Salah Satu Pramuka Itu Menjadi Juara Sesorah karena Tembi

06 Jun 2014

Pramuka-pramuka kecil ini memang sengaja diajak ke Tembi supaya pengetahuan mereka semakin lengkap. Bukan hanya soal belajar sandi, baris-berbaris, keterampilan, survival, pengenalan terhadap alam, namun juga belajar kebudayaan yang tidak kalah pentingnya untuk mengisi jiwa mereka.

Pramuka SD Canden Jetis Bantul mengamati proses pembuatan topeng kayu di Tembi, difoto: Sabtu, 3 Mei 2014, foto: a.sartono
Pramuka SD Canden Jetis Bantul mengamati 
proses pembuatan topeng kayu

“Pak, dengan gembira saya beritahukan bahwa salah satu anak didik saya di Jetis, Bantul keluar sebagai juara kedua dalam acara lomba sesorah (pidato) berbahasa Jawa se Kabupaten Bantul. Terima kasih karena isi buku Bapak yang diterbitkan Tembi saya cuplik-cuplik untuk bahan pembuatan sesorah tersebut. Terima kasih, karena ternyata banyak gunanya.”

Demikian pengakuan Akadiyanto, seorang pembina Pramuka di beberapa sekolah (SD) di Kabupaten Bantul yang saat itu mengantarkan pramuka dari SD Canden Jetis Bantul kepada pemandu Tembi. Akadiyanto juga masih ingat bahwa pemandu Tembi pernah melatih lagu Hymne Pramuka kepada murid-muridnya yang saat itu ia sendiri merasa belum menguasai untuk mengajarkannya

Akadiyanto (mengenakan peci hitam) mengantar anak didiknya belajar budaya di Tembi, difoto: Sabtu, 3 Mei 2014, foto: a.sartono
Akadiyanto (mengenakan peci hitam) mengantar 
anak didiknya belajar budaya di Tembi

Pengakuan tersebut tentu membesarkan hati Tembi dan tidak boleh menjadikan Tembi menjadi sombong, terlena, terlebih lagi, narsis. Namun setidaknya hal itu menjadi salah satu tanda kecil yang tidak bisa diingkari bahwa keberadaan Tembi memang memiliki guna atau fungsi positif bagi orang lain, khususnya fungsi nilai budaya.

Kali itu, 3 Mei 2014 Akadiyanto kembali menggiring puluhan murid pramukanya ke Tembi untuk mengenal dan belajar budaya. Di bawah bimbingannya anak-anak tersebut bisa berlaku tertib. Datang dengan berbaris, pulang pun dengan berbaris dulu. Berkunjung dan berkeliling pun dengan tertib. Mereka pun menanyakan segala sesuatu kepada pemandu dengan tertib pula tanpa kehilangan keceriaan dan kemeriahan khas sifat kanak-kanak mereka.

Pemandu Tembi (baju batik) menerangkan tentang wayang golek, difoto: Sabtu, 3 Mei 2014, foto: a.sartono
Pemandu Tembi (baju batik) menerangkan tentang wayang golek

Proses pembuatan topeng kayu yang dilakukan live di Tembi menjadi salah satu titik minat mereka. Cukup lama mereka mengamatinya. Demikian pun koleksi museum Tembi dicermati dengan baik. Tidak ada yang terlewat dari perhatian mata atau pandangan mereka. Bagi mereka semuanya menarik dan menimbulkan keingin-tahuan yang besar.

Senthong bagi mereka merupakan sesuatu yang dianggap aneh, angker, dan demikian asing. Mereka tidak punya referensi sama sekali tentang senthong alias kamar dalam sistem pembagian ruang dalam rumah Jawa. Kulkas kuno juga menjadi perhatian besar mereka. Lebih-lebih setelah diberitahu kulkas tersebut tidak menggunakan daya listrik maupun baterai.

“Lho, olehe adhem saka ngendi yo ?” (Lho, hawa dinginnya dari mana ya ?) 
“Dari es balok yang dibeli pabrik es di kota,” jawab pemandu. 
“Oooo…” seru mereka serentak.

Kulkas kuno koleksi yang membuat penasaran para pramuka cilik, difoto: Sabtu, 3 Mei 2014, foto: a.sartono
Kulkas kuno koleksi yang membuat penasaran para pramuka cilik

Pramuka-pramuka kecil ini memang sengaja diajak ke Tembi supaya pengetahuan mereka semakin lengkap. Bukan hanya soal belajar sandi, baris-berbaris, keterampilan, survival, pengenalan terhadap alam, namun juga belajar kebudayaan yang tidak kalah pentingnya untuk mengisi jiwa mereka. Memelihara rasa dan budi mereka. Oleh karena itu mereka datang ke Tembi pada jam-jam yang sebenarnya memang merupakan jam latihan pramuka di sekolah mereka yakni pada kisaran jam 14.00-16.00 WIB. Demikian penjelasan Akadiyanto.

Naskah dan foto: A.Sartono

EDUKASI