Eka Ardhana, Penyair dan Wartawan

27 Apr 2016

Namanya Sutirman Eka Ardhana, biasa dipanggil Eka, atau anak-anak muda menyebutnya Pak Eka. Sebelum menjadi wartawan, Eka aktif bergulat di Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi, tahun 1970-an. Tak heran jika jiwa penyairnya tak bisa hilang dari dalam dirinya.

Pada 1974-1986 Eka bekerja di harian Berita Nasional, Yogya, yang sekarang menjadi Bernas. Eka, salah satunya mengasuh rubrik ‘Renas’ kependekan dari Remaja Nasional, satu rubrik sastra  bagi remaja pada masa itu, dan sekaligus dia menjadi wartawan di harian itu. Pada tahun 1986-1989 Eka pindah di harian Kedaulatan Rakyat, dan pada tahun 1989-1992 dia bergabung dengan harian Yogya Pos.

Selain menulis berita dia masih rajin menulis puisi, bahkan novel. Oleh karena itu, predikat penyair dan wartawan melekat pada diri Eka. Kini, Eka tak lagi terikat pada satu media harian, sehingga dunia kepenyairan lebih leluasa kembali dia geluti. Ia menjadi redaktur Majalah Kebudayaan ‘Sabana’, yang didirikan para alumni Persada Studi Klub (PSK).

Eka lahir di Bengkalis, Riau 27 September 1952. Semasa masih muda dan produktif menulis puisi dia pernah menerbitkan antologi puisi, salah satunya berjudul ‘Emas Kawin’ dan beberapa novel, salah satunya berjudul ‘Cinta Lama Balik Kembali’.

Sebagai penyair beberapa kali dia tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Bahkan setiap kali diminta untuk mengirim puisi untuk diterbitkan menjadi antologi puisi bersama, Eka selalu menjawab: ‘Siap!’ dan dalam waktu yang tidak terlalu lama,  puisi karyanya dikirim melalui emil.

Beberapa puisinya yang masuk dalam antologi bersama dan di-launching di acara Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya, ada dalam judul ‘Jalan Remang Kesaksian (2015), dan karyanya yang lain masuk di antologi puisi ‘Parangtritis’ (2014), dan antologi puisi 175 Penyair dari Negeri Poci berjudul ‘Negeri Laut’.

Semasa aktif di Persada Studi Klub, sampai tahun 1980-an, Eka sering tampil membaca puisi. Bahkan Eka pernah menggabungkan antara membaca puisi dengan magic, salah satunya pada saat Eka membaca puisi di Gedung, yang dulu dikenal sebagai Seni Sono, dalam membaca puisi di kepala Eka ada api menyala. Sambil terus membaca puisi, api di kepala Eka masih terus menyala.

Sampai sekarang, Eka masih sering membaca puisi di beberapa tempat di Yogya, tetapi tidak lagi dikaitkan dengan magic. Eka membaca dengan penuh sahaja, bahkan seringkali dia tidak melepaskan tasnya. Dalam banyak acara sastra di Yogya, Eka selalu dengan senang hati menyumbangkan puisinya untuk dibaca, bahkan tidak harus dibacakannya sendiri.

Antara penyair dan wartawan, dalam diri Sutirman Eka Ardhana seperti sudah menyatu. Keduanya saling mengisi dan menguatkan. Namun hari-hari ini Eka lebih suntuk kembali ke dunia sastra. Puisi dan novel kembali dia ciptakan, juga cerpen.

Tampaknya, dunia sastra tak bisa jauh dari kehidupan Sutirman Eka Ardhana.

Ons Untoro

Sutirman Eka Ardhana penyair dan wartawan beberapakali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya, foto: facebook  Eka
PROFIL