Hardi: Sang Presiden di Antara Para Presiden

19 Aug 2016

Sekitar pertengahan 2000-an, saya pernah melihat sebuah gambar yang terpampang di tangga rumah seorang sastrawan yang kebetulan saya kenal secara pribadi. Gambar itu terbingkai menempel di dinding di dekat rak berisi ribuan buku sekaligus ruang kerja sang sastrawan. Saat itu, saya tidak mengerti apa istimewanya gambar tersebut sampai-sampai sang sastrawan memajangnya di sana.

Keistimewaan itu terkuak ketika saya tahu bahwa gambar itu ternyata karya cetak-saring perupa Hardi yang dipamerkan dalam pameran seni rupa baru di Taman Ismail Marzuki pada 1979. Karya itu menjadi istimewa karena merupakan kritik terhadap otoritarianisme Orde Baru: Hardi menampilkan dirinya dalam pakaian presiden ala Soekarno dengan tajuk “Presiden RI Tahun 2001” dengan latar berwarna biru muda.

Hardi sempat ditangkap intelijen militer saat itu. Penangkapan ini melambungkan namanya karena dianggap berani dan tak melulu mengejar estetika belaka. Kala itu, Hardi dianggap melakukan tugasnya sebagai seniman dalam wacana pemberontakan.

Hardi saat itu adalah pelukis muda berusia 27 tahun. Tahun ini ia berusia 65 tahun. Subjek kritiknya saat itu, Presiden Soeharto, telah lengser dalam gelombang Reformasi 1998. Juga telah meninggal dunia beberapa tahun silam. Tahun 2001 yang digambarkan Hardi dalam karya pop art-nya itu pun telah berlalu 15 tahun lalu.

Kini Hardi tak lagi hanya memainkan perannya sebagai pelukis. Dia juga merancang corak kain dan juga keris. Di sela-sela itu, ia muncul di televisi dalam kapasitasnya sebagai budayawan. Juga dalam demonstrasi-demonstrasi antikorupsi.

KP Hardi Danuwijoyo lahir di Blitar, 26 Mei 1951, dengan nama lengkap R Suhardi Adimaryono. Seorang guru bernama Sutedja Neka yang kelak dikenal sebagai kolektor, adalah pembeli pertama lukisan Hardi saat sang seniman masih berusia 19 tahun.

“Pak Sutedja Neka membeli sekaligus tiga buah karya potret saya. Waktu itu saya sedang berkelana di Bali menunggu masuk ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta. Total saya menerima Rp60.000, cukup untuk hidup selama enam bulan di sana,” ujar Hardi.

Hardi adalah pelukis yang terdidik, atau, pelukis yang membangun karier kesenimanan melalui jenjang akademi. Sejak mulai melukis di Bali pada 1970, ia belajar di ASRI Yogyakarta (1971-1974), dan mendapat kesempatan menimba ilmu di De Jan Van Eyck Academie di Maastricht, Belanda, pada 1975-1977.

Pada 1975, Hardi mendapatkan perhatian pertamanya sebagai seniman yang mencetuskan gerakan yang disebut dengan Seni Rupa Baru Indonesia. Salah satu cirinya adalah melakukan cetak-saring sebagai media seninya. Beban baru dengan gerakan itu adalah julukan Hardi sebagai “Bapak Seni Rupa Baru Indonesia.”

Pengalaman adalah yang membawa Hardi sampai pada posisinya saat ini. Di dekade 1970-an, ia telah berpameran bersama maestro seperti S Sudjono dan Nashar. Hingga saat ini, ia telah menampilkan karyanya dalam 21 pameran tunggal.

Hardi adalah contoh seniman yang menganggap organisasi politik adalah bagian penting yang harus dipertimbangkan dalam upaya mempertahankan eksistensi kesenimanan. Meski ia mengaku memulai karirnya tanpa uang, ia terlibat dalam beberapa organisasi yang melibatkan politisi seperti Kwik Kian Gie dan pengamat politik Sukardi Rinakit saat mendirikan Pernasindo.

Pameran terbarunya yang bertajuk “Seni Politik Humanisme” di Bentara Budaya Jakarta, Kamis, 11 Agustus 2016, bahkan disponsori oleh lembaga pendukung Presiden Joko Widodo, Projo. Dalam pembukaan pamerannya ini, ayah tiga anak ini melontarkan gurauan politik tentang Soekarno, BJ Habibie, dan Joko Widodo.

Sekalipun Hardi mengaku memulai kepelukisannya tanpa uang, stabilitas ekonomi tampaknya sudah diakuinya. Dalam nada guraunya, ia mengaku memiliki dua rumah sebagai seniman yang tumbuh dalam lingkungan yang menganggap menjadi pelukis bukanlah masa depan yang menjanjikan.

Apa pesan Hardi untuk pelukis muda agar bertahan dari gempuran kemiskinan? “Saya tidak kaya, tapi rumah saya dua. Semua dari lukisan. Makanya, untuk pelukis-pelukis muda, saran saya mereka harus shalat, kalau beragama Kristen ya ke gereja,” gurau Hardi diikuti tawa hadirin yang hadir dalam pembukaan pamerannya tunggalnya di Bentara Budaya Jakarta.

Naskah dan foto: Ervin Kumbang

PROFIL