Membaca Puisi Membasuh Hati Di Tembi

09 Feb 2012 / Tag: BERITA BUDAYA

KABAR ANYAR

Membaca Puisi Membasuh Hati Di Tembi

Membaca Puisi Membasuh Hati Di TembiPenyair-penyair yang mulai menulis puisi tahun 1990-an, dan tampil membacakan karya-karyanya dalam ‘Sastra Bulan Purnama edisi 5 di Tembi Rumah Budaya, Selasa malam (7/2) dengan tajuk ‘Membaca Puisi Membasuh Hati’ terasa heroik, karena puisi-puisinya kebanyakan, menggugat keadaan yang tidak menyenangkan. Kondisi sosial yang timpang. Penyair-penyair ini, seperti tidak tahan melihat keadaan yang ‘menghimpit’ rakyat dan mereka berseru melalui puisi.

Puisi, bukan hanya milik penyair, atau milik kaum tua, tetapi anak-anak muda, tidak asing terhadap puisi. Membuka ‘Sastra Bulan Purnama’ seoarang pembaca muda, Fitri Handayani, juara 2 lomba baca puisi, tampil mengawali dengan satu puisi karya penyair Iman Budi Santoso. Penuh ekspresi dan performance yang meyakinkan, Fitri membaca kata demi kata dari puisi yang dibacakannya.

Membaca Puisi Membasuh Hati Di TembiAnthony Harimurti, membacakan puisinya yang berjudul ‘Kepada Angkatan Kemudian’ dengan ‘gugatan-gugatan’ terhadap keadaan. Anthony seperti sedang marah. Ia seperti menyuarakan penderitaan orang lain, atau mungkin malah penderitaan dirinya. Bait pertama pada puisinya telah menunjuk secara tegas ‘gugatan’ itu:

“Aku mengigau dimasa suram berkepanjangan
Saat kebahagiaan jadi tak pasti
Kecemasan menjalar hari ke hari
Di negri koyak-moyak ini”

Odi Shalahuddin, tak mau kalah dari Anthony, ia lebih heroik lagi, hanya penampilannya tidak ‘seheroik’ Anthony. Melalui puisi yang berjudul “Namaku Rakyat’ Odi berteriak, dalam suara yang serak, tetapi tak mengurangi kemantapan. Odi, seperti sedang membela rakyat, entah rakyat yang mana. Yang pasti, Odi resah terhadap kekuasaan yang tidak memiliki kepedulian pada rakyat. Membaca Puisi Membasuh Hati Di TembiMaka, diakhir puisinya Odi berteriak lantang:

“Menjadi gelombang yang mampu meluluh-lantakkan kekuasaan kalian”

Sastra bulan purnama, sejak diselenggaeakan Oktober tahun lalu, tidak pernah sepi dari kehadiran pecinta sastra. Meski hujan lebat, seperti sastra bulan purnama bulan Januari 2012 lalu, tidak mengurangi pecinta sastra untuk bersama membaca puisi.

Pada edisi 5 Sastra Bulan Purnama, yang jatuh pada 7 Februari, menampilkan 11 penyair muda, yang mulai menulis tahun 1990-an, 3 diantaranya berhalangan hadir. Pada petunjukkan ini, ada pentas musik dari teater Dokumen, mahasiswa2 Universita Widya Mataram. Selain itu, Wahyana Giri MC, tampil membacakan puisianya dengan diiringi gamelan. Giri, demikian panggilannya, seperi sedang ‘mempertunjukkan’ kemampuan Membaca Puisi Membasuh Hati Di Tembikeaktorannya dengan membacakan puisi karyanya.

Tidak ketinggalan, penyair Yogya yang sekarang tinggal di Bekasi, Sudarmana, tampil dengan membacakan puisi-puisi buruhnya. Karena di Bekasi, Sudarmana ‘tidak absen’ dalam demonstrasi buruh dan pengalamannya itu ia rekam melalui puisi. Sudarmana, dengan puisinya seperti sedang ‘memperjuangkan’ hak-hak buruh yang diabaikan.

R. Toto Sugiharto, tidak ketinggalan dengan penyait lainnya, meski tidak gegap gempita, tetapi tetap tidak lepas dari gugatan.

Syam Chandra Manthiek, dengan penuh energik dan ekspresif mebacakan puisinya yang berjudul ‘Sungguh-sungguh Hendonesyah’. Setiap baris puisinya, tidak lepas dari kata ‘syah’, sehingga setiap dia membaca baris-baris puisinya, pada akhirnya diikuti oleh hadirin dengan mengucapkan kata ‘syah’.

Hanya puisi Yuliani Kumudaswari, dan dibacakan oleh Umi Kulsum, yang tidak menggugat keadaan negeri, tetapi bukan berarti tanpa ‘gugatan’. Agaknya, puisi Yuli lebih untuk ‘menggugat’ dirinya.

‘ditangisinya layanglayang yang terlepas
tibatiba saja ia mengerti, rupanya
layanglayang berpurapura tak suka terbang
ah, ia memang bodoh’

Ah, Yuli, sayang kamu tidak hadir. Tapi Umi Kulsum, membaca dengan penuh pesona.

Ons Untoro

Foto2 mengunduh dari facebook

BERITA BUDAYA Jakarta