MELIHAT KARAKTER MANUSIA MELALUI WAYANG

04 Jun 2007 / Tag: BERITA BUDAYA

KABAR ANYAR

MELIHAT KARAKTER MANUSIA MELALUI WAYANG

Kesenian wayang mungkin hanya populer di Jawa, Sunda, Bali, dan Lombok. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa jenis kesenian ini juga dikenal di seluruh bagian Indonesia dan bahkan di dunia lain. Jenis kesenian ini menampilkan sekian banyak karakter tokoh.

Jika disimak, maka hampir semua karakter atau watak manusia bisa terwakili oleh tokoh-tokoh wayang. Baik itu tokoh baik (putih), jahat (hitam), atau antara keduanya (abu-abu). Bahkan di dalam wayang juga ada gambaran manusia yang menderita sakit jiwa, urakan, ugal-ugalan, cengengesan, peragu, pengecut, licik, kaku, lucu, abnormal, tampan, cantik, jelek, kurus, gemuk, langsing, pendek, tinggi, dan sebagainya. Hampir semua wujud fisik dan gambaran psikologis manusia bisa diwakili oleh dunia wayang.

Jika kita cermat mendalami dunia wayang, maka barngkali kita juga mengindentifikasi diri kita sendiri, kira-kira menyerupai siapakah watak kita itu. Barangkali secara lahiriah kita bisa menolak bahwa kita tidak bersesuaian dengan tokoh jahat, licik, dan serakah seperti Patih Sangkuni atau Prabu Dasamuka. Akan tetapi hati terdalam kitalah yang akan menilai itu.

Barangkali kita menolak jika fisik kita akan dikatakan seperti Limbuk, Cangik, Bagong, atau Petruk. Namun barangkali juga kita juga tidak bisa menampik penilaian dari lubuk hati kita sendiri.

Satu hal yang menarik untuk dikaji adalah proses penemuan yang dilakukan oleh pujangga atau seniman zaman dulu dalam menggambarkan karakter-karakter manusia melalui karyanya itu. Bagaimana ia bisa menggambarkan manusia yang demikian jahat, licik, ambisius, hedonis, dan materalistik seperti Patih Sengkuni misalnya. Bagaimana ia bisa menggambarkan wanita yang maniak seks seperti Dewi Sarpakenaka yang berpoliandri itu. Bagaimana ia bisa menggambarkan karakter manusia yang cekatan, bijaksana, dan taktis seperti Prabu Kresna. Bagaimana ia bisa menemukan dan menggambarkan karakter manusia yang sangat takut berbuat dosa, selalu mengalah, tidak mau menyakiti dan merugikan seperti Prabu Yudistira. Bagaimana ia bisa menemukan dan menggambarkan karakter manusia yang urakan, nakal, mbeling, namun jujur dan konsekuen seperti Raden Wisanggeni dan Raden Antasena.

Bagaimana pula seniman wayang bisa menggambarkan karakter manusia yang mendua, yang sesungguhnya tidak ke kiri atau ke kanan. Tidak ke putih dan juga tidak ke hitam seperti Prabu Basukarna atau Raden Kumbakarna.

Tokoh setengah gila, tokoh dunia hantu, dunia dewa dengan peringkat dan jabatannya pun bisa digambarkan oleh seniman wayang dengan begitu memikat dan bernilai abadi. Kini kita tinggal menikmatinya tanpa pernah tahu bagaimana seniman itu berproses dan menemukan formulanya itu. Baik formula fisik wayangnya, maupun kitab-kitab yang menjadi sumber ceritanya.

Wayang tidak bisa dipungkiri adalah gambaran hidup dan watak manusia itu sendiri. Anda bisa mengenali watak diri sendiri dan orang lain dengan menikmati dan mempelajari wayang. Barangkali dengan demikian Anda akan semakin menemukan kearifan dan kebijaksanaan hidup. Coba saja.

Redaksi

BERITA BUDAYA Jakarta