PASAR TIBAN DI UGM

04 Sep 2007 / Tag: BERITA BUDAYA

KABAR ANYAR

PASAR TIBAN DI UGM

Jika dicermati Kota Yogyakarta selalu bertambah jumlah penduduknya. Pendatang yang semula ke Yogyakarta hanya untuk urusan melanjutkan pendidikan kemudian kerasan dan tidak mau kembali lagi ke daerah asalnya. Barangkali hal semacam ini menjadi gejala umum bagi kota-kota besar lainnya.

Akibat dari itu semua jumlah perumahan terus bertambah. Jumlah kendaraan juga terus bertambah. Tingkat kesibukan juga terus meningkat. Ruang-ruang terbuka terus menyempit. Ruang publik banyak tergusur demi kepentingan yang dianggap lebih bernilai ekonomis-bisnis. Akibat selanjutnya yaitu semakin banyak orang merasa sumpek, pengab, dan hidup dalam himpitan. Ruang-ruang publik yang dapat digunakan untuk saling berinteraksi, melegakan napas, untuk berolah raga, atau sekadar berjalan-jalan semakin dibutuhkan.

Lapangan, jalanan, kebun, tegalan, dan seterusnya tanpa disadari telah menjadi ruang-ruang publik yang sering digunakan orang untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas. Akan tetapi lapangan, jalanan, kebun, tegalan, dan seterusnya itu juga telah banyak yang disulap menjadi pemukiman, tempat jualan, pertokoan, dan seterusnya.

Jalan atau tepatnya gang di Kampus UGM pun tidak luput dari sasaran orang-orang yang merasa sumpeg itu. Gang-gang di UGM yang dulu terkenal teduh tenang itu sering digunakan untuk berlari pagi, senam, atau jalan-jalan pagi. Tetapi kini gang-gang itu juga sering diserbu pedagang asongan, lebih-lebih jika hari libur (Minggu). Alhasil, orang-orang yang akan jalan-jalan santai, lari pagi pun terhambat karenanya. Sepeda motor dan mobil ikut menyita ruang di jalan atau gang-gang tersebut dengan berparkir diri. Alhasil jalan atau gang-gang di UGM yang dijuluki Kampus Biru itu menjadi pasar tiban yang tumpah ruah, bising, penuh polutan, dan semrawut.

Barangkali hal demikian tidak lagi dipikirkan orang. Mereka tidak peduli karena orang seperti dipaksa atau terpaksa terus berburu uang, uang, dan uang. Di mana ada peluang untuk bisnis di situlah orang berjubelan berebut lahan. Seolah-olah hidup orang Indonesia itu hanya untuk bisnis (jualan, cari untung, dan uang, titik).

Udara yang semestinya bersih di wilayah-wilayah tersebut menjadi kotor oleh asap dan debu. Lapangan UGM memang masih tersisa yakni di sisi selatan Gedung Graha Sabha Pramana. Akan tetapi lapangan ini jelas tidak selapang dulu lagi, Tidak lagi sesejuk dulu lagi Karen adulu di kiri kanan lapangan itu ada kebun yang ditumbuhi banyak pohon besar.

Oleh karena itu jangan pernah berharap untuk sekadar jalan-jalan santai, lari pagi dengan nyaman di gang-gang atau jalan-jalan di lingkungan Kampus UGM. Lebih-lebih di hari libur. Pada hari itu gang atau jalan-jalan di lingkungan Kampus UGM dijamin penuh orang berbisnis (jualan) dan bermotor-motoran atau bermobil-mobilan. Barangkali memang banyak keuntungan (material) yang bisa diperoleh dari kegiatan semacam itu. Banyak pihak yang memang merasa diuntungkan. Mungkin memang tidak salah. Hanya sayang, kompleks kampus yang semestinya menjadi tempat yang tenang dan menyenangkan untuk urusan pendidikan itu justru sering berubah menjadi pasar tiban. Tentu dengan sampah berserakan sesudah pasar tiban tersebut bubar.

Barangkali hidup kita memang hanya berorientasi pada uang sehingga berjualan semacam itu seolah menjadi orientasi pintas (dan bahkan utama) bagi mata pencaharian kita. Sehingga kita tidak peduli apa-apa lagi selain jualan, jadi bakul, dan dapat uang.

Redaksi Tembi

BERITA BUDAYA Jakarta