PERANAN MUSEUM DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NASIONAL

04 May 2011 / Tag: BERITA BUDAYA

PERANAN MUSEUM DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NASIONALMuseum di Indonesia hingga saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakatnya, termasuk oleh para pelajar. Hal ini sangat berbeda sekali dengan warga Amerika yang memandang museum sebagai salah satu sumberdaya penting untuk pendidikan anak-anak dan sumber informasi yang terpercaya. Menurut Lord dan Lord (2001), museum yang baik akan menyajikan pamerannya agar dapat menjadi bahan perenungan (contemplation), memahami suatu pengetahuan (comprehension), menemukan pengalaman dan pengetahuan (discovery), dan berinteraksi langsung (interaction) dengan benda dan informasi yang disajikan. Demikian antara lain paparan yang disampaikan oleh Dr. Daud Aris Tanudirjo, Dosen Arkeologi FIB, UGM, dalam acara Seminar Nasional bertema “Peranan Museum dalPERANAN MUSEUM DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NASIONALam Penyelenggaraan Pendidikan Nasional”, yang diselenggarakan oleh Museum Pendidikan Indonesia (MPI) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Rabu, 27 April lalu di kampus Karangmalang, Yogyakarta.

Lebih lanjut Daud dalam makalahnya yang berjudul “Museum sebagai Sarana Pendidikan” mengatakan bahwa museum harus selalu berbenah diri agar lebih disenangi oleh pengunjung. Tampilan koleksi yang interaktif di museum sangat penting sebagai sarana belajar ketrampilan (learn to do). Selain itu museum juga harus berfungsi untuk belajar mengetahui (learn to know), mengajarkan masalah kepribadian (learn to be), dan mengajarkan kesadaran hidup bersama (learn to livePERANAN MUSEUM DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NASIONAL togenther). Museum merupakan tempat unik dan berbeda dengan sekolah, karena di museum mampu memberikan suasana menyenangkan kepada pengunjung, serta bisa melihat langsung koleksi benda-benda asli (dua atau tiga dimensi).

Sementara itu, menurut pembicara kedua, Drs. Budiharjo, M.M., dari Direktorat Museum Jakarta, dengan makalah berjudul “Museum sebagai Sumber Belajar-Mengajar”, mengatakan bahwa sistem pembelajaran di museum bisa bersifat didaktik, interpretatif, dan emansipatoris. Pembelajaran didaktik diperoleh saat pengunjung bergerak dari sajian yang satu ke sajian yang lain sambil membaca label atau mengikuti pemandu. APERANAN MUSEUM DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NASIONALkhir kunjungan diperoleh pengetahuan menyeluruh tentang yang dilihatnya. Pembelajaran interpretatif diperoleh dengan cara pengembangan label yang bisa merangsang pengunjung untuk berpikir tentang makna simbolisme dari informasi faktual atas artefak yang dipamerkan. Sementara pembelajaran emansipatoris diperoleh saat ada pengunjung (mahasiswa, peneliti atau lainnya) yang mengikuti kuliah lapangan untuk memahami obyek, historis, refleksinya di masa kini.

MenuPERANAN MUSEUM DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NASIONALrut pembicara ketiga, Ir. Yuwono Sri Suwito, Budayawan Yogyakarta, dalam makalahnya berjudul “Museum sebagai Pusat Budaya dan Pusat Sumber Belajar” mengatakan, museum juga sudah jamak menjadi salah satu obyek daya tarik wisata di bidang budaya. Di tempat inilah, museum bisa menjadi tempat pendidikan, penelitian, pelestarian, dan menjadi pusat budaya. Selain itu, museum diharapkan dapat menjadi sumber belajar bagi pengunjung, baik dengan cara melakukan sesuatu dengan self teaching maupun pengunjung dapat melakukan sesuatu yang akan memberi nilai pengalaman (experience oriented holiday). Di museum, sebaiknya pengunjung tidak hanya bisa melihat koleksi (something to see), tetapi bisa melakukan sesuatu (something to do) dan membeli sesuatu yang dapat menjadi kenang-kenangan (somePERANAN MUSEUM DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NASIONALthing to buy).

Seminar Nasional Museum dibuka oleh Prof. Dr. Nurfina Aznam, SU., Apt, Pembantu Rektor I UNY. Dalam sambutannya, Prof. Nurfina berharap agar dengan adanya acara semacam ini, museum lebih diminati dan dicintai oleh generasi muda, sekaligus generasi muda bisa menambah koleksi dan merawat koleksi-koleksi yang telah ada. Selain itu, dengan adanya acara seminar ini bisa memotivasi UNY untuk lebih mengembangkan museum pendidikan. Kebetulan Museum Pendidikan di UNY ini merupakan museum pendidikan yang pertama di Indonesia. Pada acara ini dihadiri sekitar 75 peserta, termasuk dari beberapa pengelola museum di Yogyakarta, pengurus Barahmus DIY, dan mahasiswa.

 

 

Suwandi

BERITA BUDAYA Jakarta