TONGSENG DAN SATE KELINCI PAK YANTO

08 Mar 2010 / Tag: KULINER

Makan yuk ..!

TONGSENG DAN SATE KELINCI 'PAK YANTO'

Di Bantul mudah sekali ditemukan warung makan yang menyediakan menu tongseng dan sate kambing. Di pinggir jalan maupun masuk jalan dusun, yang namanya sate dan tongseng kambing bisa dengan mudah dituju. Namun, kalau tongseng dan sate kelinci mungkin hanya ada satu tempat. Letaknya di jalan Badegan, sebelah timur Rumah Sakit Panembahan Senapati, jalan lintas arah menuju Manding. Kalau dari Bantul Kota, atau Pasar Bantul, jalan lurus ke selatan sampai perempatan Gose belok ke kiri (timur). Dari sini jalan lurus menuju wilayah Badegan.

“Saya sudah 9 tahun menjual tongseng dan sate kelinci. Mungkin, ini hanya satu-satunya sate kelinci yang ada di Bantul” kata pak Yanto.

Nama warungnya, ditulis ‘Pak Yanto, tongseng dan sate kelinci’. Lokasinya di tepi jalan besar Badegan, sehingga mudah sekali untuk dicari. Kondisi warungnya sederhana, khas warung makan di desa umumnya. Buka setiap hari mulai jam 11 siang sampai jam 9 malam. Atau kadang, seperti dituturkan pak Yanto, bisa jam 10 malam.

Setiap hari, sekitar 7 ekor kelinci dihabiskan. Ini artinya, warung ‘Pak Yanto’ telah memiliki pelanggan. Yang menarik, dagingnya selalu segar. Pagi, biasnya hanya memotong 2 ekor kelinci untuk mengawali buka warungnya. Pemotongan berikutnya, kalau dua ekor yang dipotong sudah habis.

“Seringkali saya memotong saat ada pembeli datang memesan, sehingga daging kelincinya masih segar” ujar pak Yanto.

Apakah sulit mencari kelinci?

Menurut pak Yanto, susah-susah gampang. Karena kelinci berbeda dengan ayam, selain ada ayam kampung, tersedia juga ayam potong. Kelinci memang khusus, dan harus dicari kelinci lokal, kalau kelinci bukan lokal harganya mahal, sehingga susah untuk menjulnya kembali.

Rasa dagingnya memang kenyil-kenyil. Empuk dan tidak alot. Rasa sate dan tongseng cukup nendang dan mengundang untuk kembali datang ke warung ‘Pak Yanto’. Memesan 1 porsi sate dan 1 porsi tongseng termasuk nasi dan segelas minuman, hanya membayar Rp 21.000,-. Artinya, satu porsi tongseng atau sate, sudah termasuk dengan nasi hanya memerlukan uang Rp. 10.000,- suatu harga yang murah, mengingat daging kelinci tidak mudah ditemukan dibanyak tempat.

Pak Yanto sendiri yang memasak tongseng dan membakar satenya. Rupanya, pak Yanto memang memiliki ‘keahlian’ memasak dan kelinci adalah bahan yang dia konsumsikan untuk pelanggan. Rasanya, pak Yanto bisa melihat celah. Karena, di Bantul ada banyak sate dan tongseng kambing, dia tidak mau mengikuti menjual hal seperti itu. Perlu sesuatu yang lain, maka kelinci menjadi pilihan untuk dipotong.

Dan tampaknya, hanya pada ‘Pak Yanto’ orang yang ingin makan daging kelinci di Bantul. Kalau ditempat lain, mungkin masih ada, misalnya diperempatan Gedongkuning, Yogyakarta ada warung yang menyediakan ‘Sate Kelinci’.

Anggap saja, sate dan tongseng kelinci ‘Pak Yanto’ merupakan pilihan lain dari kebanyakan sate dan tongseng kambing yang mendominasi Bantul.

Ons Untoro

KULINER Jakarta