Di Jakarta Namanya Kembang Tahu, di Yogya Namanya Wedang Tahu

10 May 2016

Wedang tahu di Yogyakarta dikenal juga dengan nama tahok di Solo. Sedangkan untuk Surabaya menamai jenis makanan ini dengan nama tahua sedangkan untuk Jakarta mengenalnya dengan nama kembang tahu. Semua penamaan itu mengacu pada jenis makanan yang sama.

Wedang tahu dibuat dari kedelai yang dihaluskan kemudian dimasak. Pengolahan atau pemasakan wedang tahu mirip dengan pengolahan tahu. Jadi, adonan kacang kedelai yang sudah lembut kemudian diberi pengental untuk mengentalkan adonan tersebut. Adonan ini berasa gurih alami karena memang berasal dari kacang kedelai yang dilembutkan. Banyak sumber menyatakan bahwa kedelai lokal merupakan bahan yang paling baik  untuk mendapatkan “bubur” wedang tahu yang berkualitas paling baik.

Makanan ini bukan asli Nusantara namun sudah dikenal lama di Nusantara. Wedang tahu dikenal sebagai makanan yang berasal dari China. Kedatangannya ke Nusantara seiring dengan masuknya para imigran dari China. Jenis makanan ini mula-mula lebih dikenal di wilayah pesisir sebagai daerah yang relatif terbuka dan menjadi pintu masuk berbagai pengaruh dari luar, termasuk jenis kuliner ini.

Dalam perkembangannya, jenis makanan ini juga dikenal di wilayah-wilayah pedalaman Nusantara seperti di Yogyakarta. Pos-pos penjualan wedang tahu di Yogyakarta setidaknya dikenali ada di lima tempat, yakni di kawasan Pasar Patuk, seputaran Hotel Jambu Luwuk, seputaran Mirota Godean, dan di Jl Pramuka, serta Jl Asem Gede (Kranggan) sisi barat Warung Makan Gudeg Bu Djuminten.

Ibu Suhardi (45) yang menjual wedang tahu di Jl Asem Gede (Kranggan), mengaku telah merintis penjualan makanan ini di kawasan itu sejak enam tahun yang lalu. Wedang tahu, kata dia, sangat bermanfaat untuk menguatkan tulang, mengusir masuk angin, pegal, linu, dan lelah. Wedang tahu juga baik dikonsumsi oleh ibu-ibu hamil karena dipercaya dapat membuat bayi yang dilahirkan berkulit bersih dan berambut tebal.

Rasa wedang tahu lembut, tawar-gurih, dan adem di perut. Namun kuahnya yang manis yang terbuat dari gula jawa dan gula putih yang direbus/dicairkan bersama jahe dan aneka rempah lain memberikan rasa yang cukup kontras dengan rasa buburnya. Kuah gula-jahe dan rempah lain memberikan rasa manis yang kuat dan hangat baik di rongga mulut, dada, maupun perut. Kombinasi ini menjadikan komposisinya demikian pas dan kompak.

Demikian pula dengan warnanya, yakni bubur yang putih dikombinasikan dengan warna kuahnya yang cokelat kuat. Aroma jahe dari kuah wedang jahe juga demikian kuat sehingga sangat merangsang indera penciuman yang kemudian merembet “membujuk” indera pencecap untuk segera mencicipinya.Wedang tahu sangat cocok disantap di pagi hari ketika udara masih terasa dingin, atau musim penghujan. Efek hangat jahe dan rempahnya akan mampu menjadi pengobat dari serangan hawa dingin.

Wedang tahu yang dijajakan Ibu Suhardi di Jl Asem Gede (Kranggan) mulai buka pukul 06.30 dan umumnya habis pada kisaran pukul 11.00 WIB pada hari biasa. Sedangkan untuk hari Minggu biasanya wedang tahu yang dijajakannya sudah habis pada kisaran pukul 09.30 WIB. Dalam sehari Ibu Suhardi mampu menjual wedang tahu sebanyak 90 porsi, dengan harga per porsi Rp 6.000.

Wedang tahu tidak tahan disimpan hingga lewat pukul 15.00 WIB karena tidak menggunakan bahan pengawet ataupun pewarna. Semuanya alami. Jadi memang baik untuk kesehatan.

Naskah dan foto: a. sartono

Ibu Suhardi (45) tengah sibuk melayani konsumen Wedang Tahu di gerainya, difoto; Rabu, 4 Mei 2016, foto: a.sartono
Beginilah tampilan bubur Wedang Tahu sebelum diberi kuah/kincau, difoto; Rabu, 4 Mei 2016, foto: a.sartono
Tampilan Wedang Tahu lengkap dengan kuah/kincaunya, difoto; Rabu, 4 Mei 2016, foto: a.sartono
Beginilah Gerai Wedang Tahu milik Ibu Suhardi di Jl. Asem Gede (Kranggan) dalam kesehariannya, difoto; Rabu, 4 Mei 2016, foto: a.sartono
KULINER