Karangan, Makanan Khas Bantul nan Sangat Langka

23 Apr 2016

Karangan adalah kuliner lokal yang mungkin hanya bisa ditemukan di Pasar Turi, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul dan Pasar Ngangkruksari, Parangtritis, Kretek, Bantul. Ini merupakan jenis kuliner yang bisa dibilang langka, karena tidak di setiap pasar tradisional jenis makanan ini bisa ditemukan. Di pasar tradisional saja sulit ditemukan, apalagi di restoran atau warung makan. Di Pasar Turi pun Karangan hanya bisa ditemukan di hari pasaran tersebut, yakni pada pasaran Pahing.

Untuk menuju lokasi Pasar Turi dari Yogyakarta, penghobi kuliner bisa mengambil ancar-ancar dari Pojok Beteng Wetan kemudian masuk ke  Jl Parangtritis terus ke arah selatan hingga sampai di Perempatan Paker. Pada Perempatan Pakeri ini ambil ara ke kanan (barat) hingga menemukan Pertigaan Monumen/Tugu Pohon Pisang.  Pada pertigaan ini ambil arah ke kiri/selatan. Ikuti jalan ini hingga mentok. Di pentokan ujung jalan inilah Pasar Turi tersebut berada. Penjual makanan karangan berada di tengah-timur kompleks pasar.

Penjual makanan karangan di Pasar Turi ini hanya ada dua orang, yakni Ny Rukidem (64)  dan Ny Sudilah (64). Menurut mereka karangan adalah makanan yang terbuat dari rumput laut. Rumput laut kering sebagai bahan baku jenis makanan ini mula-mula direbus dengan air asam sambil diaduk-aduk. Setelah air rebusan dirasa cukup mengental (biasanya sekitar 1,5 jam perebusan) kemudian dituangkan dalam cetakan yang berupa tempurung kelapa. Air rebusan tersebut kemudian didiamkan supaya dingin dan semakin mengental/membeku. Usai itu karangan siap dilepaskan dari cetakan batoknya dan siap dikonsumsi atau dijual.

Makanan berserat tinggi dan sangat baik untuk pencernaan ini dijual sangat murah, yakni hanya Rp 500 per potong. Karangan ini berasa tawar. Untuk menikmatinya biasanya disertai dengan botok mlandingan/lamtoro, bisa juga disertai dengan kethak hitam. Karangan yang terbuat dari rumput laut ini memang identik dengan agar-agar. Namun karena diproses alamiah dan langsung dari rumput laut, maka tekstur rumput lautnya pun bisa dirasakan “kenyil-kenyil krenyes”. Untuk aromanya, memang khas rumput laut, ada sedikit bau amis. Tapi itu tidak masalah.

Bothok mlandingan yang cenderung gurih-pedas dan sedikit asin akan memberikan warna lain yang kuat pada rasa karangan yang tawar tersebut. Demikian pun kethak hitam yang dibuat dari kerak santan yang dicampur aneka bumbu. Umumnya Karangan ini memang disantap di pagi hari untuk sarapan. Namun cocok pula untuk disantap di siang  maupun malam hari.

Ny Rukidem sejak remaja sudah berjualan karangan. Berarti ia telah lebih dari 44 tahu berjualan karangan. Dulu ia menjualnya dengan cara dititipkan kepada orang lain. Untuk tiga kilogram rumput laut kering ia bisa menghasilkan sekitar 500 potong karangan. Jika 500 potong karangan ini laku semua, berarti ia bisa mengumpulkan uang sebanyak 500 x Rp 500 = Rp 250.000.  Padahal untuk tiga kilo rumput laut kering ia biasa membelinya dengan harga Rp 45.000.  Silakan hitung sendiri berapa keuntungan bersihnya.

Karangan adalah salah satu kekayaan kuliner khas Bantul, khususnya untuk wilayah Kretek dan Bambanglipuro. Nama makanan ini disebut karangan karena berasal dari rumput laut atau bahan yang menempel di batu-batu karang atau tumbuh di seputaran batu karang.

Naskah dan foto: a. sartono

Tampilan Karangan dengan sertaan Bothok Mlandhingan, difoto: Jumat, 22 April 2016, foto: a.sartono
Ny. Rukidem (64) dan Ny. Sudilah (64) dua penjual Karangan di Pasar Turi, Bantul, difoto: Jumat, 22 April 2016, foto: a.sartono
Suasana los penjual makanan di Pasar Turi, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul, difoto: Jumat, 22 April 2016, foto: a.sartono
Tampilan Karangan bersama Bothok Mlandhingan dan Kethak Hitam, difoto: Jumat, 22 April 2016, foto: a.sartono
Beginilah Karangan dijual dalam keadaan sesungguhnya, difoto: Jumat, 22 April 2016, foto: a.sartono
KULINER