MBAH BREGAS DAN PENINGGALANNYA

22 Dec 2011

MBAH BREGAS DAN PENINGGALANNYAKeletakan

Makam Mbah Bregas secara administratif terletak di Dusun Ngino, Kalurahan Margaagung, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY. Jarak lokasi makam Mbah Bregas dengan Kota Yogyakarta kira-kira 25 kilometer pada arah utara-barat,

Kondisi Fisik

Makam Mbah Bregas telah diberi cungkup khusus. Kecuali itu makam Mbah Bregas juga ditandai dengan batu nisan yang terbuat dari marmer. Cungkup Mbah Bregas berada pada posisi paling timur-tengah kompleks makam di Dusun Ngino. Letak makam Mbah Bregas ini berada di sisi barat Dusun Ngino. Kecuali makam Mbah Bregas, di Dusun Ngino juga terdapat peninggalan lain yang berhubungan dengan kehidupan Mbah Bregas di masa MBAH BREGAS DAN PENINGGALANNYAlalu. Peninggalan-peninggalan tersebut di antaranya adalah Sendang, Pohon Beringin, Bekas Kunyahan Sirih, dan beberapa kebiasaan atau tradisi yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh warga setempat.

Nisan makam Mbah Bregas memiliki ukuran panjang sekitar 120 Cm, lebar 65 Cm, dan tinggi hingga kepala jirat sekitar 80 Cm. Cungkup makam berukuran sekitar 3 m x 3,5 m. Pintu cungkup menghadap ke arah selatan. Kompleks makam pun memiliki gerbang di bagian selatan.

Peninggalan Mbah Bregas berupa sendang yang diberi nama Sendang Planangan telah dibangun cukup bagus. Sendang ini telah dibuatkan bak penampungan air yang disekat menjadi dua bagian. Satu dipergunakan untuk kaum pria sedangkMBAH BREGAS DAN PENINGGALANNYAan bagian yang lain digunakan untuk wanita. Kedua bak penampungan berada dalam naungan bangunan tembok yang cukup rapat yang berfungsi sebagai kamar mandi dan cuci. Luas keseluruhan sendang kira-kira 3 m x 4 m. Kedalaman sendang sekitar 0,5 m.

Kecuali sendanng peninggalan Mbah Bregas yang lain adalah Pohon Beringin. Pohon Beringin ini bisa dikatakan berada di tengah Dusun Ngino. Pohon Beringin di tengah dusun ini menurut sumber setempat setidaknya telah digantikan sebanyak tiga kali. Pohon Beringin ini telah diberi pagar pengaman berupa pagar jeruji besi dengan pintu masuk di sisi selatan.

Ada pula peninggalan yang lain lagi berupa Bekas Kunyahan Sirih. Bekas Kunyahan Sirih ini sekarang juga telah diberi cungkup dan batu nisan. Cungkup ini memiliki pintu masuk di bagian utara-timur bangunan. Nisan dMBAH BREGAS DAN PENINGGALANNYAari peninggalan yang dimaksud berada di sisi barat utara cungkup. Nisan di tempat ini berada dalam naungan pohon beringin.

Latar Belakang

Berdsasarkan sumber setempat disebutkan bahwa Mbah Bregas merupakan tokoh yang berasal dari Jawa Timur. Tepatnya dari Kandangan, Trowulan, Mojokerto. Wilayah Trowulan dalam sejarah disebut-sebut sebagai pusat dari Keraton Majapahit. Jika demikian halnya dapat ditarik kesimpulan bahwa Mbah Bregas berasal dari tlatah Majapahit. Sangat mungkin ia merupakan tokoh keturunan langsung dari bangsawan-bangsawan atau bahkan raja Majapahit.

Disebutkan bahwa Mbah Bregas mengembara ke arah barat saat Majapahit dilanda perang dalam kurun waktu relMBAH BREGAS DAN PENINGGALANNYAatif panjang yang disebut sebagai Perang Paregreg (1404-1402). Berdasarkan hal itu ada yang menduga bahwa kemungkinan besar Mbah Bregas adalah punggawa salah satu punggawa Kerajaan Majapahit. Selain itu versi lain menduga bahwa ia adalah salah satu putra atau sentana raja. Pengembaraannya ke arah barat dilakukannya untuk mencari tempat yang lebih aman dan nyaman untuk melangsungkan kehidupan.

Versi lain lagi menyebutkan bahwa Mbah Bregas adalah salah satu putra Sunan Kalijaga ketika Sunan Kalijaga belum bergelar Sunan, yakni ketika ia masih menggunakan nama Raden Syahid. Versi ini menyebutkan bahwa Mbah Bregas adalah putra bungsu dari Raden Syahid. Sedangkan putra sulungnya dikenal dengan nama Mbah Mruwut. Putra kedua dari Raden Syahid dikenal dengan nama Mbah Siti Robiah.

MBAH BREGAS DAN PENINGGALANNYAKepergian Mbah Bregas ke arah barat ini akhirnya disusul ayahnya (Sunan Kalijaga). Ketika bertemu mereka berunding untuk dapat menyebarkan agama Islam. Mereka dapat bertemu di dusun yang dibuka Mbah Bregas yang kemudian dikenal dengan nama Dusun Ngino. Perundingan atau rembug itu sendiri dijalani oleh mereka sambil mengunyah sirih. Ketika mengunyah sirih inilah aktivitas mereka merasa terganggu oleh bunyi derit senggot (timba yang terbuat dari bambu). Oleh karena itu di Ngino muncul pantangan berkenaan dengan hal itu. Pantangan itu ialah siapa pun warga Ngino dilarang membuat timba dari senggot. Lain saat mereka kekurangan sirih dan ketika dicarikan di seluruh dusun mereka tidak mendapatkannya. Oleh karena itu muncul pantangan yang bunyinya warga Ngino dilarang menanam pohon sirih. Muncul pula anjuran agar setiap pengantin di Dusun Ngino agar melakukan kirab dengan memutari Pohon Beringin peninggalan Mbah Bregas-Sunan Kalijaga agar pengantin tersebut dapat menjalankan kehidupan rumah tangga dengan tenteram.

a.sartono

Jakarta