Peluncuran Kronjot Babi Karya Kamerad Kanjeng di Benteng Vredeburg

21 Jan 2014 / Tag: BERITA BUDAYA

Berita Budaya

Peluncuran Kronjot Babi Karya Kamerad Kanjeng
di Benteng Vredeburg

Kronjot Babi merupakan kumpulan cerpen pertama dari Kamerad Kanjeng. Sebelumnya ia pernah menulis naskah teater yang berjudul ‘Sepatu Nomor Satu’ tetapi ketika hendak dipentaskan tidak mendapat izin dari kepolisian.

Dhenok Kristianti membacakan cerpen berjudul “Cagak Aniem’ karya Kamerad Kanjeng di Beteng Vredeburg, foto: Tegoeh
Dhenok Kristianti

Satu kumpulan cerpen berjudul ‘Kronjot Babi’ karya Kamerad Kanjeng, Sabtu malam 18 Janauari 2014, di-launching di Indisce Koffie, Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Sebelum Faruk Tripoli, pengajar di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM, membahas cerpen tersebut, Dhenok Kristianti membacakan salah satu cerpen yang berjudul ‘Cagak Aniem’.

Rupanya, selain dikenal sebagai penyair dan guru, Dhenok Kristianti memiliki kemampuan membaca cerpen yang cukup bagus. Ia tampil dengan sungguh-sungguh, sehingga cerpen karya Kamerad Kanjeng terasa hidup ketika dibacakan.

Dhenok tampil mengenakan pakaian keseharian, tetapi penampilannya mampu membuka imajinasi. Cerpen berjudul ‘Cagak Aniem” ia bacakan dengan penuh ekspresi. Gerak tangan, dan perubahan mimik muka adalah upaya Dhenok menunjukkan ekspresinya.

Diskusi menghadirkan pembahas tunggal Prof Dr Faruk Tripoli, dan bertindak sebagai moderator Joko Pinurbo, penyair. Kamerad Kanjeng, yang nama sebenarnya Agus Istianto, hadir dan duduk diantara Faruk dan Jokpin, panggilan Joko Pinurbo.

Bagi Faruk membaca dua judul cerpen ‘Kronjot Babi’ dan ‘Cagak Aniem’ dia mendapat kesan realism dalam kisah cerpen karya Kamerad Kanjeng sangat kuat. Realisme sendiri, demikian Faruk, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu realisme sebagai cara pandang terhadap dunia dan realisme sebagai cara bercerita.

Prof. Dr. Faruh Tripoli, pembahasa didanmping, Joko Pinurbo, moderator dan Karemad Kanjeng, penulis cerpen, foto: Tegoeh
Faruk Tripoli, Joko Pinurbo dan Kamerad Kanjeng

“Yang pertama adalah cara memandang dunia atau kehidupan dengan menggunakan indera dan logika, sedangkan yang kedua adalah cara bercerita dengan menonjolkan segala yang bersifat partikular, khas, di sini dan kini, serta segala hubungan yang bersifat logis,” kata Faruk Tripoli.

Menurut Faruk, kronjot babi maupun cagak aniem tidak sekadar fakta empirik yang terindera, melainkan juga fakta maknawi yang melampaui batas inderawi. Bagi tokoh cerita masing-masing, yang pertama adalah semacam simbol dari rasa terima kasih tokoh pada babi- babi yang pernah menyelamatkan mereka dari kemiskinan sehingga perlu untuk “dikeramatkan”.

“Sedangkan yang kedua menganggap cagak aniem sebagai jembatan yang dapat mempertemukan seorang perempuan dengan calon suaminya sehingga benda itu juga diperlakukan dengan cara yang sama keramatnya dengan yang pertama,” ujar Faruk.

Kronjot Babi merupakan kumpulan cerpen pertama dari Kamerad Kanjeng. Sebelumnya ia pernah menulis naskah teater yang berjudul ‘Sepatu Nomor Satu’ tetapi ketika hendak dipentaskan tidak mendapat izin dari kepolisian. Selain aktifitas kesenian, Kamerad Kanjeng aktif di LSM dan pernah menjadi konsultan politk di DPR pusat.

Kamerad Kanjeng memang menuliskan kisahnya secara sederhana dan tidak berbelit, meski terkadang ditemukan faktor, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘serba ndilalah’, tetapi tidak mengurangi makna dari peristiwa dalam cerpen. Membaca karyanya, kita seperti menemukan ‘kisah-kisah aktual’ yang bisa dilihat dalam persoalan keseharian, dan bisa menimbulkan romantisme masa lalu, setidaknya seperi cerpen berjudul “Cagak Aniem’.

Karena cerpennya ditulis dengan mengalir, kita akan membaca dengan enak, bahkan seperti tidak mau berhenti, apalagi cerpennya tidak terlalu panjang, sehingga membutuhkan waktu tidak lama untuk membacanya.

Cober buku kumpulan cerpen ‘Kronjot Babi” karya Kamerad Kanjeng, foto Tegoeh
Cover buku

“Saya senang dengan cerpen Kamerad Kanjeng, karena ditulis dengan sederhana dan tidak berpretensi absurditas seperti saya sering menemukan banyak cerpen yang dimuat di media,” kata Joko Pinurbo.

Ons Untoro
foto: Tegoeh

BERITA BUDAYA Jakarta