ADA JEMEK, ADA PANTOMIM

19 Jul 2011 / Tag: BERITA BUDAYA

ADA JEMEK, ADA PANTOMIMMenyebut seni pantomin ingat Jemek. Atau tak ada Jemek tanpa pantomim. Keduanya seperti tidak bisa dipisahkan. Jemek tak bisa dipisahkan dari pantomin dan pantomime tidak bisa jauh dari Jemek. Jemek dan Pantomim seperti sisi lain dari mata uang yang sama.

Nama lengkapnya Jemek Supardi. Tapi sering dipanggil Jemek, atau lebih dikenal dengan panggilan Jemek. Seniman Yogya tak ada yang tidak mengenal Jemek. Dalam banyak acara kesenian, kalau dia tidak tampil bermain pantomim, Jemek hadir untuk melihatnya. Karena itu, mudah menemukan Jemek di acara-acara kesenian.

Kini Jemek Supardi berusia 58 tahun, tetapi seperti masih kelihatan muda. Sampai hari ini, Jemek tidak pernah absen dari Pantomim. Sejak 30 tahun yang lalu, dunia akting, khususnya wilayah pantomim dia huni dan sedikitpun tidak bergeming dari tempat itu. Banyak karya pantomin sudah dia ciptakan dan mainkan. Pertama kali mencipta karya dan dia mainkan sendiri tahun 1980 dengan judul ‘Halusinasi’. Sejak itu, dia seperti ‘menemukan dunianya’ dan karena itu, dia semakin merasakan ‘enjoy’ dan tidak mau meninggalkannya.

Pada mulanya, setidaknya seperti pemahaman selama ini, pertunjukkan harus dilakukan di dalam gedung, menggunakan setting, property dan tata lampu. Jemek, bertahun-tahun menjalankan apa yang menjadi konvensi dalam pertunjukkan: ia banyak pentas di dalam gedung.

Namun perkembangan berikutnya, ditengah mADA JEMEK, ADA PANTOMIMelepuhnya yang disebut ruang dan perkembangan perspektif publik mengenai ruang, banyak pementasan kesenian dilakukan tidak didalam gedung, melainkan di luar gedung, di ruang-ruang publik yang sudah tersedia. Tidak memerlukan property yang rumit. Jemek juga melakukan apa yang dilakukan oleh sejumlah seniman di ruang publik.

Ada perkembangan kesadaran dari Jemek, tentu karena ada ‘gesekan’ dari teman-temannya, bahwa pertunjukan kesenian tidak harus di gedung, tetapi bisa menggunakan ruang-ruang publik yang sudah ada. Jemek pernah bermain pantomin di kuburan, di jalan-jalan, di sungai, di tempat sampah dan lainnya. Pendek kata, ruang pertunjukkan bagi Jemek tidak harus di ruang tertutup berupa gedung.

“Saya pernah main pantomin di Kapal jalur Yogya-Palu. Bukan saya sedang ditanggap, tetapi saya melihat penumpang kapal kelihatan jenuh dan saya ingin menghibur para penumpang. Ternyata, melihat permainan pantomim saya, mereka senang” kata Jemek Supardi.

Itulah Jemek Supardi, yang memanfaatkan geladak kapal sebagai ruang pertunjukkan untuk menghibur penumpang agar tidak jenuh. Selain di kapal, Jemek pernah berpantomin di kereta api, berpindah dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Motifnya sama seperti ketika main di kapal: untuk menghibur.

“PerADA JEMEK, ADA PANTOMIMtama kali saya melakukan pentas seperti itu dikiranya ngamen, tetapi ketika orang-orang mengerti saya tidak meminta uang, akhirnya tahu, bahwa saya tidak sedang mengamen” ujar Jemek Supardi.

Bagi Jemek, mengambil pantomim adalah pilihan, karena itu dia tidak pernah menyesali apa yang telah menjadi pilihannya, bahkan dia menikmatinya, meski dia tahu, pantomim adalah ‘dunia yang sepi’.

“Saya memang telah memilih bermain pantomim sebagai profesi saya, maka saya dengan sungguh-sungguh menjalankannya” kata Jemek Supardi.

Barangkali, Jemek adalah satu-satunya, bukan salah satu, seniman yang sampai sekarang, sejak 30 tahun yang lalu tidak meninggalkan pantomim. Jemek seperti mempunyai slogan ‘sekali pantomim tetap dan terus pantomim’

Ada pentas pantomim, disitu ada Jemek. Karena itu, ada Jemek, ada Pantomim.

 

Ons Untoro

BERITA BUDAYA Jakarta