dari seniornya, yakni almarhum Ki Nayono, tokoh di Tamansiswa yang banyak berjasa di bidang permuseuman Yogyakarta dan Indonesia. 
 
Begitu diasah dengan pengalaman dan waktu, akhirnya menjadikan Nyi Sri Muryani, (yang menyandang tambahan nama Nyi, karena mengabdi di lingkungan Tamansiswa) menguasai dan paham betul tentang kisah dan koleksi Ki Hadjar Dewantara. Sekarang ini hatinya sudah tidak dapat dipisahkan lagi dengan Museum DKG Tamansiswa Yogyakarta. Itulah sebabnya, Nyi Sri Muryani, kelahiran tahun 1964 itu kemudian dipercayakan menjadi kepala Museum DKG sejak beberapa tahun yang lalu. Ia ditemani satu staf bernama Agus Purwanto. Walaupun menjadi kepala museum, tetapi tugas Nyi Sri Muryani bisa dikatakan “hangabehi” atau menyeluruh. Mulai dari ikut rapat di luar museum, menerima tamu, memandu pengunjung, membersihkan museum, merawat koleksi, hingga menemani pengunjung mencarikan buku perpustakaan yang dikehendaki. Tentu saja semua pekerjaan itu dilakukan dengan senang hati bersama teman kerja, Agus Purwanto. Bahkan membaca naskah-naskah Jawa dilakoni, agar terungkap isi buku yang memang banyak dikoleksi oleh Ki Hadjar Dewantara. 
 
Nyi Sri Muryani, yang telah memiliki 3 anak, dan cucu, sangat menguasai kisah tentang Ki Hadjar Dewantara sejak masa muda, di penjara, dibuang di Belanda, hingga masa-masa revolusi. Begitu pula setiap koleksi di museum ini, bisa detail dikisahkan olehnya kepada pengunjung. Tidak ayal jika ia menjadi nara sumber utama dalam kisah dan koleksi Ki Hadjar Dewantara di Museum DKG Tamansiswa Yogyakarta. 
 
Selama mengabdi di Museum DKG, tentu saja banyak kisah unik yang menyenangkan dan kadang menjengkelkan. Senangnya, jika bisa melayani pengunjung dengan baik. Pengunjung merasa puas dan respons sekali dengan apa yang disampaikan saat memandu. Begitu pula ketika pengunjung perpustakaan ingin mencari referensi buku yang dikehendaki dan Sri Muryani bisa mencarikan buku itu. Itulah yang sangat memuaskan hatinya. Namun, hatinya juga pernah merasa jengkel. Kejadiannya, suatu ketika pengunjung museum ramai, begitu pula pengunjung perpustakaan. Padahal saat itu, ia sedang sendirian, sementara temannya izin tidak masuk. Ia menjadi tidak maksimal melayani pengunjung, karena harus pontang-panting ke sana- ke mari.  
 
Nyi Sri Muryani berharap agar pengunjung bisa memanfaatkan museum dan perpustakaan DKG Tamansiswa dan merasa nyaman. Itulah harapan sederhana dari seseorang yang selalu menjaga gawang Museum DKG Tamansiswa yang terletak di Jalan Tamansiswa 31 Yogyakarta ini. 
 
Naskah dan foto: Suwandi 
 
Kesetiaan Nyi Sri Muryani Terhadap Museum DKG Tamansiswa Yogyakarta, sumber foto: Suwandi/Tembi
Kesetiaan Nyi Sri Muryani Terhadap Museum DKG Tamansiswa Yogyakarta, sumber foto: Suwandi/Tembi
Kesetiaan Nyi Sri Muryani Terhadap Museum DKG Tamansiswa Yogyakarta, sumber foto: Suwandi/Tembi
Kesetiaan Nyi Sri Muryani Terhadap Museum DKG Tamansiswa Yogyakarta, sumber foto: Suwandi/Tembi
PROFIL