PROTES SOSIAL DI INDONESIA

30 Apr 2012 / Tag: BERITA BUDAYA

Klangenan

PROTES SOSIAL DI INDONESIA

PROTES SOSIAL DI INDONESIA

Protes sosial yang terus marak di negeri kita, bukanlah kegiatan baru. Sudah sejak lama kita mengenal protes sosial, hanya saja bentuknya berbeda-beda. Pada jaman modern, peranan kelompok terpelajar termasuk tinggi. Kelompok ini yang memiliki inisiatif untuk melakukan protes terhadap kekuasaan yang korup, otoriter, tidak adil, diskriminatif dan seterunya. Pada jaman pergerakan era Soekarno dan Mohamad Hatta, protes terhadap penguasa kolonial dilakukan oleh kelompok terpelajar, yang tak lain adalah mahasiswa. Munculnya berbagai macam organisasi merupakan bentuk dari protes sosial itu. Organisasi berdasarkan kedaerahan, seperti Jong jawa, Jong Sumatra dan lainnya, menunjukkan kesadaran protes meluas dikalangan terpelajar.

Kalau kita melihat perubahan yang terjadi di Indonesia, sejak kemerdekaan RI diproklamirkan sampai 1998, peranan kelompok terpelajar cukup dominan. Masing2 kelompok terpelajar, di daerah2 memiliki organisasi dan masing-masing saling berkaitan, serta bersentuhan dengan organisasi pekerja, seperti kelompok buruh dan lainnya. Pertumbuhan kelompok terpelajar ini dalam setiap periode memiliki karakter yang berbeda, tetapi apa yang dilawan hampir sama, yakini kekuasaan yang represif. Issue yang diangkat bisa macam2 seperti korupsi, kolusi, nepotisme, ketidakadilan, diskriminasi, kenaikan harga BBM dan seterusnya.

Protes sosial antara kelompok terpelajar dari 66 sampai 1998, sama-sama melawan rezim yang represif dan korup. Meski polanya berbeda, tetapi setiap angkatan tidak terlepas dari spirit kelompok terpelajar. Artinya, setiap angkatan ada benang merah yang menghubungkannya.

Hal saya sebut di atas adalah protes sosial yang dilakukan oleh kelompok terpelajar di jaman modern, yang mana pendidikan telah memberi sentuhan pada aktivitas mereka. Kelompok protes dari kaum terpelajar, sampai sekarang menyisakan persoalan yang sama, ialah ada anggota kelompok, atau hanya ‘penumpang’ yang kemudian masuk di tengah ‘circle’ kekuasaan dan lupa atas apa yang diperjuangkannya. Malah melakukan apa yang ketika itu dilawannya. Diprotesnya.

Bandit: Protes sosial pada masa lalu.

PROTES SOSIAL DI INDONESIA

Sesungguhnya kita mempunyai kisah protes sosial yang dilakukan oleh kelompok sosial masyarakat pada jaman kolonial, dan tidak diidentifikasi sebagai kelompok terpelajar, melainkan dikenal atau distabilo sebagai Bandit. Pada masa itu, bandit-bandit dalam varian nama yang beragam seperti Brandal, Kecu, Gedor dan lainnya, yang masing-masing memiliki tingkatan berbeda serta mempunyai pemimpin, yang disebutnya sebagai Benggol.

Para Bandit ini, terutama pemimpinya untuk menjaga kewibawaan memiliki ilmu kebal, agar tubuhnya bisa tahan dari hantaman benda-benda tajam. Pemimpin Bandit yang memiliki ilmu kekebalan ini, selain memiliki wibawa mempunyai anak buah yang setia dan bersedia menjalankan kegiatan perbanditan.

Orang Jawa tahu, ilmu kebal didapat dengan tidak mudah. Harus dijalani dengan laku, misalnya puasa beberapa hari dan mendatangi tempat-tempat keramat. Namun orang Jawa juga tahu, ilmu kebal tidak selamanya kebal, karena ada apesnya. Atau ada kelemahann, misalnya kena sabet daun kelor atau daun pepeaya misalnya, kekebalannya akan hilang. Jadi, sebenarnya kekebalannya dalam satu situasi rapuh, atau kalau dalam bahasa Jawa disebut ringkih.

Saya kira, apa yang dituliskan oleh Julianto Ibrahim, seorang sejarawan dari Fakultas Ilmu Budaya UGM pada buku berjudul ‘Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan’ yang merupakan tesis S2 di Pasca Sarjana UGM, bisa memberi gamabaran mengenai perbanditan di Jawa masa lalu. Saya kutipkan sedikit apa yang dia tuliskan.

“Dalam revolusi di Indonesia, para bandit dari dunia hitam memanfaatkan situasi kacau untuk kepentingannya. Pergolakan revolusi sosial di Surakarta dimanfaatkan oleh para bandit untuk menggedor, menjarah dan mencuri harta milik Pamongpraja, orang-orang kaya dan orang-orang Cina. Apabila badan-badan perjuangan menggerakan revolusi sosial untuk melenyapkan swapraja Surakarta, maka para bandit memanfaatkannya untuk mengambil paksa harta kraton yang dianggapnya telah melakukan eksploitasi pada masa-masa sebelumnya. Oleh karena itu, penggedoran, penjarahan, dan pencurian yang dilakukan oleh para bandit merupakan bagian dari protes sosial atas eksplotasi yang pernah mereka alami.”

Protes sosial kini dan Bandit model baru

Protes sosial tidak lenyap. Malah menemukan formula yang, seolah lebih modern, tetapi tidak bisa dilepaskan dari primodialisme, yang menyangkut kadaerahan atau agama. Kelompok-kelompok sosial yang menggunanakan nama-nama agama dan kedaerahan, seringkali melakukan protes, atau bahkan ikut membuat situasi kacau. Atau juga kelompok sosial tersebut digunakan oleh kekuasaan melakukan konflik horizontal, untuk mengalihkan agar konflik sosialnya tidak mengarah pada kalangan elit, sehingga menjadi konflik vertikal. Kelompok-kelompok protes sosial dari kalangan terpelajar, seringkali dihadapkan dengan kelompok sosial yang menggunakan nama-nama daerah atau agama. Kelompok yang seolah membela agama.

Kelompok sosial seperti itu tidak melakukan penjarahan, penggarongan seperti apa yang dilakukan bandit pada masa lalu, tetapi acapkali melakukan pemerasan dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan bandit, misalnya mengatasnamakan agama atau kedaerahan agar tidak timbul kekacauan.

Rasanya, kita bisa melihat munculnya bandit model baru yang juga memiliki pemimpin, tetapi tidak disebut benggol. Namun, perilakunya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bandit pada masa lalu. Ilmu kekebalan yang dimiliki berbeda dengan bandit yang harus menjalani ritus puasa. Tetapi bandit model baru, ilmu kekebalannya berupa memiliki beking orang kuat, atau bahkan memegang kekuasaan. Ilmu kekebalan seperti ini tidak rapuh seperti ilmu kekebalan yang dimiliki bandit, yang bisa hilang karena disabet daun kelor. Bandit model baru, ilmu kekebalannya terkadang harus dicari formula hukumnya untuk melemahkannya, dan itupun tidak mudah untuk melumpuhkannya.

PROTES SOSIAL DI INDONESIA

Jadi, model-model protes sosial yang dilakukan oleh kelompok masyarakat, sesungguhnya mempunyai ‘sambungan sejarah’ dengan protes sosial pada masa lalu.

Ons Untoro

Foto-foto diambil dari google

BERITA BUDAYA Jakarta