Ndas Manyung Khas Pantura Ada di Bantul

31 Jan 2015

Kepala manyung yang diunggulkan di warung ini diolah sebagai mangut. Jika di Yogya yang terkenal adalah mangut lele, di pesisir utara Jawa yang kondang adalah mangut kepala manyung. Ada berbagai ukuran kepala yang ditawarkan, tentu dengan harga yang berbeda-beda yang dibagi menjadi Rp 20.000, Rp 25.000, Rp 30.000, dan Rp 40.000.

Ndas manyung, kepala manyung, kepala ikan manyung, kuliner pesisir
Mangut kepala ikan manyung dalam kuah santan

Mungkin tidak banyak orang yang mengenal nama ikan manyung. Padahal ikan ini sangat populer di daerah pesisir Jawa Tengah. Jika belum pernah mendengar nama ikan ini, maka warung ‘Ndas Manyung’ di seberang Stadion Sultan Agung, Pacar, Timbulharjo, Bantul, mungkin hanya dianggap sebagai nama warung. Ternyata ndas manyung atau kepala ikan manyung merupakan menu andalan warung ini.

Kepala manyung yang diunggulkan di warung ini diolah sebagai mangut. Jika di Yogya yang terkenal adalah mangut lele, di pesisir utara Jawa yang kondang adalah mangut kepala manyung. Ada berbagai ukuran kepala yang ditawarkan, tentu dengan harga yang berbeda-beda yang dibagi menjadi Rp 20.000, Rp 25.000, Rp 30.000, dan Rp 40.000. Karena ukuran terkecil habis,Tembi memesan kepala ikan manyung seharga Rp 25.000, serta badan ikan manyung yang juga diolah sebagai mangut.

Kepala ikan manyung dihidangkan dalam kuah santan berwarna kuning. Sejumlah cabai hijau dan irisan bawang goreng mengambang di atas kuah. Ternyata tidak hanya kepala, tapi sebagian badan ikut sehingga ukurannya cukup panjang, sekitar 30 cm. Porsi satunya berisi ‘mangut ikan asap’, yakni badan ikan manyung, dengan ukuran lebih kecil. Dua potong tahu putih menemani. Disantap dengan nasi satu “cething” amatlah mengenyangkan.

Ndas manyung, kepala manyung, kepala ikan manyung, kuliner pesisir
Mangut ikan asap, yang terdiri dari badan ikan manyung

Sebagaimana lazimnya menyantap kepala ikan, dibutuhkan ketelatenan untuk menguak tulang dan duri ikan untuk mengambil dagingnya. Jumlah dagingnya cukup banyak sehingga menyantapnya cukup mengasyikkan. Tekstur dagingnya lembut. Rasa amis tidak lagi terasa, apalagi jika dikunyah bersama kuah santan yang gurih, sambil “nglethus” lombok ijo yang pedas. Terasa ada sensasi tersendiri.

Warung ‘Ndas Manyung’ ini milik pasangan suami istri, Muhyin (40 tahun) dan Ani Ulika (40 tahun). Kisah awalnya bermula dari hobi Ani menyantap menu kepala manyung. Di daerahnya di Pati, Jawa Tengah, menu ini sangat populer. Kepala manyung memang menu khas Pantura yang termasuk primadona, apalagi di Juwana, yang masih termasuk wilayah Pati. Ani kerap berburu kepala manyung di berbagai tempat. Ia juga sering memasak menu ini di rumahnya.

Maka ketika pada awal tahun 2014 Ani membuka warung kepala manyung di Bantul sebenarnya hanya perpanjangan dari hobinya selama ini. Nama warungnya sesuai dengan menu andalannya, ‘Ndas Manyung’.

Ndas manyung, kepala manyung, kepala ikan manyung, kuliner pesisir
Dua porsi ikan manyung asap, dan satu cething nasi, menanti disantap

Sebenarnya bersama suaminya, sudah 7 tahun ini Ani tinggal di Yogya. Muhyin yang berasal dari Lampung adalah pengusaha rumah kayu. Ia membangun rumah kayu artistik di berbagai tempat, dari Bali sampai Yogya. Salah satunya di seberang Stadion Pacar, Bantul. Setelah lama menjadi rumah contoh, akhirnya terpikir untuk membuat usaha kuliner di bangunan kayu ini. Awalnya Ani berjualan bakwan, bakmi dan ronde. Tidak begitu sukses, akhirnya terpikir untuk memilih menu khas daerahnya. Jatuhlah pilihan terhadap kepala ikan manyung.

Setahun membuka usaha, warung ini masih belum banyak dikenal. Sebagian besar pembelinya adalah orang-orang pesisir, seperti dari Tegal, Semarang dan Rembang. Termasuk orang-orang Pati yang berdomisili di Yogya, yang tergabung dalam Kompayo (Komunitas Pati di Yogyakarta). Di Yogya, nama ikan manyung tidak populer. Bahkan nama warung ‘Ndas Manyung’ bisa jadi dikira hanya nama warung, bukan makanan.

Toh menurut Ani, tamu yang telah mengecap kepala manyung biasanya datang kembali. Mereka tidak semata kembali karena rasanya, tapi juga kerena keasyikan “membongkar kepala ikan” dan “menyesep” isinya. Dalam sehari, menurut Ani, warung ini rata-rata menjual 25 porsi kepala manyung. Belum termasuk porsi menu lain.

Ikan manyung di warung ini dipesan langsung dari Pati. Oleh supliernya, ikan-ikan ini sudah diasapi. Jadi Ani tinggal memberinya bumbu, yang diistilahkannya sebagai bumbu lengkap, yang mencakup bawang, cabe, laos, sere, salam, dan sebagainya. Dengan bumbu lengkap ini, aroma amisnya hilang. Ikan ini kemudian direndam di dalam kuah santan.

Ndas manyung, kepala manyung, kepala ikan manyung, kuliner pesisir
Pak Muchyin dan bu Ani, pemilik warung makan ‘Ndas Manyung’

Selain diolah sebagai mangut, ikan manyung juga ditawarkan dalam menu olahan lain. Yakni disantap bersama terong dan sambal santan. Selain itu, ikan manyung bisa pula disantap bersama sayur bening dan sambal terasi. “Sayur beningnya pakai kunci. Ikan manyungnya dipenyet di sambel terasi mentah. Wah, enak sekali,” ujar Ani dengan ekspresif memancing rasa penasaran.

Olahan manyung yang juga menggoda adalah pepes telur manyung yang dibandrol Rp 10 ribu. Tapi menu ini hanya bisa dinikmati pada Sabtu dan Minggu. Menu khas Pati lainnya adalah sate kambing. Kekhasannya, kata Ani, terletak pada sambalnya, yang terdiri dari cabe ulek, jeruk nipis, merica, dan kecap khas buatan Pati.

Warung ‘Ndas Manyung’ buka setiap hari antara pukul 11.00 – 23.00. Jam tutupnya lebih malam daripada lazimnya karena menurut Ani, banyak tamu dari luar Bantul yang datang pada malam hari. Ada yang dari Sleman, malah dari Magelang. Untungnya, keluarga Ani bersama stafnya tinggal di warung ini, yang terletak persis di seberang utara Stadion Pacar, Timbulharjo, Bantul.

Mungkin warung ini satu-satunya di Yogya yang menjual menu ikan manyung. Kehadirannya menggembirakan karena menyemarakkan keragaman kuliner nusantara di Yogya.

Makan yuk ..!

Naskah dan foto: Barata

KULINER