MONOLOG PUTU WIJAYA KAKEK, CUCU, DAN KEMERDEKAAN

22 Oct 2011 / Tag: BERITA BUDAYA

MONOLOG PUTU WIJAYA "KAKEK, CUCU, DAN KEMERDEKAAN"

MONOLOG PUTU WIJAYA "KAKEK, CUCU, DAN KEMERDEKAAN"“Apakah kita sudah merdeka Kek ?” Demikian pertanyaan seorang Cucu kepada kakeknya. Kakek tersebut menjawab bahwa kita sudah merdeka, seperti apa yang dibacakan Soekarno-Hatta dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia serta pengibaran bendera merah putih.

“Kalau sudah merdeka mengapa saudara-saudara kita di Maluku, Papua, Aceh, menangis, menderita ? Mengapa masih banyak orang miskin ¿ ”

Sang kakek menjawab,”Mengapa kamu berkata demikian ¿. Dari mana kamu memperoleh semuanya itu ¿”

“Dari koran, dari buku, dari televisi, facebook, email, SMS.”

Dari sinilah monolog yang dibawakan Putu Wijaya, seorang sastrawan kawakan, berhasil menyedot perhatian semua peserta Konferensi Nasional Jaringan Antar Iman dengan tema “Agama-agama untuk Keadilan dan Perdamaian di Negara Republik Indonesia yang berlangsung di UC UGM, 15/10/2011. Ruangan besar dengan isi sekitar 300-an orang itu terdiam. Mereka berusaha menyimak kata demi kata yang diluncurkan Putu Wijaya yang membawakan monolognya yang relatif panjang namun tanpa panduan teks sama sekali.

Ini monolog yang luar biasa. Putu mampu menghadirkan sebuah narasi yang relatif panjang dengan stamina yang nyaris tanpa cacat. Artikulasinya nyaris tidak ada yang meleset. Pelafalan huruf, kata-kata, dan kalimatnya bebas dari keseleo lidah. Kecuali itu, dengan sangat MONOLOG PUTU WIJAYA "KAKEK, CUCU, DAN KEMERDEKAAN"piawai ia mampu menghidupkan semua unsur-unsur kebahasaan yang diartikulasikannya dengan baik. Tidak ada kata-kata atau kalimat yang “mati” atau “tersesat” dalam lalu lintas luncuran kata-kata dan kalimat yang membangun keseluruhan cerita yang dibawakannya.

Penguasaan Putu Wijaya atas isi cerita yang dibawakannya tentu saja menjadi modal utamanya, dan itu barangkali memang telah menjadi salah satu keahliannya. Ketika keseluruhan isi cerita telah dikuasai bersama dengan struktur dan alurnya, maka ia tinggal menarasikannya sesuai dengan arsitektur kebahasaan yang telah disusunnya secara saksama pada saat cerita tersebut diproses dan diformulasikan sedemikian rupa sehingga membentuk keutuhan cerita yang padu.

Kemampuan atau keahlian Putu Wijaya dalam memainkan aparatus kebahasaan dan kesastraan menjadi semakin lengkap pula ketika karya sastranya itu diungkapkannya dalam gaya monolog yang juga sarat dengan perangkat atau sarana yang dia usung dari jagad teater. Blocking, gesture, moving, ekspresi wajah, intonasi, artikulasi, daya tahan atau stamina yang kuat, dan segala gerak tubuhnya demikian menyatu dengan cerita yang dibawakannya.

“Orang yang merdeka adalah orang yang bisa mengatakan TIDAK. Orang yang merdeka adalah orang yang BINGUNG. Orang merdeka adalah mereka yang bisa MENANGIS.” Demikian salah satu penggalan kalimat monolognya. Dengan mengatakan tidak pada sesuatu yang tidak disukai, yang tidak sesuai dengan perasaan dan pikiran, artinya itu merdeka. Bingung adalah merdeka. Sebab dengan bingung orang mencari jalan keluar, mencari jawabnya. Menangis adalah merdeka. MONOLOG PUTU WIJAYA "KAKEK, CUCU, DAN KEMERDEKAAN"Dengan menangis orang bisa mengungkapkan ekspresi hatinya.

Dalam cerita disebutkan bahwa Sang Kakek ingat masa lalunya. Masa ketika berjuang menegakkan bendera merah putih dengan bambu runcing bersama kawan-kawannya. Ribuan kawan-kawannya gugur. Hanya Sang Kakek yang hidup dengan bambu runcingnya. Dalam perjuangan itu belum pernah sekalipun bambu runcing Kakek digunakannya untuk membunuh musuh. Bahkan melukai pun tidak. Namun ia pahlawan juga. Ketika ia melihat teman masa mudanya yang lain menjadi pejabat di Jakarta ia marah karena ia tahu bahwa kawan-kawannya yang lain itu pengkhianat yang seharusnya masuk penjara atau bahkan sebaiknya dihukum mati. Dengan mengenakan baju batik (karena hanya baju batik yang dianggap sah dan formal untuk menghadap pejabat) Kakek berangkat ke Jakarta. Ia mamu protes. Namun begitu sampai Jakarta ia ditangkap dan dipenjarakan karena intel telah tahu apa kehendaknya. Ia dipenjara tanpa diadili selama 25 tahun. Setelah itu ia dikeluarkan begitu saja.

Mengetahui hal yang demikian Cucu dari Kakek itu menyatakan kalau begitu kita belum merdeka. Kakek tidak bisa menjawab segera. Kakek menjawab dalam ambiguitas. Jawaban yang tidak menjawab. Kalau Cucu belum paham juga Kakek akan mengirimkan Sang Cucu pada Institut DIAN/Interfidei. Cerita berakhir dalam ending yang ringan dan terasa guyon belaka, sekalipun keseluruhan isi ceritanya sarat filosofi tentang kemerdekaan. Tentang kebebasan hidup (terutama di Indonesia). Usainya monolog Putu Wijaya seperti menghentakkan kesadaran seluruh peserta Konferensi Nasional Jaringan Antar Iman “Agama-agama untuk Keadilan dan Perdamaian di Negara Republik Indonesia “ untuk kembali kepada kesadarannya. Bahwa beberapa saat yang lalu mereka telah diajak “terbang” menjelajahi cerita yang dibawakan Putu Wijaya.

 

a.sartono

BERITA BUDAYA Jakarta